
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Aku bisa datang sendiri koq, enggak perlu repot-repot ngejemput aku,” kilahku, ngapain juga nunggu jemputannya.
“Sekarang kamu bobo aja ya, istirahat, enggak usah bantah aku, aku aja enggak bantah kamu. Walau kamu enggak lihat apa yang aku kerjain sepulang dari rumahmu, tapi serius aku nurut koq disuruh langsung pulang dan bobo. Good night honey, met bobo ya, mimpiin aku!” Aku dengar dia langsung memutuskan tanpa bisa aku bantah.
Mulai deh dia memerintah semaunya. Sebel!!!
“Night too” jawabku dan langsung ku putus sambungan telepon dengannya.
Anak kecil itu selalu bisa memimpinku. Selalu bisa lebih ‘tua’ dan dewasa dari aku dalam beberapa hal. Padahal antara aku dan Ricky mantanku aja aku lebih banyak berpikir dewasa. Gimana mau ngebandingin Ricky dan Putra?
Bagai bumi dan langit. Dua anak Ricky yang terikat dalam pernikahan aja enggak pernah lelaki itu pikirkan, beda dengan Putra yang selalu mendahulukan semua masalah ‘anaknya’ daripada kepentingan pribadinya. Itu sudah aku lihat berkali-kali.
END RIRIEN POV
***
Pukul 09.30 Putra sudah sampai di rumah pujaan hatinya, dia langsung menggendong Alesha yang sekarang sudah biasa dan senang bila dia gendong. “Daddy, Tata’ mau di gendong uga,” rengek Fajri.
“Sebentar, Daddy taruh dede Lesha dulu ya, karena Daddy enggak bisa gendong kalian berdua. Dikembalikannya lagi Lesha ke dalam box nya, bila siang memang box Lesha di letakkan di ruang keluarga.
Putra menggendong Fajri “Wah anak Daddy udah berat nih, maemnya banyak ya sayang?” sambil dikelitikinya perut Fajri dengan dagunya.
“Daddy geyyiiiii,” pekik Fajri. Lelaki kecil yang bulat itu terkekeh karena merasa kegelian.
“Bikin apa Mom?” tanya Putra di dapur, dia masih menggedong Fajri, di depan dan saat ini di tambah Fajar di punggungnya.
“Ya ampun, kalian tuh kebiasaan deh kolokan gitu ama Daddy, jangan gitu dong kakak-kakak. Kalian ‘kan udah besar?” Ririen melihat dua jagoannya yang berada dalam gendongan Putra.
“Daddy cape tuh gendong kalian berdua,” lanjutnya lagi. Dia baru saja rampung bikin pepes ikan mas yang niatnya mau dia bawa ke rumah Putra. Dan di sana dia berniat akan mengatakan pada ibunya Putra untuk menyuruh anaknya mundur dari mengejarnya.
__ADS_1
Tapi saat sekarang dia melihat kedua anaknya seperti itu Ririen berpikir ulang, haruskah dia egois menolak laki-laki yang sudah diterima oleh anaknya dengan penuh cinta?
Putra mendekati Ririen dan mendaratkan kecupan di kening perempuan itu. “Ih, masih bau tau, sana ah kalian ke depan aja,” pinta Ririen.
“Jadi kalau udah enggak bau boleh di kiss?” goda Putra dengan memperlihatkan senyum jahilnya.
“Mama minta aku datang jam berapa?” tanya Ririen. “Semalam kamu enggak jawab.”
“Enggak bilang jam sih, cuma diminta makan siang di rumah doang,” jawab Putra santai.
“Jam sebelas kita berangkat ya, dan aku enggak mau bawa anak-anak,” jawab Ririen, dia lalu menyiapkan juice bagi kedua putranya.
“Kalau tau enggak mau bawa anak-anak, aku tadi pakai motor aja. ‘Kan jadi lebih mesra,” goda Putra.
***
“Kenapa enggak mau bawa anak-anak?” tanya Putra saat mereka berangkat menuju rumahnya. Dia tahu biasanya Ririen tak ingin waktu bersama putranya terpotong.
Ririen menyerahkan pepes ikan mas yang dibuatnya, masih hangat saat sampai rumah Putra. “Ini kamu bikin sendiri?” tanya bu Rini, dia menarik tangan Ririen mengajaknya masuk ke ruang makan.
“Iya Bu, semoga bisa kemakan, takutnya enggak suka,” jawab Ririen.
“Kamu enggak tau kalau Putra itu pecinta pepes terutama pepes jamur dan ikan mas?” tanya bu Rini lagi.
“Saya enggak tau makanan kesukaannya, hobbynya, aktivitasnya dan semua tentang dia, karena saya baru mengenal dia tiga bulan ini. Saya pun enggak tau yang dia enggak suka!” jawab Ririen jujur.
“Jadi kamu enggak tau kenapa mama nyuruh kamu datang makan siang hari ini?” tanya bu Rini yang membahasakan sebutan mama untuk dirinya.
“Enggak tau Bu,” jawab Ririen sambil menunduk. Dia masih memanggil bu Rini dengan sebutan Bu bukan mama seperti permintaan perempuan ini sejak tadi.
“Ya ampun, si A’a enggak bilang kalau hari ini dia ulang tahun ya Teh?” tanya seorang gadis manis yang baru saja masuk ke ruang makan.
‘What, dia ulang tahun? Aku malah enggak tau apa pun, pantas sejak pagi dia sibuk terima telepon dan selalu ngucapin makasih saat seseorang menelponnya, rupanya teman-temannya mengucapkan selamat ulang tahun.’
__ADS_1
Ririen melihat Putra sedang menggendong bayi perempuan montok. Sangat menggemaskan “Mom kenalin, ini ceweq cantiknya Daddy, Inda namanya,” Putra membawa Inda ke depan Ririen.
“Lucu banget sih, udah berapa bulan? Dia udah ada gigi lho,” sahut Ririen.
“Inda udah 5 mau 6 bulan, lucu ya Mom?” kata Putra, dia tidak sadar banyak yang mendengar panggilannya pada Ririen.
“Aku gendong boleh? Dia gampang kenal sama orang enggak?” tanya Ririen. Inda dua bulan lebih tua dari Alesha yang saat ini berusia 4 bulan.
“Dia mah mau ama siapa aja, jadi pasti mau kamu gendong,” kata Putra sambil memindahkan keponakannya ke tangan Ririen.
“Hallo cantiknya Aunty, kamu pintar ya mau digendong siapa aja?” sapa Ririen sambil menciumi pipi Inda dengan gemas.
***
PUTRA POV
’Hari ke dua Ririen marah padaku, sepulang dari makan siang kemarin memang Ririen marah saat aku bertanya mau belanja di mana, Ririen menjawab ketus mau langsung pulang aja enggak jadi belanja. Aku enggak tau apa alasannya, seingatku sampai kami pamit dia masih ceria, apa ada yang melukainya tadi tapi dia enggak mau cerita?’ Mencegah debat berkepanjangan kuturuti permintaan Ririen, sore itu aku langsung mengantarkannya pulang, dan pamit sesudah selesai membacakan buku cerita untuk anak-anak. Hari ini aku sengaja menolak makan malam di rumah Ririen.
Hari Senin kemarin aku disibukkan dengan pengecekan lokasi baru, sehingga tidak bisa datang ke rumah Ririen. Hari ini pun aku tidak ke kantor karena hari ini aku akan bertemu dengan klien di rumah makan yang telah mereka tentukan.
Di sudut rumah makan kulihat seorang perempuan yang selalu menghiasi pikiranku akhir-akhir ini, dia sedang duduk dengan lima orang laki-laki dan seorang perempuan muda yang sibuk dengan buku catatannya. Kulihat mereka bicara santai tapi serius, aku ingat salah satu laki-laki itu adalah yang pernah aku temui di kantor cabang di Slipi.
Apa saat ini Ririen sedang meeting dengan lima TM nya seperti yang dia pernah bilang?
\===============================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1