
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Waktu malam pertama datang Mommy ketemu Ayu, lalu janjian untuk makan malam hari ini sebelum besok Mommy pulang ke Jakarta” cerita Ririen dengan sabar, agar bisa meredam amarah suaminya.
“Siapa bilang Mommy pulang besok?” tanya Putra.
“Daddy rubah jadwal pulang Mommy?” tanya Ririen yang dijawab senyuman oleh suaminya.
“Kita temui mereka yok, enggak enak mereka nunggu kelamaan. Sejak Mommy terima cinta Daddy, sejak itu Daddy bersyukur atas perbuatan yang mereka lakukan. Karena dengan begitu Daddy bisa ketemu cinta sejati Daddy,” kata Putra sambil memeluk lembut istrinya dan mencium keningnya.
Mereka sampai di meja saat makanan sudah terhidang. “Silakan makan lho,” Putra mempersilakan semua untuk segera makan.
“Eh lupa, apa khabar Bro?” tanyanya pada Herman.
“Baik,” jawab Herman gugup.
“Kalian tinggal dekat sini atau gimana?” tanya Putra lagi, tak ada kemarahan dalam nada suaranya.
“Enggak terlalu jauh, tapi juga enggak dekat juga, kira-kira jarak Kranggan ke Cililitan lah,” jawab Herman mulai berupaya bersikap wajar.
“Mbak Tuti, mesanin rujaknya enggak pedas ya?” tanya Putra pada asisten istrinya itu.
“Biasa pesan Ibu ‘kan gitu Pak” jawab Tuti, dia tau kalau di luar kota Putra dilarang makan pedas oleh istrinya agar tidak sakit perut, karena kadang perut Putra sensitive, begitu pesan ibu bossnya.
“Kamu tu ya, selalu aja ngebatasin kalau Daddy mau makan pedas,” protes Putra pada istrinya sambil mengacak-acak puncak kepala Ririen.
“Dadd, kebiasaan deh, bikin pasaranku turun kalau rambut acak-acakan,” keluh Ririen sambil memundurkan kepalanya.
“Mbak Ayu, makan aja Mbak, enggak usah digubris dua orang di depan Mbak, bikin mupeng. Mereka di mana pun selalu gitu” Tuti memberitahu Ayu soal kelakuan pasangan mesra depan mereka.
“Tuti, aku mau marah ke kamu,” Ririen bicara agak sedikit keras saat ingat Putra sudah memundurkan jadwal pulangnya.
“Kenapa Mbak?” tanya Tuti santai.
__ADS_1
“Kamu koq enggak bilang Bapak mundurin jadwal pulang saya? Kamu pakai pura-pura nanya tumben Bapak enggak nyusul,” Ririen gusar karena anak buahnya menyembunyikan kelakuan suaminya.
“Mbak ingat waktu Mbak sedang bicara dengan ketua yayasan tadi pagi? Saya dapat telepon dari Bapak, kapan jadwal pulang dan menginap di mana. Lalu Bapak minta jangan kasih tau, karena mau kasih surprise katanya, ya saya manut aja,” jawab Tuti tanpa rasa bersalah.
“Lha kamu kerja ama Bapak atau ama saya?” tanya Ririen.
“Udah ah, yang salah Daddy bukan mbak Tuti,” kata Putra sambil merengkuh bahu istrinya “Ayo makannya dilanjutin karena masih ada kejutan besar lainnya.”
“Bro nambah enggak?” tanya Putra santai.
“Ayu nambah enggak Yu?” tanya Ririen pada Ayu.
“Enggak sanggup Bun, enggak makan banyak aja badanku lebar gini,” keluh Ayu. Ayu masih tak percaya melihat binar cinta dimata Putra yang tak pernah dia lihat saat Putra menjadi kekasihnya dulu.
“Enggak apa-apa Yu, yang penting sehat, buat apa berat badan ideal kalau penyakitan,” hibur Ririen.
“Bini gue baru mulai turun nafsu makannya, karena si kembar sudah enggak ASI. Sebelumnya dia makan porsinya sama ama gue,” cetus Putra.
“Binimu mana? Koq enggak dikenalin,” goda Ririen.
“Mbak Tuti mau nambah enggak? Bro lo nambah ya, gue mau nambah, siang tadi gue enggak makan siang karena takut telat,” Putra mengajak Herman agar kembali memesan makanan tambahan.
“Mommy mau tambah apa?” tanya Putra lembut.
“Bebek bakar tanpa nasi … atau kerang aja deh Dadd. Enggak jadi bebek. Aku minta udang rebus dua porsi dan lima piring kerang rebus dengan lima bumbu,” pinta Ririen. “Ayu, kamu nambah apa?”
“Saya yang bebek bakar tanpa nasi deh Pak,” jawab Tuti, sudah lama dia ikut dengan Ririen dan Putra sehingga sudah tidak malu lagi.
“Enggak Bun, aku enggak sanggup” jawab Ayu.
“Minum aja ya tambah, juice mungkin?” desak Ririen.
“Gue boleh lah tambah ayam bakar plus nasi uduk,” kata Herman.
“Kalian tadi nanya ‘kan anak kecil ini suami Bunda bukan? Sekarang kalian tanya ama oknumnya aja ya,” perintah Ririen pada Herman dan Ayu.
__ADS_1
Herman dan Ayu pias saat Ririe mengatakan hal tersebut. Namun Putra malah tertawa ngakak.
“Man, Yu lo berdua inget enggak pas lo minta waktu buat bicara ama gue di reuni?” tanya Putra sambil mengambil ikat rambut hitam dari sakunya, lalu diberikan pada Ririen. Ririen tahu itu artinya Putra menyuruhnya mengikatkan rambutnya.
“Saat itu gue masih super benci lo berdua, lo berdua yang udah ngancurin hidup gue, gue langsung kabur ke London dan enggak pernah pulang walau lebaran sekali pun. Gue pulang enam bulan sebelum reuni, tepatnya satu bulan sebelum abang gue nikah, karena kakek ngancem harus pulang!” cerita Putra.
“Nah pas di reuni, gue liat perempuan mature yang bikin gue lupa ama sumpah gue buat ngebenci perempuan selain keluarga gue. Sayangnya perempuan itu punya suami dan udah punya anak tiga serta usianya lebih tua dari gue.” Putra berhenti sejenak untuk minum.
“Tapi saat itu gue bersumpah, biarlah gue enggak dapetin dia asal bisa selalu liat dia bahagia. Gilaaaaaa kan pesona perempuan itu buat gue?” Putra melanjutkan ceritanya sambil menyuap nasi dan rujak cingurnya.
Ceritanya terputus karena pesanan gelombang kedua mereka mulai datang “Stop Mom, jangan banyak sambelnya, tadi Daddy dilarang pedas!” ultimatum Putra saat melihat Ririen meracik bumbu celup kerangnya.
“Kan sudah enggak nyusuin Dadd,” protes Ririen. “Udah kamu lanjut aja ceritanya, Herman penasaran tapi enggak berani minta kamu nerusin cerita.”
Putra terkekeh. “Habis reuni gue maksa nganter tu perempuan pulang. Ternyata dia baru aja 36 hari habis ngelahirin anak ke tiga nya, dan udah pisah ama suaminya sejak tu bayi diperut usia dua minggu. Kebayang enggak bahagia gue saat itu? Ternyata perempuan yang gue suka bukan punya orang. Dan begonya, gue langsung nembak dia di pertemuan pertama itu!” kata Putra sambil menerima suapan udang rebus dari tangan Ririen.
“Orang gila ya temanmu ini. Anak kecil, bujangan, tajir, koq ngejar janda anak tiga yang harus berjuang buat cari segenggam berlian,” timpal Ririen.
“Gila bro, susah bangeeet dapetin kata IYA, dari mulutnya buat nerima gue. Tujuh bulan gue dan keluarga gue ngemis ke dia, bukan kebalik dia yang ngejar gue seperti yang orang-orang duga.”
“Nyokap gue, kakek, abang-abang gue sampe Nuna jungkir balik buat ngedukung gue. Cuma bokap aja yang enggak gue libatin. Bahkan dihari lamaran yang udah dia susun, dia mau mundur.”
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL CINTA KECILNYA MAZ YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1