
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Hari yang Putra tunggu sudah datang. Dengan lancar Putra menyebut kalimat ijab dan semua terdiam saat ini.
Terdengar para saksi menyebut SAH. Putra pun merasakan Ririen mengambil tangannya untuk dikecup punggung tangan dan telapak tangannya. Cium tangan seorang istri pada dirinya sebagai imam, sebagai kepala keluarga!
‘Alhamdulillaaaaah, semua telah sukses terlaksana,’ batin Putra. Dia mengecup lembut kening istrinya.
Saat ini mereka sedang mengadakan acara sungkem terhadap para sesepuh dari kedua keluarga. Hujan air mata dari para sesepuh juga kedua mempelai. Banyak nasihat yang di berikan oleh para sesepuh untuk kedua mempelai.
Kedua belah pihak keluarga sama-sama ingin pernikahan ini berjalan dengan baik. Putra dan Ririen sama-sama bisa lepas dari trauma masa lalu mereka yang telah dikhianati oleh pasangan mereka sebelumnya.
Jam sepuluh pagi mereka harus pindah ke gedung Pewayangan karena acara resepsi di mulai pukul dua belas siang. Pakaian resepsi digunakan baju adat Jogja, bukan mengikuti adat Jawa Barat. Ririen sangat manglingi dengan riasan paes. Senyum tak pernah pergi dari wajah Putra.
Ririen dan Putra mengenakan pakaian adat Jawa Barat saat akad nikah tadi.
Akhirnya jam empat sore semua keluarga besar keluar dari gedung museum pewayangan. Beberapa keluarga ikut konvoy dengan keluaga inti ke rumah yang Ririen tempati karena keluarga inti yaitu orang tua Ririen dan orang tua Putra serta kakak-kakaknya ingin mendoakan mereka di rumah yang akan digunakan keluarga baru itu tinggal.
Sebelum menikah Ririen sudah membahas dengan Putra nantinya mereka tidak akan tinggal di rumah yang sekarang Ririen tempati, karena mereka ingin suasana baru untuk keluarga mereka.
Namun tidak mungkin membangun rumah hanya dalam waktu 27 hari sejak lamaran. Maka sementara mereka tetap tinggal di rumah Ririen dulu. Ririen dan Putra sepakat akan membangun rumah baru mereka di tanah yang sudah dimiliki Putra di daerah Duren Sawit dekat dengan kantor Putra .
Jam delapan malam, baru rumah Ririen sepi dari tamu. Putra melihat istrinya sudah sangat kelelahan, baik fisik maupun mentalnya. Dia membiarkan Ririen tertidur dalam pelukannya. Sejak dua bulan lalu Alesha menolak minum ASI padahal dia belum setahun, sehingga sebelum tidur tadi Ririen mempersiapkan kebutuhan Alesha untuk menyusu nanti tengah malam.
__ADS_1
Baru jam sepuluh malam namun Ririen sudah terlelap. Putra tahu pasti semalam Ririen sulit tidur. Dipandangi wajah damai istrinya yang tidur dalam dekapannya, dikecupnya sebentar bibir istrinya “Met bobo cintaku, belahan jiwaku,” bisiknya sebelum akhirnya dia pun ikut tidur.
Jam dua dini hari Alesha bangun minta minum su5u, Ririen bangun dan membuatkannya su5u, mengukur suhu su5u formula tersebut dan memberikannya pada Alesha yang sudah bisa memegang botol sendiri, dia menggantikan celana dan alas tidur Alesha.
Ririen menunggu su5u Alesha habis, di lapnya pipi dan bibir Alesha dengan tissue basah. Alesha kembali terlelap karena sudah kenyang. Ririen memandangi wajah laki-laki muda yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya.
Ririen tidak menyangka Putra bisa sesabar itu. Mereka sudah resmi menikah, sudah sah secara negara dan agama, tapi Putra malah membiarkan dirinya tertidur lebih dulu. Dia merasa sangat bersalah terhadap suaminya. Dipeluknya suaminya, dikecupi pipinya.
Putra yang merasa ada pergerakan dari Ririen sedikit terganggu dan memeluk Ririen erat tanpa membuka matanya. Ririen memencet hidung Putra membuat suaminya menggeleng-gelengkan kepalanya karena sulit bernafas.
“Kenapa Mom, Dede bangun ya, mau Daddy yang bikinkan su5unya?” tanya Putra masih mengantuk, memang beberapa kali sebelum menikah pun dia biasa membuatkan Alesha su5u di malam hari. Putra tidak ingat saat ini dia sudah halal bila ingin bertempur dengan Ririen.
“Lagian sih kebluk, Mommy dari tadi sendirian urus Alesha. Ya udah sekarang Mommy pengen bobo lagi,” Ririen pun menyusupkan kepalanya ke dada suaminya yang biasa tidur tanpa baju.
Ririen yang mendapat serangan Putra menjadi menyesal membangunkan macan tidur. Saat ini tentu saja Putra tidak akan berhenti karena dia ingat pagar pembatas sudah dia runtuhkan tadi pagi di masjid At-Tin.
“Mom, I love you so much,” desah Putra sehabis menuntaskan serangan pertamanya pada istrinya. Dia masih di atas badan Ririen dan serdadunya pun masih anteng di markas musuh belum ditarik mundur oleh jendralnya.
Ririen hanya bisa memeluk Putra dengan hangat, dia sangat lelah karena sudah dua tahun tak pernah melakukan olah raga ranjang. Ririen berupaya bergerak untuk membuat Putra turun dari tubuhnya, tapi ternyata gerakannya membuat serdadu kecil kembali tegak berdiri sehingga Putra pun kembali menyerangnya tanpa ampun.
***
Sudah dua bulan Ririen menjadi istri Putra, rumah mereka di Duren Sawit, Jakarta Timur sedang di bangun, Ririen tetap meminta ada kandang seperti yang ada di Cilangkap, dia juga meminta space untuk green house tanaman eksclusive nya.
Sebagai arsitek tentu saja hal tersebut sangat mudah di penuhi oleh Putra. Di rumah baru itu ada satu kamar utama, empat kamar untuk anak-anak, satu kamar untuk tamu, dua kamar asisten rumah tangga, selain ruang baca dan ruang keluarga. Setiap dua kamar anak mempunyai satu kamar mandi bersama terhubung di tengah.
__ADS_1
Untungnya tanah yang dimiliki Putra cukup luas karena Ririen tidak ingin punya rumah tingkat. Putra selalu memantau pengerjaan rumahnya, dia ingin cepat selesai tapi tetap harus terkontrol sehingga tetap bagus mutunya tidak asal jadi.
Hari ini Putra mulai melakukan pemindahan tanaman-tanaman tabulampot koleksi istrinya. Dia mengingatkan para pekerjanya agar sangat berhati-hati terhadap aneka tanaman itu, dia tidak ingin Ririen marah karena pohon koleksinya rusak. Untungnya dia tidak bingung soal tenaga kerja, sehingga pindah secara bertahap lebih aman.
Tepat di bulan ke empat sejak menikah dengan Ririen rumah mereka selesai dan semua barang serta hewan dan tanaman sudah pindah semua ke Duren Sawit. Hari ini Putra dan Ririen mengundang semua keluarganya untuk datang selametan rumah baru.
Semua sangat bahagia, tak ada yang tau bahwa Ririen sangat resah, karena sudah empat bulan menikah dirinya belum juga hamil, padahal waktu Alesha hanya satu kali melakukan hubungan suami istri saja langsung jadi.
Putra mulai sibuk mengurus sekolah Fajar dan Fajri, mereka pindah ke sekolah di dekat rumahnya. Padahal Putra juga sedang sibuk menyelesaikan program study S2 nya.
Di sekolah anak-anak yang baru, tidak ada yang tau Fajar dan Fajri bukan anaknya, itu membuat Putra agak tenang karena Ririen pasti tidak stress tiap harus mengantar kedua buah hati mereka.
\============================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : SANTI SUKI, DENGAN JUDUL NOVEL DZIKIR CINTA SANG PENDOSA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1