
SEHAT DAN BAHAGIA SEMUA YAAA
SELAMAT MEMBACA
\~\~\~\~\~
Sejak subuh tadi Ririen mulai merasakan kontraksi semakin sering, pukul 03.00 dini hari tadi dia sudah menelepon mbak Ariesta atau yang sering dipanggil Riries sehingga saat ini dia sudah berada di Rumah Bersalin milik kakaknya tersebut. “Makin cepet dan makin lama kerasnya nih Mbak,” lapornya pada mbak Riesta.
“Coba aku PD ( Periksa Dalam ) dulu De’, aku juga sudah telepon dokter buat antisipasi,” mbak Riesta turun sendiri menangani adiknya, walau di Rumah Bersalin itu ada 3 bidan pegawainya serta 12 suster yang terbagi dalam 3 shift.
“Baru pembukaan 7 De’, kamu sarapan dulu ya biar kuat, minum juga hot milk cocho mu,” perintah mbak Riries.
Riries prihatin terhadap nasib adiknya yang harus berjuang sendirian tanpa suami disisinya.
Saat Ririen sedang sarapan, ibunya datang karena mbak Riries menghubunginya tadi sebelum menjemput Ririen. “Kalau sudah selesai sarapan, ini Ibu bawakan telor setengah matang yo Rien.”
“Ini aja belum habis Bu, sik ta habiskan roti dan susuku dulu ya, semoga semuanya ketelan hehe,” Ririen bahagia walau dia hamil sendirian dia tetap mendapat attensi dari keluarganya.
Sejak bercerai 8 bulan lalu Ricky tak pernah sekali pun datang menengok 2 anaknya apa lagi menanyakan tentang janin yang di kandungnya. Bahkan uang nafkah bulanan untuk kedua anaknya pun tak pernah diberikan padahal keputusan hakim adalah Ricky wajib menafkahi semua kebutuhan kedua anaknya hingga mereka berusia 18 tahun.
Pukul 09.11 lahirlah putri kecil Ririen dengan kondisi sehat dan mas Teguh mengadzani keponakannya yang bapaknya tidak tahu ada di mana. Ririen memberi nama ALESHA PUTRI, hanya nama belakangnya belum dia tambahkan, toh saat ini dia belum akan membuat akte bagi bayi ini karena bingung tidak punya surat nikah, sehingga dia tak bisa mencantumkan nama Mahendra di belakang nama putrinya ini.
Ririen sangat bahagia atas kelahiran anak ketiganya ini, harapannya mempunyai anak perempuan sudah tercapai, dia tidak sabar mendandani anaknya dengan macam-macam rok cantik, serta menguncir rambutnya dengan bermacam pita aneka warna dan jepitan rambut aneka bentuk.
***
Besok adalah acara reuni SMA Mekar Jati Rangga, saat ini sudah jam 9 malam Nanang, Putra, Eddy, Prayogi, Saripin serta Sigit masih di gedung yang besok akan di pakai mulai jam 9 pagi. Panitia wajib datang 2 jam sebelum acara.
__ADS_1
Nanang sedang menurunkan dus-dus merchandise di bantu Sigit dan Saripin. Edy dan Yogy mengecek persiapan dekorasi, meneliti panggung serta sound system. Mereka berharap pukul 22.00, malam ini semua bisa finish dan mereka bisa pulang untuk beristirahat karena pukul 06.00 besok mereka besok harus sudah di sini, 1 jam lebih awal dari panitia lainnya. Tadi semua panitia juga sudah hadir dan pulang pukul 19.00..
“Nang, kaos panitia ada sisa enggak?” tanya Putra.
“Panitia mah pas, karena kita bikin sesuai jumlah panitia, kalau kaos tiap angkatan sisanya gue taruh sini, jadi kalau ada yang datang tiba-tiba tapi belum bayar, dia bisa langsung kaos bayar di tempat” sahut Nanang
“Emang kenapa kaos lo?”
“Gue ngerasa ‘tu kaos ngepres banget di badan gue, pengen make yang agak gede dikit,” sahut Putra.
“Bagus tau, jadi macho kalo pake kaos pas badan,” Saripin menimpali obrolan ini
“Bisa aja lo Kak,” sahut Putra, Saripin dan Sigit memang 1 tingkat di atasnya, mereka angkatan 1 SMA Jati Rangga. Dan di sekolah mereka kakak tingkat semua di panggil kak atau kakak.
Pukul 22.40 malam baru mereka selesai. Pukul 23.00, akhirnya semua meluncur pulang ke rumah masing-masing.
***
Putra langsung berkeliling memeriksa persiapan semua pos, panitia memang diminta datang pukul 07.00, ternyata teman-teman panitia sangat antusias sehingga pukul 06.00 pun sudah banyak yang hadir.
Panitia menggunakan kaos orange dengan padanan jeans biru. Sedang angkatan 1 berkaos putih, angkatan 2 berkaos hijau, angkatan 3 berkaos biru dan angkatan 4 berkaos abu-abu.
Selain kaos orange semua panitia tetap dapat kaos sesuai angkatannya, sehingga bila ingin berfoto dengan teman seangkatan mereka bisa ganti kaos atau double biar enggak belang saat foto angkatan.
Pukul 08.00 tamu mulai berdatangan, pekik bahagia, peluk cium melepas kangen sudah mulai terlihat setiap sudut. Tak sengaja Putra melihat Ayu sedang ngobrol dengan teman-teman angkatannya. Putra langsung menjauh dari sudut itu, dia menghampiri Maya kakak kelasnya yang bertugas di seksi konsumsie, Putra minta 1 kotak snack, karena tadi tidak sempat sarapan.
Putra sedang ngobrol dengan Sanih serta Putro dan Gugum saat Sanih berteriak lantang “Bundaaaaaaaa,” sambil berlari ke arah belakang Putra.
__ADS_1
Putra berbalik badan, dilihatnya silhuet wanita kecil yang menurut penilaiannya terlihat sedikit montok, pinggulnya cukup besar, rambut sedikit dibawah bahu, menggunakan rok span dilapis helai asimetris berwarna ungu polos serta blouse bertangan ¾ dengan motif bunga-bunga berwarna dasar ungu, serta sepatu berwarna ungu tua dengan tas ungu pula.
Putra langsung ingat kartu nama ungu muda yang Yogi pernah perlihatkan pada teman-temannya.
Dia menyadari rupanya bu Dewi penyuka warna ungu. Dilihatnya Sanih memeluk erat guru pujaan anak Kemdur itu. Satu persatu anak kemdur menyalami atau memeluknya, sedang siswa lain hanya berani menyalami saja.
Putra merasakan ada yang tidak biasa dengan detak jantungnya saat tadi mengamati bu Dewi dari jauh. Dia belum menghampiri gurunya tersebut, dia tetap mengawasi semua panitia sambil sesekali melihat kemana pun bu Dewi bergerak.
Bu Dewi duduk dideretan guru, asyik berbincang dengan temannya, kadang berdiri berpelukan dulu bila ada teman sejawatnya yang baru datang.
Akhirnya Putra menghampiri deretan kursi para guru, dia menyalami semua guru yang sudah hadir. “Apa kabar kamu?” tanya bu Dewi padanya saat dia bersalaman dengan mantan gurunya itu.
Putra merasakan debar jantungnya makin keras saat menggenggam tangan halus gurunya itu, di tatapnya mata bening bu Dewi “Baik Bun. Bunda apa kabar?”
“Alhamdulillah sehat,” bu Dewi berupaya menarik tangannya yang masih dalam genggaman Putra. Putra menyadari kekeliruannya, dia segera melepas tangan bu Dewi dan menyalami pak Marno, guru olah raganya yang masih terlihat sangat gagah.
‘Aaaahhhhhhh dia sangat cantik,’ puji Putra dalam hatinya.
’Wajah bunda Dewi terlihat matang enggak kekanak-kanakan seperti saat masih mengajarku dulu,’ batin Putra.
Putra tidak tahu bila mantan gurunya itu terpaksa dewasa karena keadaan rumah tangganya yang mengharuskan dia menerjang ombak sendirian dengan 3 balita di atas perahunya.
===================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta