
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Setelah keluar dari parkiran gedung tempat latihan konser Putra beranjak pulang. Saat itu dia melihat tukang durian di tepi jalan.
Ririen adalah penikmat durian yang paling kuat. Menurun ke Fajri. Anak mereka yang lain suka tapi tidak maniak seperti Ririen dan Fajri.
Tanpa pikir panjang Putra menepikan mobilnya dan sibuk memilih. Tak mungkin beli sedikit mengingat anggota keluarganya banyak.
"Mborong Dadd?"
"Eh. Kamu kali yang mborong. Daddy kan emang jumlah keluarganya banyak. Dan mommy sama abang kalau makam durian enggak kira-kira," jawab Putra.
"Wah berarti aku ada di team nya mommy, Dadd," sahut lelaki itu yang ternyata Garo.
"Iyakah? Alesha suka tapi enggak maniak. Kalau udang, dia rajanya kayak Daddy," Putra membocorkan rahasia putrinya.
"Tapi hanya udang besar. Dia suka udang bakar yang tak terlalu matang," lanjut Putra.
"Iya kemaren pas bebakaran dia kelihatan suka banget sama Udang ya Dadd. Semoga aja Jingga enggak alergi jadi bisa kayak bundanya." Garo menyudahi pilihannya. Dia membayar semua termasuk yang dipilih Putra.
__ADS_1
"Lho, kenapa jadi kamu yang bayar? Banyakan Daddy lho ini belanjanya." Putra tahu uang segitu bukan apa-apa buat Garo.
Fajar dan Fajri sudah menyelidiki siapa Garo. Mereka tak mau kecolongan seperti Rezky.
Fajar dan Fajri menyelidiki masa lalu dan keseharian Garo sekarang. Keduanya jadi tahu apa usaha Garo selain memiliki nursery si jalan Kaliurang sana.
Akhirnya mereka berpisah. Garo akan ke Jalan Kaliurang dia tak bisa makan durian di rumahnya. Sang ibu tak suka bau durian.
Sebenarnya para pegawainya juga tak suka. Tapi di kebun kan udaranya lebih terbuka, sehingga lebih nyaman makan durian di kebun. Belum lagi para karyawan tak berani ngomel adanya seperti kalau dia bawa pulang durian ke rumah. Bisa dua hari sang ibu ngomel karena kulit durian masih saja berbau menyengat.
\*\*\*
"Lalu biarkan saja bagasi terbuka agar baunya hilang," Putra membawa empat durian di tangan nya. Sisanya biar karyawan istrinya yang bawa.
Ririen sejak tadi memang sudah pulang dari nursery. Dia sengaja kembali ke rumah cepat untuk menyiapkan makan malam anak-anaknya yang akan dia tinggal pergi ke rumah mbak Kasih.
"Koq sudah di rumah? Biasanya hari gini masih di keboen," Putra menghampiri istrinya dan mengecup kening kekasih hatinya itu.
"Ini nyiapin makan si kembar. Kita kan mau ke mbak Kasih. Kalau Abang enggak bakan makan di rumah sedsnv sibuk begini."
__ADS_1
"Habis mborong duren?" Ririen melihat bawaan Putra.
"Daddy lagi asik milih setelah deal harga. Eh datang Garo ikut milih lalu dia bayari semuanya." Putra cerita tentang pertemuannya dengan Garo.
"Dia gila duren juga tuh Dadd. Pernah pas lagi ngumpul bareng orang tanaman, dia bisa nyaingin Mommy," Ririen senang ada teman makan duren.
"Dia bilang begitu. Sayang dia enggak punya yeman makan. Ibunya enggak suka
Bawa durian ke rumah aja enggak boleh. Karena baunya sampai dua hari enggak hilang kata ibunya Garo. Terus pegawainya juga enggak suka," Putra bercerita bagaimana Garo harus cari tempat aman buat makan buah kesukaannya itu.
"Ha ha ha. Habis konser Abang Mommy mau janjian makan duren bareng Garo dan abang ah. Yang lain nggak usah ikut." Ririen malah punya ide akan makan duren bertiga.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA itu ya.
__ADS_1