
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Putra enggak tahu kan kalau perempuan sedang berhalangan emosinya tinggi karena pengaruh perubahan hormonal dalam dirinya.
“Ih. Kan Daddy sekarang emang enggak punya rasa suka,” balas Putra masih menggoda. Dia lihat Ririen langsung buang muka melihat keluar jendela.
“Sekarang kan punyanya rasa cinta Mom,” Putra mengambil jemari Ririen untuk dia kecup. Dia menarik tubuh perempuan itu untuk dikecup puncak kepalanya.
***
Ririen membeli isi kulkas, sayuran, daging, milk dan buah selain pembalut tentunya. Fajar dan Fajri anteng karena sudah diberitahu habis belanja mereka akan ke rumah nenek untuk ambil coklat.
“Dad, odolku habis,” Fajar lapor ke Putra sambil menunjukkan jenis odol yang dia mau, karena Putra sedang mencari foam wajahnya di rak yang sama.
“Ini? Apa lagi?” tanya Putra.
“Sudah,” balas Fajar.
Saat mengantri di kasir Putra memberikan kartu ATM pada Ririen sambil berbisik pin nya ‘tanggal semalam’. Ririen menerimanya dengan melotot.
“Ada apa dengan semalam?” bisiknya.
“Cinta Daddy berbalas,” jawab Putra enteng.
“Ih bukan semalam, itu sudah hari ini, wong sudah jam dua pagi koq,” bisik Ririen.
“Oh gitu ya? Harus diubah lagi ya nanti,” kata Putra sambil tersenyum nakal. Rupanya tadi dia mengambil ponsel untuk merubah pin ATM secara online.
Sehabis belanja Ririen langsung ganti pembalut di toilet super market itu dan selanjutnya mereka menuju rumah keluarga Purwanagara. Di teras ada pak Galih Purwanagara, papanya Putra.
Ririen turun membawa satu keranjang buah, dia memberi salam pada pak Galih. “Assalamu’alaykum Pak.”
“Wa’alaykum salam, cari siapa?” tanya pak Galih yang belum mengenal Ririen. Ririen berbalik badan, ternyata Putra belum turun dari mobil, karena sepatu Fajri copot, sehingga dia memakaikan sepatu jagoan kecilnya lebih dulu, sementara Fajar sudah berdiri di sisi Putra , tapi dari posisi pak Galih, Putra tidak terlihat karena tertutup mobil.
Fajri tidak mau jalan sendiri, sehingga Putra masuk ke teras dengan menggendong Fajri dan menggandeng Fajar. Saat melihat Putra baru pak Galih sadar, siapa tamunya kali ini. “Maaf, tadi Papa enggak ngenalin, masuk sana, mama di dalam,” perintahnya pada Ririen.
__ADS_1
“Kakak salim Kakek dulu,” perintah Putra pada Fajar dan Fajri. Kedua anak tersebut salim tapi langsung sembunyi di belakang badan Putra .
“Jagoan Daddy enggak boleh malu begitu, ini ‘kan kakeknya kak Fajar dan kak Fajri,” bujuk Putra .
“Tateknya dede juda?” tanya Fajri dengan polosnya.
“Ya pasti, kakeknya dede Alesha juga,” jelas Putra .
“Ndak dalak?” tanya Fajri lagi. Kata-katanya membuat pak Galih tertawa ngakak.
“Kakek enggak galak koq, yang ini siapa namanya tadi?” tanyanya pada Fajri.
“Ajli.”
“Turun dong, masa di rumah Kakek koq gendongan ama Papa?” bujuk pak Galih.
“Butan Papa, ini Daddy Ajli,” jawab Fajri dengan beraninya.
“Oh bukan papa ya? Ya sudah turun, jangan gendongan gitu, katanya sudah jadi kakak, masak gendongan? Malu sama dedenya. Kakek ini papanya daddymu,” jelas pak Galih.
“Tan dede Lesha ndak liyat?” debat Fajri, menjawab ucapan pak Galih bahwa dia harus malu sama adiknya.
“Daddy di panggil Mommy,” kata Fajar dari dalam.
“Ya Kak sebentar, bilang Mommy Daddy akan masuk sebentar lagi ya,” jawab Putra . “Kak Fajri mau masuk atau di sini dengan Kakek?”
“Di sini aja, sama Tatek aja, jawab Fajri. Lelaki kecil ini memang tak takut dengan sosok yang baru dikenal.
***
“Kenapa Mom?” tanya Putra saat lelaki itu sudah mendekati Ririen di ruang tengah.
“Mama nyuruh kita di sini sampai makan malam, anak-anak ‘kan enggak bawa baju ganti, lagi pula besok hari pertama mereka sekolah, enggak pake kecapean aja mereka pasti belum terbiasa lagi dengan kegiatan pagi-pagi. Apa lagi kalau mereka kecapean. Jadi gimana enaknya?” tanya Ririen yang sedang mengupas mangga.
Ririen tak enak menolak langsung permintaan bu Rini. Hari ini adalah hari pertama anak-anak kenal dengan keluarga Putra. Ririen takut dianggap tak menghormati keinginan tuan rumah. Itu sebabnya dia meminta agar Putra menjelaskan alasannya hendak segera pulang.
“Daddy yang terangin ke mama deh, emang makan malam ada apa sih?” tanya Putra .
__ADS_1
“Mama bilang kakek dan paman mau datang sore nanti,” jawab Ririen.
“Daddy siapin baju ganti dulu ya, habis makan siang kita pulang, kalau Mommy mau, kita ke sini habis maghrib tanpa anak-anak. Tapi kalau Mommy enggak mau ya enggak apa-apa, enggak perlu maksain diri,” Putra berinisiatif mengatur keluarga kecilnya.
Makan siang hanya ada Nuna serta papa dan mamanya Putra, cuma bu Rini bilang sore nanti Hilman dan Gilar akan datang karena kakek mereka akan berkunjung.
“Ma, habis ini kami pulang ya, anak-anak besok hari pertama sekolah, jadi harus tidur cepat biar pagi enggak rewel. Buat makan malam A’a akan upayakan datang, cuma Ririen belum pasti ya, takutnya Alesha rewel karena sudah seharian ditinggal,” Putra menerangkan pada mamanya kalau habis makan mereka akan langsung pulang.
“Iya enggak apa-apa, yang penting anak-anak aja Rien, sering-sering main sini, enggak perlu di bawa A’a,” pinta bu Rini. Perempuan paruh baya ini cukup bahagia melihat perubahan sikap anak lelaki kecilnya. Kemarin masih terlihat sangat resah dan kuyu. Hari ini terlihat sangat bahagia.
***
Ririen bersiap untuk ke rumah Putra, dia minta naik motor aja karena pergi hanya berdua, dia mengenakan celana corduroy biru dongker dengan kaos biru dan sneaker biru, rambutnya diekor kuda, siapa pun tidak akan menduga dia ibu tiga anak karena masih seperti anak kuliahan saja.
Tadi sesampainya di rumah dia langsung membuat ayam panggang bumbu kemiri untuk dia bawa ke rumah Putra, Ririen terbiasa membawa buah tangan bila berkunjung ke rumah siapa pun. Putra seperti biasa selalu terpukau dengan penampilan kekasihnya. Ya sekarang dia sudah bisa menyebut perempuan itu dengan sebutan kekasih. Kebetulan Putra juga mengenakan jeans biru donker dengan atasan kaos biru, seakan mereka memang janjian dengan warna senada.
“Mom, kayaknya mulai sekarang kita emang harus begini deh, seragam tiap keluar, biar bikin orang ngiri,” cetus Putra.
“Gimana kalau kita pakai seragam SD aja?” goda Ririen. Memang sejak berniat membuka hati, sikap Ririen terhadap Putra menjadi sewajarnya. Tidak memasang pagar seperti dulu.
Menyadari digoda, Putra menjepit hidung Ririen. ”Sakit Dad,” rajuk Ririen.
“Kamu sih godain aku,” balas Putra, dia senang merasakan perubahan intonasi bicara Ririen padanya sudah berbeda 180 derajat.
Mereka sampai di rumah Galih paling akhir, kakek dan rombongannya sudah datang, begitu pula A’ Hilman dan A’ Gilar bersama istri mereka masing-masing. Selain itu juga ada beberapa sepupu pak Galih beserta keluarganya.
\==================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta