
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Fix sudah, Ririen takut menerima dirinya karena dia paling takut diselingkuhi, apalagi dia mendengar papanya punya istri dua. Jelas Ririen membayangkan dia juga akan dimadu oleh Putra.
Dari kampus Putra langsung menuju mall Puri Indah, dia ada pertemuan dengan kliennya. Dia menuju ke café Djournal coffee. Saat melewati café Amyrea Art & Kitchen di lihatnya Ririen dan asistennya sedang duduk dengan sepasang orang paruh baya. ‘Kenapa sih dunia sempit betul, bisa kebetulan ngeliat dia di sini ,’ pikir Putra.
Ternyata klien Putra sepasang pengantin baru yang ingin meminta Putra membangunkan rumah sesuai keinginan mereka di atas tanah yang sudah mereka miliki.
“Yank, aku ke toilet dulu ya,” si suami pamit pada istrinya untuk pergi ke toilet.
Ririen dan Tutik yang baru saja selesai meeting dengan klien bersiap pulang kembali ke kantor, mereka berpisah dengan kliennya. Ririen kaget melihat Putra sedang berbincang akrab dengan perempuan cantik dan modis berdua di café Djournal coffee yang akan dia lewati, mau mundur tanggung sudah dekat, mau maju dia tidak enak.
Dilihatnya Putra kaget melihat Ririen berjalan kearahnya. Ririen memantapkan hati, berjalan menegakkan kepalanya dan berupaya menahan air matanya agar tidak jatuh, beberapa saat pandangan mereka bertemu. Ririen masih melihat senyum Putra yang dianggapnya mengejek dirinya.
“Tut, enggak mau mampir-mampir belanja?” tanya Ririen saat disebelah kursi Putra.
“Enggalah Mbak, tanggal tua, lagian di sini mahal-mahal, bisa jebol dompet saya,” kilah Tuti
“Ha ha ha ha, bisa aja ah kamu, jadi kita balik ke kantor aja nih, apa kita main ke PRJ yok, belanja di sana,” Ririen menawarkan alternatif lain.
“Yah kayak enggak tau mbak Dewi aja, sampe PRJ enggak bakal belanja, pasti ngendon di standnya sendiri ngeliatin anak-anak kerja. Enggak mau ah,” tukas Tuti yang hafal kelakuan bosnya.
ARIENKA DEWI POV
Aku baru saja selesai meeting dengan ketua yayasan Satya Kejora yang hendak membuat laboratorium bahasa di yayasan yang mereka kelola. Nego keras karena mereka minta diskon 30% karena akan memesan tiga unit laboratorium. Tentu saja aku menolak. Profit marginku tidak sebesar itu. Mereka bersikeras minta harga dikurangi lagi tapi aku masih bertahan diharga penawaranku. Akhirnya kami memutuskan pending dulu diskusi kami dan akan dilanjutkan lagi dipertemuan berikutnya
Tuti membayar bill yang kami makan, sedang aku mengantarkan tamuku ke depan café, lalu kembali masuk untuk mengambil tasku. Saat itu aku kaget melihat Putra sedang berbincang akrab dengan perempuan cantik dan modis berdua di café Djournal coffee yang akan aku lewati, mau mundur tanggung sudah dekat, mau maju aku tidak enak nanti di kiranya memata-matai dia.
__ADS_1
Kulihat Putra sedikit kaget ketika melihatku, tapi aku tidak perduli. Aku tak tahu dia kaget beneran atau hanya pura-pura kaget.
Kutegakkan kepalaku, aku tak mau menunduk apalagi sampai menangis, beberapa saat aku menatap matanya, aku sempat melihat senyum tipis di bibirnya seakan mengejekku dan memperlihatkan bahwa dia bisa mendapat gadis cantik yang masih muda dan pastinya tidak punya tiga buntut seperti diriku.
Rasanya keputusanku untuk mencoret namanya memang keputusan yang benar. Lukaku belum mengering, mengapa harus kembali tergores?
Aku memantapkan hati, sehabis pameran akan menerima pergantian posisi, dengan menjadi BM Bali. Aku akan menjauh darinya.
ARIENKA DEWI END POV
***
PUTRA PAMUNGKAS POV
Sudah dua hari sejak pertemuan tak sengajaku dengan Ririen, aku merasa pasti dia salah paham, mengira aku sedang kencan, karena saat dia lewat suami klien ku sedang ke WC. Oh My God, ini pasti akan membuat semakin buruk citra diriku dihadapannya.Hari ini secara tidak sengaja aku bertemu dengan mas Agus dan mas Harry, manager di kantor Ririen yang sedang ngopi di Ohlala café. Aku baru saja berpisah dengan klienku. Kuhampiri mereka untuk berbasa basi.
Tak dinyana aku kaget mendengar rumors yang mereka bicarakan, bahwa sehabis pameran Ririen minta di mutasi ke Bali. Walau belum resmi, tapi permintaan itu sudah tercetus semalam di PRJ. Apa itu akibat dia melihatku berduaan dengan klien dua hari lalu, trus kemaren dia langsung punya niatan itu?
PUTRA PAMUNGKAS END POV
***
Kali ini Putra langsung bercerita pada mamanya tanpa ditanya. “Ma, A’a harus gimana lagi sekarang? Ririen mau minta pindah ke Bali sehabis penutupan PRJ, kayaknya gara-gara dia liat A’a duduk berduaan ama ceweq di café.”
“A’a juga aneh, ngapain berduaan ama ceweq kalau mau serius ama Ririen?” balas mamanya.
“Sebenernya A’a enggak berduan ama tu ceweq Ma, pas Ririen lewat suami ‘tu perempuan lagi ke toilet, jadi kesannya A’a kencan berdua,” jelas Putra putus asa.
“A’a salahnya ‘tu enggak manggil dia dan ngenalin dia, jadi Ririen merasa emang A’a lagi kencan. Kalau saat dia lewat A’a panggil dia dan ngenalin dia, ‘kan enggak bakal ada salah paham begini,” sesal mamanya.
__ADS_1
“Iya Mama bener, A’a salah. Trus sekarang gimana Ma? PRJ tinggal satu minggu lagi. Kalau baru di mutasi ‘kan enggak mungkin bisa ditarik lagi, paling enggak ‘kan dua tahun baru bisa pindah lagi,” keluh Putra.
“Besok Mama ama Nuna ke PRJ deh, Mama mau coba ngobrol ama dia,” usul mamanya. Tentu Rini akan berupaya sekuat tenaga. Kemarin dia sudah diskusi dengan suaminya, masalah Putra, tentang penolakan janda anak tiga yang membuat anaknya tertekan. Dan Rini serta Galih tak keberatan dengan status dan usia Dewi asal perempuan itu bisa membuat anak mereka bahagia.
“Enggak bisa gitu Ma, belum tentu besok pas jadwal dia ke PRJ, ‘kan dia enggak tiap hari ke sana,” kilah Putra.
“Ya enggak apa-apa, demi anak Mama, kalau besok enggak ketemu, ya Mama ulang besoknya, atau besoknya lagi sampai bisa ketemu,” hibur mamanya dengan tulus.
***
Malam ini bu Rini, Nuna, Hilman dan Wiwied main ke PRJ, mereka keliling menikmati pameran di sana dan belanja barang-barang yang mereka sukai, Hilman dan Wiwied tidak tahu tujuan utama mama mereka ke PRJ.
“Nuna,” panggil Ririen saat melihat Nuna sedang membeli fan-ta dingin dekat dengan standnya.
“Teteh, lagi cari apa?” tanya Nuna lugu.
“Teteh kerja di sini Nun. Nuna ama siapa?” tanya Ririen karena melihat Nuna membeli beberapa kaleng minuman.
“Ama mama, teteh Wiwied dan A’a Hilman, ayo Teh ke mama,” ajak Nuna dengan ramahnya.
Ririen pun mengikuti Nuna ke tempat duduk, di mana Wiwied dan mama mertuanya duduk. “Cape Ma?” sapa Ririen pada mamanya Putra sambil menyodorkan tangan untuk salim.
\====================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta