WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
DIRAWAT INAP


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Aku akan berupaya kuat, aku akan bertahan buat anak-anak dan Ibu. Biar cukup aku aja yang sakit. Aku akan berupaya kuat,” Ririen mencoba membangkitkan semangatnya sendiri, tapi enggak lama kemudian dia pingsan. Sehingga mbak Riries memutuskan membawa Ririen untuk dirawat di rumah sakit saja.


Putra  yang menggendong Ririen, meneteskan air mata, dia tidak menyangka Ririen sangat tertekan seperti ini. Saat ini Ririen sudah ada di kamar rawatnya, dia belum sadar, tangannya dipasang infus.


“Assalamu’alaykum Tha,” bu Rini menerima telepon dari putra terkecilnya.


“Ririen Ma. Ririen …,” Putra tak bisa banyak cerita. Dia terisak. Mendengar Putra menangis tentu saja Rini bingung.


“Tha, Utha … ada apa?” pekik Rini membuah Galih kaget.


“Sejak subuh Ririen enggak bisa bangun, trus dia pingsan. Sekarang dirawat di rumah sakit,” dengan sulit Putra bercerita kondisi istrinya kini.


“Astagfirullah. Ada apa lagi Tha?” Rini pun menangis mendengar kondisi menantunya.


“Mama bantuin Utha. Mama nginep di rumah temani anak-anak. Utha mau full jaga Ririen di rumah sakit,” pinta Putra pada Rini.


“Kamu tenang aja. Anak-anak biar Mama yang temani. Kamu jaga kesehatan ya,” Rini pun bersiap memasukkan baju ke koper untuk menjaga ketiga buah hati Putra dan Ririen


“Ada apa Ma?” tanya Galih.


“Ririen sakit dan Utha minta Mama jaga anak-anak di rumah karena dia mau full jaga Ririen di rumah sakit,” Rini memberitahu suaminya kondisi anak dan menantunya.


“Kamu masukkin juga baju Papa. Kita berdua yang temani cucu-cucu kita,” Galih cepat mencari kunci mobilnya.


“Mbak, tolong siapin baju ibu yang kancing depan jangan kaos biar gampang masukin tangan. Karena tangan ibu di infus. Semua pakaian dalam ibu, sandal, alat mandi. Juga baju saya ya. Sebentar lagi pegawai saya akan ambil ke rumah,” Putra langsung menghubungi nomor telepon rumah untuk memberi pesan pada pembantu rumah tangganya.

__ADS_1


Tak lupa Putra menyuruh pegawainya mengambil tas pakaian dan mengantarnya ke rumah sakit.


Putra menggenggam jemari Ririen, diciuminya sambil terus berbisik kata-kata permohonan maaf. Bu Rini yang dihubungi Putra  tentu saja kaget mendengar Ririen depresi.


Rini sangat ingin melabrak Jane, penyebab Ririen sakit seperti saat ini. Bu Rini sangat takut kehamilan yang kali ini sulit Ririen dapatkan malah keguguran karena kondisi menantunya saat ini.


Malamnya Ririen sadar, saat ada ibu dan mbak Riries di kamar, sedang Putra, ayah dan mas Teguh suami mbak Riries,  sedang ke mushola sejak salat Maghrib tadi.


“Mau minum De?” mbak Riries menawarkan Ririen teh hangat.


Ririen hanya mengangguk, dia melihat sekeliling kamar, tak dilihatnya Putra. Ibu yang mengerti langsung memberitahu kalau ayah, mas Teguh dan Putra sedang pergi ke mushola sejak sebelum salat Maghrib tadi.


Ibu menyuapi Ririen makan, karena Putra cerita sejak pagi Ririen belum sempat sarapan sebelum pingsan. Saat nasi di piring Ririen sudah habis separuh, rombongan para lelaki masuk ke ruang rawat sambil membawakan makan malam bagi ibu dan mbak Riries.


Putra sangat lega melihat Ririen sudah sadar dan sedang disuapi makan oleh ibu. Didekati istrinya, dikecup keningnya sambil diusap puncak kepalanya tanpa kata-kata.


“Mbak makan dulu, Ibu juga makan bareng mbak Riries, biar saya lanjutkan nyuapi Ririen,” pinta Putra pada ibu mertuanya. Ibu yang ingin mendekatkan kembali pasangan suami istri itu langsung menyerahkan piring dan sendok pada Putra.


Dengan lembut Putra menyuapi Ririen makan hingga habis. “Tambah ya?” bujuknya, karena dia tau porsi makan Ririen sekarang itu porsi jumbo.


“Tadi Mas beli gulai ikan mas dan juga sayur tunjang di rumah makan Padang, Mommy mau pakai apa?” tanya Putra. Dia tahu biasanya makanan itu disukai oleh istrinya.


“Nanti aja,” jawab Ririen, sambil minta minum, dia meminum obat yang sudah disediakan perawat dalam satu mangkok obat, lalu kembali berbaring. Dipegangnya lengan Putra lalu dia kembali tertidur, mungkin karena pengaruh obat. Lengan tangan Putra tetap dicekalnya kuat-kuat, seakan dia takut ditinggal oleh Putra.


Saat semua pulang, Putra mematikan lampu kamar dan membaringkan tubuhnya sebelah Ririen, dikecupnya kening dan pipi Ririen, lalu dia ikut tertidur. Jam satu malam perawat mengganti botol infus Ririen, melihat pasiennya memeluk lengan suaminya sangat kuat.


***


Empat hari di rumah sakit, Putra tetap setia dan telaten mengurus Ririen. Balasan Ririen tetap seperti biasa.

__ADS_1


Dari mbak Riries,  Putra sudah tau, Ririen akan bertahan dalam pernikahan dengannya demi anak-anak dan ibunya saja, dia tidak peduli dirinya terluka, dia juga sudah tidak akan peduli bila Putra mempunyai kekasih bahkan istri sekali pun, karena dia bilang dia sudah tidak akan memiliki cinta bagi pasangannya.


Terluka, pasti itu yang dirasakan Putra, dia menyesal membuat Ririen kembali terpuruk akibat kesalah pahaman yang terjadi. Dia hanya berharap ada keajaiban sehingga membuat Ririen kembali sadar bahwa dia hanya mencintai Ririen seorang.


Putra sadar, bagi Ririen dirinya telah tiada. Tak terlihat dimata apalagi tersimpan dalam hatinya. Ini membuat Putra sangat terpukul karena telah membuat perempuan yang dia cintai kembali terluka.


Hari ini Ririen boleh pulang, dia mendapati mertuanya ada di rumah menemani anak-anaknya karena selama empat hari Putra sama sekali tidak pernah keluar dari rumah sakit.


Empat hari full Putra ada disisinya, tidak pulang juga tidak kerja. Sayangnya dimata Ririen hal itu bukan pengorbanan atau tanda cinta, hanya suatu kewajiban yang wajar dilakukan seorang suami. Hati Ririen benar-benar sudah tertutup.


“Mamaaaa,” sapa Ririen sambil memeluk mertuanya. Memang Ririen biasa bermanja pada ssang mertua seperti dia bermanja pada ibu kandungnya.


“Maafin Ririen lagi-lagi bikin repot Mama ya,” rajuknya.


“Mama enggak merasa di repotin koq, yang penting selanjutnya kamu sehat ya, jangan cape dan jangan kebanyakan pikiran lagi,” bu Rini memeluk menantunya penuh kasih. Selama Ririen dirawat dia hanya satu kali bisa menjenguk. Karena Nuna dan Galih bisa full menjaga ketiga anak Putra. Rini diantar oleh Hilman putra sulungnya saat datang ke rumah sakit.


Putra membiarkan Ririen berbincang dengan mamanya di ruang keluarga, dia mengambilkan Ririen juice mangga yang baru saja dibuat mbak Surti, sesudah itu dia masuk kamar dan tidur, empat hari dia kurang tidur, selain itu juga pikirannya sangat tertekan melihat duka di mata istrinya. Mumpung ada mamanya, dia mencoba berisitirahat agar tidak sampai sakit.


***


\==========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA :  KOMALASARI, DENGAN JUDUL NOVEL  JERAT CINTA SANG MAFIA YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2