
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Sementara itu Sarah sedang berpikir keras bagaimana caranya mendekati Putra. Sosok yang sedang menjadi target buruannya. Sarah tak butuh uang dari lelaki yang dia kencani. Dia hanya cari kepuasan melihat kehancuran rumah tangga lelaki itu. Sarah mulai bergerilya mencari data Putra dan keluarganya.
‘Aku harus mendapatkan lelaki itu,’ demikian tekad Sarah yang selalu suka akan tantangan.
Sarah menghubungi beberapa teman yang tahu tentang Putra. Dia mudah mencari orang yang kenal Putra. Karena tahu Putra lulusan mana dan tahun berapa. Tapi yang mengesalkan adalah mereka tak punya data dan nomor ponsel Putra apalagi data keluarganya. Hanya satu yang memiliki data tentang orang tua Putra di Bekasi saja.
“Selamat siang Ibu,” sapa Sarah saat nomor yang dia hubungi berhasil tersambung. Nomor itu adalah nomor rumah, bukan nomor ponsel. Nomor rumah kan jarang berganti kecuali pemiliknya yang pindah.
Dengan segala daya upaya, Sarah akhirnya mendapat nomor ponsel Ririen dan Putra. Karena dia mengaku sudah datang ke kantor Putra tapi sulit bertemu, sedang PPI akan mengadakan acara pertemuan. Dia juga mengatakan sudah mempunyai nomor kantor Putra di Jogja.
“Bisa minta nomor ponsel istrinya Bu? Karena kami akan mendata semua pasangan dari alumni. Nanti pasangan akan membuat acara kejutan bagi suami atau istrinya. Untuk surprise bagi para alumni,” begitu alasan Sarah saat minta nomor ponsel Ririen siang itu.
‘Kita lihat, apa yang akan kau katakan nanti,’ Sarah cukup puas. Setelah telepon sana sini menghabiskan banyak pulsa, dia berhasil mempunyai dua nomor ponsel targetnya. Sekarang dia tinggal menyusun rencana saja. Sarah meyakinkan diri akan sukses memperoleh targetnya.
Sarah terus memantau semua kegiataan Putra. Baik di kantor miliknya mau pun di super market bahan bangunan yang dia pimpin. Super market milik keluarga besar Purwanagara. Dari jauh dia juga sudah mengetahui kegiatan Ririen.
“Mom. Ini ada rencana pertemuan Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia wilayah Jogja, untuk pembentukkan pengurus baru. Minggu depan Daddy akan pulang telat ya?” Putra memberi tahu Ririen sambil memberikan undangan itu
__ADS_1
Ririen tahu, saat pergantian pengurus maka pertemuan akan alot dan sering menyita waktu. Walau Putra selalu menolak duduk dalam kepengurusan. Tapi dia memang selalu ikut berpartisipasi dalam proses pemilihan. Dia tak mau jadi anggota pasif. Dia tetap aktif walau bukan pengurus.
Putra tak mau waktunya berkurang karena menjadi pengurus organisasi apa pun. Dia lebih suka waktunya untuk keluarganya saja.
“Iya Dadd, silakan aja. Kalau emang dikasih tahu seperti ini apa pernah kita saling larang?” tanya Ririen. Karena Putra pun mengizinkan Ririen aktif di organisasi yang bergerak dibidang tanaman. Entah sesama hobbies atau pedagang.
Pagi ini sehabis sarapan dan mengantar anak-anak sekolah Putra langsung berangkat menuju hotel tempat berlangsung pertemuan. Ririen sudah membekali baju ganti, takut Putra kotor atau ingin mandi saat salat nanti.
Ririen juga membawakan sebuah kaos untuk digunakan saat pulang bila Putra ingin ganti dengan pakaian santai. Dibeberapa pertemuan sebelumnya, mereka mulai pukul 08.00 dan akan selesai pukul 22.00 tapi lanjut acara santai biasa hingga pukul 24.00.
Banyak yang terus ngobrol hingga dini hari, tapi Putra pulang terlebih dahulu. Tanpa Putra ketahui, Sarah ada disana. Perempuan ambisius itu termasuk dalam bagian administrasi materi rapat. Dia ada diruangan khusus komputer. Sarah bisa mendapat posisi itu karena meminta pada teman kencannya, seorang arsitek tua yang tak bisa menolak permintaan kekasih gelapnya itu.
Pagi hingga siang agenda pertemuan adalah membahas program kerja dan evaluasi hasil program kerja kepengurusan lama. Mereka selesai saat istirahat dan makan siang serta waktunya salat Dzuhur.
Putra masuk ke sebuah kamar yang sudah ada beberapa orang yang terkena pukulan tadi. “Pada kayak anak kecil aja,” cetusnya pada beberapa rekannya.
“Bener. Jabatan enggak ada income aja pada gontok-gontokan gitu,” sahut seseorang lainnya. Sarah yang berada dalam ruang itu ikut membagi air mineral, juga kain kompres untuk wajah yang memar.
Sarah membagi pada semua termasuk Putra. Saat itu Putra tidak memperhatikan siapa yang memberi karena sedang memperhatikan rekannya yang cukup parah.
“Apa sih keuntungannya jadi ketua? Prestise? Kalau cuma nama doang, tapi giliran kegiatan enggak mau tanggung jawab dan ngebantu dana buat apa? Cuma biar nama kita disebut sebagai ketua?” kembali Putra ngomel. Salah satu kandidat ketua memang berada dalam ruangan itu.
Putra segera pamit dan hendak pulang sebelum acara selesai. Dia malas ikut kegiatan yang tidak sehat seperti itu.
__ADS_1
“Mau kemana Bro?” tanya seorang rekan profesi Putra saat Putra ingin keluar dari ruang pertemuan.
“Pulang aja lah, malas juga ngikutin hal beginian,” balas Putra dengan malas.
“Sama, yok cabut. Kita ngopi diluar aja,” akhirnya mereka berlima dengan teman lain keluar dari ruang pertemuan menuju cafe hotel di dekat lobby.
Sampai mendekati tengah malam mereka ngerumpi sambil ngopi dan bertukar cerita tentang apa yang sedang mereka kerjakan dan seputar masalah bahan bangunan serta upah pekerja kasar.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta