WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
MASIH POV RICKY


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA



“Lu gila. Inget istri. Kalau sampai bu Maya tahu kita bisa bahaya,” demikian temanku selalu memperingatiku.


“Kalau sampai bu Maya tahu, pasti elo sumber utamanya,” jawabku.


Suatu malam aku bisa merasakan lagi darah perawan membasahi bedilku. Pertahanan Nina bisa aku bobol. Dan sejak itu aku pulang ke rumah hari Minggu subuh atau Sabtu tengah malam karena malam minggu adalah malam special untukku dan Nina. Sedang aku datang ke rumahnya malam Sabtu sehingga kedua orang tuanya tak curiga.


Si-al entah darimana Dewi mengetahui perselingkuhanku. Dia datang kerumah Nina membuat ayah Nina mengusirku untuk tak pernah lagi memacari anaknya.


Tak masalah buatku. Karena aku tak pernah mencintai Nina. Aku hanya ingin keperawanannya saja. Cintaku masih utuh hanya milik Dewi tak pernah berbagi.


Sepulang dari rumah Nina aku bereskan kamarku dan kembali ke rumah. Aku yakin Maya akan langsung memindahkan aku ke cabang lain karena tak ingin nama CV miliknya rusak karena ulahku.


Dibantu mama, aku meminta kesempatan kedua pad Dewi. Dan dia memberikan aku kesempatan. Mungkin karena memikirkan kandungannya. Anak kedua kami saat itu berusia 2 bulan didalam perutnya.


Ternyata Maya malah memberikan surat PHK untukku. Bukan mutasi seperti yang aku duga.


Empat bulan tanpa kerja, akhirnya mas Bambang kakak iparnya Dewi memberikan pekerjaan sebagai administrasi gudang. Pekerjaan yang sanat ringan. Aku perbaiki semua hal tentang administrasi gudang sehingga tak butuh waktu banyak aku bisa diangkat menjadi kepala gudang.


Dewi pun tak lagi mengajar. Dia bekerja di perusahaan penjualan kaset belajar bahasa inggris menjadi marketing. Penghasilan kami berdua makin baik dan Dewi menjual motorku lalu uangnya dia tambah dengan uang tabungannya untuk membeli mobil second. Sekarang anak-anak tak lagi kehujanan  atau kepanasan bila ingin ke rumah eyang atau opa omanya.

__ADS_1


Satu tahun lalu di bagian gudang menrima beberapa pegawai baru. Salah satunya adalah Mona. Gadis Arab Betawi yang tinggal di Condet. Awalnya aku biasa saja. Aku ingat sudah diberi kesempatan kedua oleh Dewi. Aku tak mau lagi ketahuan lalu dia marah. Yang beda kota saja dia bisa tahu. Apalagi ini sesama Jakarta. Belum lagi mas Bambang kakak ipar Dewi adalah Branch Manager di kantorku.


Suatu sore pulang kerja, sejak tadi hujan deras tak henti. Aku lihat Mona belum bisa dapat ojek.


“Bareng saya aja yok. Saya di Kranggan, bisa lewat Condet koq,” karena kasihan aku tawari dia tumpangan. Ternyata dia sama polosnya dengan Dewi dan Nina. Dari ceritanya aku tahu dia anak tunggal dan tak boleh bergaul. Seharusnya juga tak boleh bekerja, hanya Mona melawan. Dia bilang bila sudah merasakan kerja satu tahun, dia mau dinikahkan dengan pilihan ayahnya.


“Lho kenapa kamu mau terima dijodohin?” tanyaku penasaran.


“Abah enggak mbolehin pacaran Pak. Dia bilang langsung nikah aja. Maka saya ajukan syarat, mau nikah kalau boleh ngerasain kerja. Buat pantes-pantes ama ijasah saya,” sahut Mona lugu.


Dua minggu kemudian aku bisa merasakan getar bibir perawan Mona di mobilku. Sejak itu aku selalu antar jemput dirinya dan kami making love pertama di sebuah hotel jam-jam an ketika istirahat siang.


Sejak pertama making love aku mengajak Mona dan Nina ke bidan untuk suntik KB sehingga tak takut mereka minta pertanggung jawabanku karena hamil. Di bidan aku mengaku sebagai suaminya dan kami menunda momongan.


Dan hari ini aku terpukul ketika tahu Dewi kembali hamil anakku. Aku yakin itu anakku karena Dewi tak pernah berbagi dengan siapa pun.


‘Aku akan melihat anak-anak sebelum sidang keputusan cerai,’ itu niatku tujuh bulan lalu ketika datang kerumah kami di Kranggan permai.


Aku cukup beberapa saat bermain dengan Fajar, dan Fajri tak ada karena dia masih ASI. Melihat Dewi dikamar sendirian aku mengancamnya untuk meladeniku dengan mangancam akan menyakiti Fajri bayi kami.


Aku ingat itu aku lakukan tujuh bulan lalu, satu bulan sebelum hakim mengetuk palu perceraian kami.


“Anak siapa itu?” ketus sekali mama mengucapkan itu pada Dewi. Aku seperti tertampar melihat dia memelototiku.

__ADS_1


“Yang pasti ini anak saya. Saya bukan tukang selingkuh seperti anak anda,” tak kalah ketus Dewi berkata pada mama dan dia berlalu meninggalkanku.


Enam bulan sudah aku bercerai dan aku belum berniat menjalin hubungan dengan siapa pun. Kalau soal kebutuhan, aku lepaskan dikandang bebas saja. Tak perlu pelihara kambing bila ingin makan tongseng!


Aku masih mencari jalan untuk bisa kembali pada Dewi. Tapi dari semua orang bijak yang aku tanya, mereka bilang sudah habis waktuku dengan Dewi. Hatinya sudah tak mau lagi terbuka untukku. Bahkan mama dan papaku berkali-kali aku mintai tolong tak bisa berhasil. Dewi semakin menjauh bahkan dia mengganti nomor ponselnya. Dan nomor telepon rumahnya juga aku tak tahu karena dia sudah membeli rumah yang lebih besar dan luas dari rumah yang kami miliki dulu.


Di kantor aku masih kepala gudang. Tapi tanpa pekerjaan apa pun. Mas Bambang mengebiri pekerjaanku. Dia hanya berbaik hati tidak memecatku saja. Aku yakin sedikit kesalahan dan ada yang melihat, maka aku akan langsung di PHK. Mas Bambang tak mau tangannya kotor oleh kasusku. Itu saja.


Tanpa pekerjaan maka aku hanya dapat gaji pokok saja. Tunjangan anak dan istri juga sudah dicoret setelah mas Bambang memberitahu surat cerai dari Dewi. Dan tanpa bantuan pengaturan dari Dewi semua uang gajiku habis sebelum sampai di hari gajian bulan berikutnya. Aku benar-benar kehilangan seorang Dewi.


Itu sebabnya aku tak pernah menyebut atau memanggilnya Ririen. Karena buatku dia adalah seorang DEWI.


Entah sampai kapan aku bertahan dalam kegalauan yang teramat sangat. Aku benar-benar tak bisa melupakan dia. Kebodohanku adalah tergoda ingin kembali merasakan sensasi darah perawan setelah memiliki Dewi. Andai aku tak pernah bermain api dengan Ninda dan Mona, tentunya Dewi masih dalam dekapanku. Aku bukan penjudi dan pemabuk. Aku pun tak ingin mencoba dunia gelap itu saat terpuruk seperti sekarang. Aku tak ingin tambah susah dengan menyentuh dunia hitam itu. Sekarang waktuku hanya aku habiskan bengong dikamarku. Aku ingin mencoba tegar, tapi tak mampu. Bahkan untuk memulai mencari perawan saja tak minat. Mengingat sakit yang harus aku rasakan setelah diceraikan Dewi.


RICKY POV END


============================================================= 


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2