
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Celana hamil fleksibel di gunakan karena bagian perutnya berupa kain yang bisa melar sesuai ukuran perut. Atasnya dia menggunakan kamisol dan blazer.
Irhan kagum melihat penampilan Ririen dengan kostum kerjanya, sangat berbeda dengan kostumnya saat menjadi guru dulu. Saat mereka akan berangkat Fajar dan Fajri berlarian masuk ke rumah. Putra baru ingat, kemarin Ririen memberitahunya kalau kedua jagoan ini sudah sekolah.
“Masuk rumah koq enggak bilang salam nih kakak-kakak ganteng?” Ririen memposisikan dirinya setinggi mereka dengan berlutut saat memberikan tangannya untuk disalimi oleh kedua permata hidupnya itu.
“Assalamu’alaykum Mamaku,” sapa Fajar pada Ririen dan dia juga menghampiri Putra. Dan Fajri pun mengikuti kelakuan kakaknya.
“Kakak-kakak langsung ganti baju ya, trus maem, jangan lupa bobo siang. Mama berangkat kantor ya. Inget jangan berisik biar ade Lesha enggak keganggu bobonya. Dan satu lagi, Mama enggak mau dengar mbak Surti bilang kalian berantem saat Mama pergi kerja. Oke?” Ririen menasehati kedua anaknya.
“Ote,” jawab Fajri cepat sambil memberi tanda dengan jempol bulatnya. Lelaki kecil yang sangat menggemaskan.
***
Sepanjang jalan menuju kantor tempat Ririen akan meeting Putra berupaya mengorek tentang Ririen, tapi Ririen tak menggubrisnya. “Saat ini kamu yang harus cerita dan menjawab semua pertanyaanku. Kalau enggak jawab atau enggak jujur, aku enggak ngebolehin kamu datang lagi ke rumahku!” ancam Ririen.
Putra menggenggam tangan kanan Ririen dan membawanya ke bibirnya, dikecupnya tangan kanan Ririen. “Ok, kamu mau tanya apa dan aku harus cerita tentang apa Mom?” jawabnya lembut.
Ririen menarik tangannya, tapi tak bisa karena di tahan dengan genggaman yang dipererat oleh Putra.
__ADS_1
“Kenapa kamu mau dekatin aku? Aku jauh lebih tua darimu dan aku sudah punya 3 anak! Maaf aku sudah enggak ingin berkomitmen, aku sudah lelah sakit hati, aku sudah lelah diselingkuhi!” tanpa sadar Ririen membuka mengapa dia bercerai dengan mantan suaminya.
Putra menarik nafas panjang, sebentar menoleh pada Ririen, lalu segera kembali menatap depan. “Sesungguhnya aku ingin kita bicara hal ini sambil duduk berhadapan agar aku bisa melihat matamu dan aku ingin kamu juga melihat mataku untuk melihat kesungguhanku. Namun tadi kamu sudah mengancamku, apabila aku enggak jawab maka aku dapat sangsi enggak boleh ke rumahmu, jadi akan aku cerita sedikit sebagai pembuka,” jawab Putra.
“Saat akan survey route lomba sepeda Saba Desa, aku dan Edy ke rumah pacarku Ayu untuk mengambil kompas. Kamu tau apa yang kudapati di sana?” Irhan sengaja berhenti di titik itu, dia ingin mendengar jawaban Ririen.
Ririen menggeleng, dari sudut matanya Putra melihat gerakan kepala Ririen, tapi dia sengaja memancing Ririen untuk bicara. “Kamu tau apa yang kudapati di sana?” tanya Putra mengulangi pertanyaannya lagi.
“Mana aku tau, emang aku cenayang,” Ririen menjawab ketus.
“Aku dan Edy melihat Ayu sedang tidur bareng dengan sahabatku sendiri,” Putra melanjutkan ceritanya, dia melihat wajah Ririen sangat kaget, ketika mendengar ceritanya barusan. “Sejak hari itu aku bersumpah enggak akan jatuh cinta lagi dan enggak akan menikah!”
Ririen ingat saat hari survey itu ( flash back sebentar yaaa ) anak-anak team kemdur terlihat kurang ceria terutama Putra, Edy dan Yogi. Mereka memasang wajah muram tanpa senyum sama sekali. Akibatnya semua anak perempuan ikut-ikutan diam karena para pemimpin mereka tekuk muka. Tak ada keceriaan seperti biasa walau obrolan tetap terjadi. Semua seperti ikut muram.
“Lalu, maksud kamu kemarin apa? Mau iseng ke aku, mau mainin aku?” cecar Ririen kesal.
“Itu juga alasan aku lari dari Indonesia, padahal sebelumnya aku hanya ingin kuliah di ITB aja atau UGM saja. Sejak kejadian itu aku menjadi player, aku bukan pria suci, sengaja ini aku katakan sejak awal, agar bila suatu saat ada yang memberitahu masa laluku, kamu enggak kaget dan marah karena aku menyembunyikan aibku.”
“Aku benci wanita, aku anggap semua perempuan itu pengkhianat. Namun semua menjadi jungkir balik saat aku melihatmu memasuki ruang reuni kemaren, saat Sanih berteriak memanggilmu. Aku merasa kembali normal, aku ingin memiliki cinta, aku ingin berumah tangga. Serius, di gedung reuni kemaren aku menjadi frustasi, kenapa aku mulai jatuh cinta pada sosok yang salah, aku jatuh cinta pada istri orang,” lirih Putra bicara.
“Namun saat itu aku tetap berharap, aku bisa dekat denganmu walau enggak bisa memilikimu. Aku akan cukup senang bisa dekat denganmu tanpa memilikimu. Karena saat itu aku belum tahu status jandamu. Aku mengakui salah, kemarin langsung menyatakan isi hatiku. aku juga enggak tau kenapa aku bisa seceroboh itu, tapi da-da ini sesak bila aku enggak mengeluarkan perasaanku. Aku marah atas penolakanmu kemaren, dan mamaku mengetahuinya,” jelas Putra.
“Sepulang dari rumah, Mama tahu aku sedikit tergoncang. Dengan sabar dia mendesakku untuk cerita. Akhirnya semua aku ceritakan padanya. Dia tidak melarangku mencintaimu walau aku katakan yang aku cintai adalah janda beranak 3 dan usianya lebih tua dariku. Belum aku ceritakan siapa perempuan itu. Tapi mama tak masalah dengan status janda dan usia orang yang aku cintai.” tanpa ada yang ditutupi Putra menjelaskan apa yang Ririen ingin tahu.
__ADS_1
Ririen diam menunggu kelanjutan cerita Putra.
“Aku serius, aku akan memperjuangkan cintamu. Kalau kamu menolakku, aku akan tetap berada di sisimu menunggu sampai kau bersedia menerimaku. Itu alasanku mendekatimu, karena ada getar rasa yang bisa membangkitkan rasa cinta yang sudah aku kubur teramat dalam, rasa yang enggak pernah bisa di bangkitkan oleh banyak perempuan cantik, bahkan dengan tubuh polos atau wajah innocent mereka sekali pun.”
“Hanya kamu yang bisa, dan aku enggak bisa menjelaskan mengapa, karena soal rasa enggak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Kalau soal status anak 3 dan usia, itu bukan halangan untukku dan keluargaku. Kemarin mama sudah menyetujui aku mengejar cintamu,” Irhan dengan gamblang membuka jati dirinya pada Ririen.
Kembali Putra menciumi jemari Ririen, kemudian dia melepas tangan itu dan membelai pipi Ririen dengan lembut. “Dah, masih penasaran?” tanyanya sambil menoleh pada Ririen.
“Aku enggak siap berkomitmen, aku masih trauma,” lirih Ririen menjawab pertanyaan Putra.
“Aku tau, dan aku mengerti. Kita jalani bersama, yang penting kamu jangan tutup hatimu agar aku bisa masuk perlahan-lahan. Aku bisa merasakan sakit yang kamu rasa karena aku pernah merasakannya. Walau sakit yang kurasa pasti enggak sebesar sakitmu, karena hubunganku saat itu masih pacaran sedang hubunganmu terikat dalam ikatan pernikahan. Aku akan membuktikan kalau aku serius dan akan membantumu mengobati lukamu.” janji Putra dengan kesungguhan.
***
=====================================================================
SAMBIL NUNGGU YANTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTI YANG LAIN YOOK. JUDULNYA TELL LAURA I LOVE HER
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta