WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
IBU HAMIL ITU TERLIHAT MANIS


__ADS_3

TERIMA KASIH MASIH SETIA DISINI


SELAMAT MEMBACA



“Kamu sudah berkata saat kita cerai nanti, artinya kamu sudah mantap kita akan bercerai, sampai bertemu di Pengadilan Agama!” tukas Ririen santai.


Ricky baru sadar saat Ririen memperjelas dan mengulangi kata-kata yang sudah dia ucapkan. “Bo-doh!” umpat nya pada kebodohan dirinya sendiri. Dia masuk ke dalam rumah, dilihat nya dua jagoannya sedang makan dengan masing-masing pengasuhnya.


Ricky mengambil kopernya, diisinya dengan baju serta ijazahnya. Dia juga mengisi kardus-kardus dengan sepatu dan beberapa barangnya yang dirasa perlu. Dia akan kembali ke rumah orang tuanya.


Semua kenangan buruk itu yang barusan terlintas. Membuat Ririen tak dapat melupakan lelaki jahat itu. Lelaki yang telah beulang kali menoreh luka.


Dan sekali lagi lelaki itu juga meninggalkan sosok mungil di dalam rahimnya saat ini. Sosok mungil yang tak diketahui oleh ayahnya, tapi akan dia perjuangkan hingga waktunya lahir nanti.


***


Rumah keluarga Purwanagara mulai hiruk pikuk, banyak kerabat jauh yang datang menginap karena besok adalah acara pernikahan Hilman Purwanagara. Acara akad nikah akan dilakukan di masjid At Tin Taman Mini, dan resepsinya akan dilaksanakan di gedung museum pewayangan TMII.


Pagi ini Ririen sedang bersiap untuk menghadiri resepsi adik Manager Operasional di kantornya. Siang nanti mas Agus Wibowo akan menikahkan adik bungsunya, karena ayahnya sudah tak ada maka yang akan menjadi wali adiknya adalah dirinya.


Akad nikah berjalan lancar, Hilman yang awalnya gugup dan sempat salah 1 kali saat mengucapkan ijab kabul akhirnya membuat Wieduri Wibowo bisa menarik nafas lega karena di pengucapan kedua Himan berhasil melakukannya dengan fasih dan benar.


Ririe tak hadir diacara akad nikah. Dia sudah janjian dengan staffnya hanya akan datang diacara resepsi saja.

__ADS_1


Siang di ruang resepsi Ririen menunggu mbak Atin dan mbak Tuti yang janjian saling menunggu di pintu masuk resepsi. Nuna yang kebetulan melihat perempuan hamil berdiri di depan pintu meminta seseorang untuk memberinya kursi, Nuna tidak mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah mantan guru kakaknya, karena Nuna tidak bersekolah di SMA  Mekar Jati Rangga.


Atin yang kehamilannya sudah tinggal menunggu hari nekat tetap datang ke acara resepsi ini, membuat suaminya sangat was-was, sedang kali ini mbak Tuti terpaksa datang sendiri karena suaminya lembur di hari libur ini, mereka bertiga di kawal suami mbak Atin menaiki panggung pengantin dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


Ririen mengenali kedua orang tua mempelai laki-laki sebagai orang tua mantan siswanya saat dia mengajar dulu. Dia sempat main ke rumah siswanya tersebut sehabis survey route lomba sepeda serta saat persiapan camping akhir tahun untuk mengambil kayu bakar guna membuat api unggun.


Ternyata mama pengantin laki-laki pun mengenalinya sebagai guru favorite teman-teman anaknya. Saat mereka berkumpul di rumahnya selalu saja ada bahasan kebaikan bunda Dewi


“Bu Dewi, apa khabar?” sapa Rini Handarwati mama mempelai lelaki.


“Baik Bu, masih ngenalin aja, tadi saya mau nyapa takut salah,” jawab Ririen.


“Ini pengantin lelaki anak saya yang sulung Bu, yang nomor 2 sudah memberi saya cucu,” jelas bu Rini mama Hilman dan Putra. “Sudah berapa bulan hamilnya?” bu Rini melihat saat itu mantan guru anaknya sedang hamil.


“Ini anak saya yang ke 3, sudah 7 bulan,” jawab Ririen sambil reflek mengelus perutnya. Mari Bu.” pamit Ririen, dia tidak enak dengan antrian dari yang akan memberi selamat kepada mempelai.


Putra membatin ibu itu manis, walau sedang hamil tak terlihat kucel. Saat akan menuruni panggung terlihat beberapa pria berupaya menolongnya serta menjaganya agar perempuan tersebut aman menapaki tangga yang hanya berjumlah 4 buah dan sangat landai. Putra tetap memperhatikan perempuan itu yang terlihat senyum di bibirnya dan terbaca ucapan terima kasih, walau tak terdengar dari tempat dia berdiri karena jauh.


***


Empat tahun tak di rumah, kamarnya memang masih seperti dulu, tapi beberapa barang banyak yang out of date bahkan hilang atau rusak.Putra  tidak menemukan gitar kesayangannya di kamarnya, saat dia bertanya pada mamanya, mamanya lupa siapa yang terakhir mengambil dari kamarnya.


Tentu saja itu membuat Putra jengkel, karena gitarnya dia beli dari tabungannya sejak dia kelas 6 SD dan baru bisa beli saat dia kelas 2 SMP. Irhan ingin keluar membeli gitar baru, dia berganti pakaian. Kali ini dia menggunakan celana kain selutut warna khaki, dipadu dengan kaos pas badan berwarna coklat, kacamata hitam bertengger di atas hidungnya, sedang rambut gondrongnya di tutup topi.


Dikeluarkannya mobil keluarganya, minibus biru tua, dia malas memakai motornya karena saat ini sering hujan, dia takut bila sudah mendapat gitar lalu hujan, maka gitarnya akan rusak. Putra  belum membeli mobil. Uangnya habis untuk membeli tanah, membangun kantor, membeli barang peralatan isi kantor serta deposit 5 bulan ke depan gaji karyawannya. Dia tidak ingin karyawannya terbengkalai selama belum ada income.

__ADS_1


Putra hampir saja menabrak seorang bapak yang sedang menggendong putrinya. “Maaf Pak,” ucapnya reflek walau dia tidak menabrak orang tersebut.


“Enggak apa-apa Dek,” sahut si bapak ramah, “Saya juga enggak liat jalan karena sedang menyuapi ice cream anak saya.”


“Pak Endang?” tanya Putra  ( lafal pengucapan Endang nama laki-laki suku Sunda beda dengan Endang nama perempuan di suku Jawa ya ). Dia mengenali mantan guru Ekonomi di sekolahnya, walau dia tidak pernah diajar beliau tapi sebagai mantan KETOS tentu dia hafal guru-guru di sekolahnya, lebih-lebih pak Endang juga termasuk pembina pramuka di sekolahnya sehingga tentu saja dia sering berhubungan dengan bapak ini.


“Saya lupa namamu, kebanyakan siswa, tapi saya ingat kamu pernah ikut pramuka dan aktif di OSIS ya,” balas pak Endang.


“Saya Putra Pak,” sahut Putra sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.


“Wah maaf saya sulit berjabat tangan,” pak Endang memperlihatkan tangannya yang sedang menggendong putrinya sambil pegang ice cream.


“Kalau enggak digendong dia berlari kesana kemari, sulit saya menjaganya, istri saya sedang memilih buku untuk si sulung.”


“Oh iya enggak apa-apa Pak, bisa saya meminta nomor HP Bapak? Kami ingin membuat reuni, nanti saya akan meminta data para guru yang sudah tidak mengajar di SMA lagi, mungkin Bapak memiliki nomor para guru tersebut. Kalau yang masih mengajar ‘kan mudah saya minta di sekolah saja, minggu depan panitia reuni akan ke sekolah,” Putra  menjelaskan rencananya dan teman-temannya.


***


======================================================= 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2