WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
SEMAKIN RESAH KARENA BELUM BISA HAMIL


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Kakak enggak akan mau ketemu dengan orang yang udah ninggalin Mommy, Kakak enggak mau kenal dia,” jawab Fajar kembali menangis dan memeluk leher daddynya.


“Enggak boleh begitu sayang, biar bagaimana pun dia papanya Kakak, Daddy enggak akan tinggalin Kakak, tapi Daddy enggak suka anak Daddy seperti itu, kalau dia datang atau kita ketemu, Kakak harus salim ama dia ya, walau Kakak enggak mau ikut dia,” Putra mengajarkan anaknya sopan santun pada orang yang lebih tua.


“Iya Dad,” jawab Fajar dengan pelan. Dia tetap tidak suka pada orang yang telah meninggalkan mommynya, hanya tak berani lagi mengatakan pada Putra.


“Sekarang semua masuk kamar yok, Dadd pindahin Fajri, biar Mommy pindahin Lesha,” perintah Ririen karena Fajri dan Lesah sudah tidur.


***


Putra menemani Fajar di kamarnya hingga Fajar tertidur. Sesudah itu di kamar ternyata Ririen sudah menunggunya, Putra hafal, istrinya pasti akan membahas tuntas masalah Fajar sore tadi.


“Kakak kenapa ya Dadd, koq sampai segitunya,” Ririen membuka pilllow talk mereka malam ini.


“Daddy yakin walau selintas, dia ingat dia pernah kenal ayahnya, maka dia ketakutan bila sampai dia kehilangan kehangatan dan kenyamanan yang selama ini sudah biasa dia rasakan. Kalau Abang ‘kan belum inget sosok ayahnya, jadi seandainya tadi Abang  yang dengar pun, dia enggak akan ambil pusing. Daddy yakin walau masih kecil Kakak dulu sering mendengar kalian berantem, sehingga dia sangat ketakutan bila harus kembali hidup dengan Ricky,” begitu pendapat Putra tentang perilaku Fajar sore tadi.


Ririen kembali mengingat, memang dulu dia sering ribut dengan Ricky di depan Fajar yang masih berusia dua tahun. Mereka tak berpikir dampaknya akan seperti itu pada Fajar saat ini.


Sudah lima bulan Ririen bersuami, tapi belum ada tanda dia akan hamil, ini membuat dirinya sangat tak nyaman. Ririen mulai gelisah, dia mengeluh ke mbak Riries, dia bertanya apa kesuburannya sudah sangat berkurang sehingga dia belum dapat anak lagi? Bukan tidak mensyukuri tiga anak hasil pernikahannya dengan Ricky, tapi dia takut dikira tidak mau punya anak dengan Putra.


“Kamu jangan takut seperti itu, bila memang ingin kepastian, kamu cek berdua aja, siapa tau kendala ada di Putra ‘kan?” mbak Riries memberi gambaran seperti itu.


“Dan kamu enggak boleh stress, kalau kamu stress kemungkinan kamu juga akan sulit hamil,” nasihat mbak Riries saat Ririen konsultasi kesuburan sore ini.


***


Pagi ini Putra mendengar tangis di kamar mandi dalam kamarnya, diketuknya pelan dan di tunggunya istrinya keluar dari kamar mandi.


“Kenapa?” tanyanya sambil memeluk Ririen yang baru keluar kamar mandi.

__ADS_1


“Enggak apa-apa,” jawab Ririen pelan, dia takut menghadapi suaminya.


“Please, jangan bohongi Daddy, kita udah janji menyelesaikan semua masalah berdua kan?” bujukPutra sambil membimbing istrinya ke ranjang.


Dipegangnya wajah Ririen yang tertunduk, ditengadahkannya agar dia bisa melihat mata Ririen. Dikecupnya kedua mata istrinya lalu dipeluknya hangat pundak istrinya.


“Aku mens!” lapor Ririen pelan.


“Lalu kenapa? Normal kan kamu mens tiap bulan?” Putra belum mengerti mengapa Ririen menangis.


“Ya normal saat aku belum punya suami, sekarang sudah lima bulan menikah dan aku belum hamil juga,” tangis Ririen kembali pecah didada Putra.


“Mom, kita sudah punya tiga anak, ingat itu! Kalau pun tak ada lagi anak, aku enggak masalah koq,” jawab Putra santai.


“Daddy enggak  ingat saat Fajar terluka mendengar Fajri mirip ayahnya? Itu kan sebab omongan orang kan Dad. Daddy enggak mikir omongan orang terhadapku kalau aku enggak bisa kasih kamu anak?” tanya Ririen sedikit keras.


“Orang-orang itu harus dicolok matanya. Jelas-jelas kamu perempuan normal, bisa punya anak. Kalau dalam pernikahan kita enggak ada anak, ya berarti yang lemah itu aku, enggak bisa membuahimu! Please enggak perlu dengerin omongan orang!” Putra berupaya memberitahu Ririen kebenaran yang hakiki.


“Daddy dan keluarga enggak nuntut kita punya anak lagi, karena kita sudah punya tiga anak. Bila Allah masih kasih tambahan lagi ya Alhamdulillah, tapi kalau enggak ya enggak apa-apa,” Putra memberi pandangannya, dikecupnya kening Ririen dengan lembut. Dia tak pernah tahu Ririen tertekan karena belum hamil sejak mereka menikah.


“Kemaren sudah beli bahan untuk bikin buntil pare Mas, aku masak dulu ya, mau sarapan apa?” tanya Ririen lembut.


“Sarapan biar Mas aja yang bikin, omelet sosis keju ya,” usul Putra.


“Enggak boleh, harus tambah sayuran, cek stock sayur, tambahkan di omelet, nanti anak-anak ikutin Daddynya enggak suka sayur,” kecam Ririen, karena bila Putra yang masak maka minus sayuran.


“Siyyyyyyyyaaap Bu bozz,” goda Putra. Dia pasti kalah kalau soal seperti ini.


***


“Teteh, enak banget sih buntil parenya, Una suka banget,” puji Nuna saat mereka makan siang di Ujung Aspal.


“Jangan asal bilang suka, tapi enggak mau belajar bikinnya” goda pak Galih pada putri bungsunya itu.

__ADS_1


“Iiih Papa mah suka gitu,” sungut Nuna keqi.


Ririen yang mendengarnya hanya tersenyum, dia sedang menyuapi Alesha, sedang Putra sudah selesai makan. “Sini Mom, biar Daddy terusin nyuapin Alesha, Mommy gantian makan sana.”


“Biar aja Dadd, tanggung. Bentar lagi Dede selesai koq, habis ini baru Mommy makan,” Ririen menolak tawaran suaminya.


“Daddy, Abang boleh main ke lumah sebelah?” tanya Fajri.


“Boleh, tapi enggak boleh berantem ya?” jawab Putra saat Fajri minta izin ke rumah tetangganya, yang sudah anak itu kenal sejak sering main ke rumah kakek dan neneknya.


Setelah Alesha selesai makan, Putra bagian mengawasi Alesha karena Ririen hendak makan, saat itu bu Rini menemaninya di meja makan. “Ada yang ngeganjel enggak selama kamu nikah dengan Putra?”


“Enggak ada Ma, emang kenapa?” tanya Ririen hati-hati karena takut salah bicara.


“Takutnya anak Mama nyakitin kamu, karena kalian belum sama-sama kenal, jadi cuma salah paham tapi kalian pendam. Seperti waktu kamu liat dia duduk ama perempuan di café dulu itu,” kata bu Rini lagi.


“Cuma sering takut omongan orang aja Ma, karena sampe sekarang Ririen belum hamil,” keluh Ririen.


“Ya ampuuuuuun Rien, harusnya tu yang kepikiran dari Utha dan keluarga Utha, kenapa dia belum bisa bikin kamu hamil. Bukan kamu!” rupanya bu Rini sepaham dengan Putra.


“Mas Putra juga bilang gitu Ma, tapi Rien takut aja ada omongan gitu, padahal Rien enggak pakai pengaman sama sekali. Malah udah satu bulan ini Rien minum obat penyubur karena takut enggak punya anak ama Mas Putra,” bisik Ririen lagi.


\================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA :  MORATA, DENGAN JUDUL NOVEL  CONTRACT WEDDING 30 DAYS WITH CEO YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2