WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
SEMUA TERBUKTI BUKAN ANAK ANRO


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Pagi tadi Anro baru saja menjual semua perhiasan yang dia belikan untuk Fitri. Dia tak ingin ada kenangan dengan perempuan itu. Dia juga langsung menjual mobil yang dia belikan untuk Fitri kembali ke show room saat dia membeli sehingga tidak kesulitan dengan surat atas nama Fitri.


Tinggal rumah yang ditempati oleh orang tua Fitri. Untung saat itu Fitri tak diperbolehkan masuk ke rumah sehingga tak bisa mengambil perhiasan itu dikamar mereka.


Hari masih belum siang. Masih pukul 11.03 saat Anro memasuki halaman rumah orang tua Fitri.


“Silakan masuk Nak Anro,” ibunya Fitri dengan sopan dan lembut meminta menantunya masuk rumah mereka.


“Bapak ada Bu?” tanya Anro sopan.


“Ada Nak, sedang ganti baju,” sahut si ibu. Dia tak tahu apa lagi maksud menantunya mendatangi mereka. Tapi dia sudah bisa mengira-ngira pasti berhubungan dengan kelakuan Fitri.


“Bapak dan Ibu sudah menerima dan melihat foto-foto yang saya kirim?” tanpa ragu Anro langsung bertanya pada kedua mantan mertuanya itu. Eh baru akan mantan, karena surat pembatalan pernikahan belum selesai diurus.


“Kami menerima dari kurir Nak. Kami mohon maaf atas kelakuan putri kami,” ibu mertuanya lebih lancar bicara daripada sang ayah yang hanya bisa diam menahan malu.

__ADS_1


“Santai saja Pak, Bu. Saya tidak aneh koq. Karena saat dia mendekati saya saja dandanannya sudah seperti pela-cur, ke kantor dandanannya seperti mau manggung. Dan saat dia berhasil menjebak saya. Dia sudah tidak pera-wan,” lanjut Anro tanpa merasa bersalah.


“Pertama saat ini maksud kedatangan saya memberi copy an ini. Hasil test DNA saya dengan Carol. Disitu jelas tertulis, Carol bukan anak saya!” Anro menyerahkan copy dari lab klinik mengenai status Carol anak yang selama ini Fitri sebut sebagai anaknya karena memang anak itu lahir ditengah pernikahan mereka.


Kedua orang tua Fitri kaget. Mereka tak menyangka setelah menikah pun Fitri tetap berkelakuan buruk dengan terbukti anak yang dikandungnya pun bukan anak suaminya.


“Tujuan kedua saya kesini ingin menawarkan rumah ini agar Bapak atau Ibu beli. Karena saya tak ingin punya kenangan apa pun dari penipu. Rumah ini akan segera saya jual. Kalau Bapak dan Ibu ingin membelinya saya akan beri potongan harga 25%.”


“Tapi kalau Bapak dan Ibu tak berkenan membelinya silakan kosongkan rumah ini agar saya bisa tawarkan pada orang lain. Saya beri waktu dua minggu dari sekarang,” tak tanggung-tanggung Anro hanya memberi waktu dua minggu pada orang tua Fitri itu.


Anro meninggalkan rumah itu dengan penuh dendam. Dia ingat dulu saat Fitri hamil pertama dia dipaksa untuk menikah siri. Mereka beda agama, sehingga jalan satu-satunya Anro melakukan nikah siri yang tidak ribet. Saat itu orang tua Fitri masih tinggal di gubuk reyot. Dan sebagai hadiah pernikahan Fitri minta dibelikan rumah yang baru saja Anro tinggalkan.


Ternyata semua bukan anaknya. Untuk itu dia tak akan memberi ampun.


‘Kalau anda mau, anda bisa mendekati Sarah. Dia sedang butuh bantuan anda. Bantuan finansial yang sangat besar. Atau dia akan membusuk dipenjara karena kelakuannya,’ chat dari Stefanus masuk. Saat ini sudah hampir malam dan Anro baru keluar dari kantornya.


“Apa maksudmu?” Anro langsung menghubungi dengan cara menelepon. Dia tak ingin dengan chat.


“Kalau mau tahu kita ketemuan saja Pak. Saya tak bisa menjelaskannya by phone,” jawab Stefanus santai. Dia tahu Anro pasti akan membantu Sarah asal kita bisa menyampaikan info dengan tepat.


“Baik, temui saya sekarang juga. Di Borneo cafe jalan Tirtomoyo,” sahut Anro.

__ADS_1


“Satu jam lagi saya baru bisa sampai sana. Saya sedang di ujung Bantul Pak,” sahut Stefanus. Tapi dia langsung mengarah ke cafe yang diminta Anro. Ternyata malah Stefanus yang tiba lebih dulu.


Stefanus segera memesan makan malam untuk dirinya. Dia tak mau telat makan dan bicara dalam perut kosong.


“Wah, kamu sudah duluan?”


“Selamat malam Pak, maaf saya sambi makan,” Stefanus menyalami Anro. “Saya kira saya kena macet karena ‘kan jalan sedang diperbaiki, ternyata barusan cukup lancar.”


Anro pesan kopi dan dim sum. Dia ingin makan malam dirumah. Sekarang sekedar mengganjal perut saja.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL CINTA KECILNYA MAZ  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL CINTA KECILNYA MAZ ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa.


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta


__ADS_2