WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
TAMU PENGGANGGU QUALITY TIME


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Pak ada tamu,” seorang pegawai Putra menginterupsi. Dia masuk setelah Putra menjawab ketukan di pintu yang memang tidak ditutup.


Seperti biasa, semua pegawai kantor Putra adalah laki-laki. Dia tak ingin membuat pikiran istrinya galau. Dulu dikantor Jakarta juga hanya Luna pegawai perempuannya. Tapi kalau di supermarket bangunan milik papanya, disana banyak pegawai perempuan.


“Suruh tunggu dulu. Saya cuci tangan,” jawab Putra.


“Selamat siang,” Putra menyapa dua orang tamu yang tak dikenalnya.


“Dengan Bapak Putra Pamungkas?” tanya tamu tersebut.


“Benar. Saya sendiri,” jawab Putra. “Ada perlu apa?”


“Kami Sarah dan ini teman saya Lucky. Kami dari Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom. Kami ingin memperbaharui data semua lulusan dari sana. Nanti kita akan bergerak di bidang sosial dan …,” cukup lama para tamu ngobrol dengan Putra.


“Daddy kami pulang aja karena Daddy sibuk enggak peduli ama Kakak dan Ade,” tanpa bisa dicegah Leona langsung mendatangi Putra dan protes karena Daddynya terlalu lama membuang waktu kebersamaan mereka.


“I’m sorry dear,” Putra jadi serba salah pada para tamunya. Mereka jelas mendengar kalau kedatangannya yang memang tidak janjian mengganggu quality time Putra.


Tak lama Ririen, Leoni dan Alesha keluar untuk kembali ke rumah karena sudah waktunya istirahat dan akan ada les di rumah. “Kalian salim dulu,” perintah Ririen lembut. Tapi Leoni dan Alesha sudah tak mau. Mereka langsung menuju mobil Ririen.


“Kami pulang dulu ya Dadd,” pamit Ririen. Dia langsung membuka pintu agar ketiga putrinya bisa langsung masuk mobil.

__ADS_1


“Sorry Mom,”Putra memberikan tangannya untuk Ririen salim dan mengecup puncak kepala istrinya itu.


“Hati-hati ya.”


***


Di mobil ketiga putrinya tertidur, Ririen hanya tersenyum melihat wajah cemberut ketiganya. Putrinya tak salah, karena jelas bisa melihat mata Sarah yang menatap Putra penuh damba. Walau masih kecil, tapi insting sebagai perempuan sudah mereka miliki. Mereka tak suka ada perempuan lain yang ingin merebut perhatian daddy mereka. Itu sebabnya Leona langsung frontal keluar dan menyatakan rasa tidak sukanya.


‘Mommy beruntung memiliki kalian yang menjadi pagar untuk daddy,’ batin Ririen dengan terus tersenyum.


Ririen membunyikan klakson agar asisten rumah tangga keluar menyambutnya untuk menggendong anak-anaknya dan memindahkan mereka ke kamar masing-masing.


“Lho, koq sudah di rumah Mas,” Ririen aneh Fajar ada di rumah sebelum maghrib. Biasanya putra sulungnya tiba di rumah jam lima sore atau bahkan jam enam.


“Lagi suntuk Mom, aku enggak ngajar karate,” balas Fajar. Dia sedang minum juice buah naga.


“Enggak Mom. Mas cuma bete. Minggu lalu ada pemilihan wakil untuk ikut lomba antar dojo. Mas sudah bilang, kali ini Mas enggak bisa ikut sebagai wakil karena Mas mau konsentrasi penuh di kampus. Entah mengapa nama Mas tetap dicantumkan.”


“Dan sebelnya, di kampus Mas juga ditunjuk sebagai wakil untuk lomba itu padahal Mas enggak tergabung dalam kegiatan karate di kampus. Maka Mas malas latihan sampai nanti pertemuan para wakil peserta lomba.” keluh Fajar.


Fajar tentu tak mau ikut lomba, terlebih menjadi rebutan antara kampus dan dojo tempatnya berlatih.


Ririen mendengar keluhan anak sulungnya itu dengan sabar. Dia pun memang membenarkan sikap Fajar. Karena tak ingin disebut berat sebelah. Lebih baik Fajar tak ikut berperan mewakili salah satu. Tapi Ririen juga tak suka bila Fajar menghindar dari persoalan. Bukan menghadapinya.


“Mommy setuju, Mas enggak berat sebelah. Enggak mewakili dojo mau pun kampus. Tapi enggak seharusnya menghindar. Tetap aja datang dan tetap pegang teguh tak mau turun lomba. Jangan menghindar seperti ini,” nasehat Ririen.


“Baik Mom, makasih. Besok-besok Mas akan berikan surat pernyataan tertulis untuk dojo dan kampus agar semua clear. Kalau hanya omongan rasanya tetap akan dipaksa untuk terjun,” Fajar menerima nasehat Ririen dengan senang hati.

__ADS_1


“Mommy ke kamar buat ganti baju ya,” Ririen pamit karena dia ingin berkebun di nurserynya. Sejak pagi dia belum berkegiatan ditempat usahanya itu.


Ririen hendak keluar menuju nurserynya. Tapi sebelumnya dia meninggalkan pesan pada para pengasuh anak-anak agar membangunkan putri-putrinya saat menjelang guru les bahasa inggris datang.


“Assalamu’alaykum Mom,” sapa Fajri yang baru pulang sekolah. Hari ini Fajri tak ada kegiatan selain sekolah.


“Hallo ganteng, cape?” tanya Ririen. Dia menunda keluar rumah.


“Biasa lah Mom. Enggak ada yang special untuk bikin cape badan dan cape hati. Flat!” cetus Fajri menjelaskan selintas kegiatan hati ini.


“Oke kalau begitu Abang bersih-bersih dulu sebelum makan ya?” nasihat Ririen. Jagoan kecilnya ini memang sering semaunya bila tidak diingatkan. Berbeda dengan Fajar. Tapi tetap Ririen dan Putra tak pernah membandingkan keduanya, karena tak baik bagi perkembangan kejiwaan keduanya.


***


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL INFIDELITY BEFORE MARRIAGE YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL INFIDELITY BEFORE MARRIAGE  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa.


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta.


__ADS_2