WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
BAGAIMANA AKU HARUS MEMUTUS MATA RANTAI INI?


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Ririen mengambil troli belanjaan dan mulai mengambil semua kebutuhannya, dia lihat lagi list yang dia buat sudah semua dia dapat belum. Dia selalu membuat list sebelum belanja agar tak ada yang terlewat.


Setelah selesai mendapatkan semua yang dia tulis baru nanti dia akan melihat-lihat hal lain yang sekiranya dia butuhkan tapi tak ada dalam listnya. Sekarang saatnya dia mencari yang ingin dia tambahkan selain yang ada di daftar belanjaannya.


Ririen puas berkeliling beberapa kali sebelum akhirnya membayar semua belanjaannya, dia masukkan semuanya dalam bagasinya kecuali kotak ice cream yang dia letakkan di kursi sebelah supir.


“Teteh, udah selesai belanja?” suara seorang perempuan renyah terdengar dari belakang Ririen.


“Eh Nuna, sama siapa? Iya Teteh baru aja selesai,” balas Ririen sambil menutup pintu bagasi mobilnya.


“Sama mama, mama udah masuk duluan, Nuna liat Teteh, jadi balik lagi ke sini,” sahut Nuna ramah.


Enggak enak dengan bu Rini, Ririen masuk kembali ke super market untuk sekedar menyapanya lalu segera pulang.


Sepanjang perjalanan pulang Ririen kembali memikirkan Putra dan keluarganya serta Fajar dan Fajri. ‘Bagaimana aku harus memutus mata rantai ini?’


‘Aku tidak sanggup melihat Fajar dan Fajri terluka, sejak mereka bisa mengingat, yang mereka tahu dan rasakan tentang sosok ayah adalah Putra. Mama dan semua keluarga Putra juga sangat baik dan ramah, tidak ada yang menolakku, tapi aku masih sangat takut untuk berkomitmen, aku masih sangat takut untuk terikat.’


***


“Tadi aku ketemu teteh Dewi A’. Kayaknya pulang kerja karena masih pake baju resmi. Dia sopan banget. Padahal dia udah selesai belanja. Eh dia datengin mama kedalam cuma buat salim doang,” Nuna bercerita pada kakaknya yang pulang terlihat sangat lelah.


‘Jadi pulang kerja tadi dia belanja. Yang niatnya dia lakukan hari Minggu kemarin denganku,’ batin Putra. Sampai saat ini saja dia masih tak tahu alasan diamnya Ririen. Tapi dia juga belum sempat menghampiri perempuan itu. Dia sedang sangat sibuk.


“Itulah kenapa A’a cinta mati ama dia. Orang lain mungkin cuma akan bilang ke kamu, salam ya buat mama lalu langsung pulang kan? Enggak kayak dia yang ngebelain masuk buat salim doang ke mama,” sahut Putra sambil masuk ke kamarnya untuk mandi.


***

__ADS_1


Hari-hari sibuk dimulai, sudah sepuluh hari Putra tidak datang ke rumahnya, Ririen menjadi lebih terbiasa tanpa kehadiran sosok pria cool itu, walau kadang dia mempunyai rasa kangen terhadap candaannya,  apa ini yang disebut rindu?


Ditekuninya pekerjaannya, dia tidak mau terpecah konsentrasi. Ririen mempunyai target besar yang ingin dia capai bulan depan. Kadang di rumah memang dia bingung dengan pertanyaan Fajar dan Fajri yang menanyakan mengapa daddynya lama tidak pulang. Ririen sedih dan kasihan pada kedua anaknya itu.


Meeting regional hari ini, Ririen mendapat tawaran memegang cabang Bali atau Medan yang selalu defisit. Dia diberi tugas menghidupkan kembali cabang-cabang tersebut.


‘Apa ini solusi dari Allah untuk aku menghindari Putra? Pindah pulau sehingga mereka berjauhan dan otomatis hubungannya pun terputus.’ pikir Ririen.


“Maaf, saya belum bisa memutuskan saat ini, focus saya sekarang mencapai target yang sudah saya dan team putuskan, jadi saya tidak mau target kami tersisihkan bila saya harus memikirkan tawaran pindah posisi tersebut,” jawab Ririen lugas pada pemilik perusahaan.


“Saya tunggu jawabannya satu minggu setelah PRJ tutup ya Mbak. Sebagai Marketing Manager, saya berkeinginan cabang Medan dan Bali bisa maju seperti cabang yang selama ini Mbak pimpin.” Pak Imron sebagai atasannya langsung, memaksanya agar segera memberi jawaban sesudah pameran selesai.


“Akan saya pikir masak-masak setelah semua usai Pak,” Ririen berjanji akan memikirkan dengan saksama baik buruknya dia menerima tawaran dari perusahaan. Baik buruknya dia pindah kota atau pulau. Baik buruk untuk kedua anaknya, bukan hanya soal income. Dia harus benar-benar mempersiapkan mental Fajar dan Fajri berpisah dengan Putra.


***


“Bu, De’ Alesha agak demam,” lapor mbak Yuni saat Ririen baru mau masuk ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju. Bergegas dia cuci tangan lalu menghampiri box putri kecilnya.


“Ini baru aja saya ukur 37,7 º,” sahut mbak Yuni.


“Ok, ambilkan obat turun panasnya,” Ririen pun meneteskan obat ke mulut Alesha


“Rewel enggak Mbak?” tanyanya lagi.


“Enggak, cuma kayak menggigil sedikit, jadi saya pakaikan celana panjang dan kaos kaki,” sahut mbak Yuni.


“Kamu kenapa sayank? Marah ama Mama ya ditinggal kerja? Mama kerja buat makan kita sayank, jangan marah gitu ya, Mama sayang kamu,” bisik Ririen pada Alesha, dipeluknya bayi mungilnya dan diciuminya ubun-ubunnya.


Sepanjang malam Alesha tidur dalam dekapan Ririen, bayi mungil itu tidak mau diletakkan di kasurnya walau Ririen mendekapnya, alhasil Ririen tidur sambil duduk di kasurnya.


***

__ADS_1


“Mbak, hari ini saya enggak ada jadwal meeting atau cek lapangan ‘kan? Kalau ada tolong dijadwal ulang dong, Alesha demam, sepertinya hari ini saya enggak bisa ke kantor deh,” pamit Ririen pada Tuti pagi ini via telepon.


“Hari ini kosong Mbak, oke semoga Alesha cepat sembuh,” sahut Tuti yang belum siap untuk berangkat kerja.


Fajar dan Fajri sudah berangkat sekolah dengan mbak Surti, Ririen bersiap membawa Alesha ke rumah sakit, memang Alesha tidak menangis sepanjang malam, tapi Ririen merasakan sepertinya Alesha sedikit menggigil walau sudah dia dekap dan AC tidak dinyalakan.


Putra yang sejak semalam menginap di rumah sakit karena mengurus tiga tenaga bangunannya yang terluka baru saja akan meninggalkan rumah sakit ketika melihat mbak Yuni duduk menggendong Alesha.


“Alesha kenapa Mbak, Ibu di mana?” tanyanya gugup. Lelaki itu sangat tahu hari ini bukan jadwal Alesha untuk imunisasi. Pasti Alesha disini karena putri kecilnya itu sakit.


“Sejak kemaren Dede’ panas dan menggigil, Ibu baru daftarin Dede,” jawab mbak Yuni.


“Ada kain bersih enggak Mbak, baju saya kotor, saya enggak mau Dede nempel ke baju kotor saya,” tanya Putra.


“Di tas Dede ada alas bersihnya Pak,” jawab mbak Yuni sambil membuka resleting tas bayi yang dibawanya dan mengambilkan alas serta memberikannya pada Putra.


Putra membentangkan kain persegi panjang itu dan diaturnya kedadanya sampai bahu kirinya untuk menutupi bajunya lalu meminta Alesha diserahkan padanya. Dari jauh Ririen melihat perlakuan Putra pada Alesha, dia sedang mendaftarkan Alesha ke bagian administrasi.


“Kita ke poli Anak yok Mbak,” ajak Ririen pada mbak Yuni. Ririen tidak menggubris Alesha sedang berada di gendongan Putra.


“Koq bisa ada disini, ngapain?” Ririen berjalan bersisian dengan Putra menuju ke poli anak.


\===========================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2