
SELAMAT MEMBACA
\~\~\~\~\~
Hari ini tanpa meeting, Ririen jenuh, dia mulai bosan dengan data dan telepon kantor yang selalu ada saja yang ingin bicara dengannya. “Mbak Tuti, keluar yok, kita lihat cabang Monginsidi atau Neli Murni,” ajak Ririen pada sekretarisnya.
Ririen ingin melihat kantor cabangnya. Jalan Walter Monginsidi adalah cabang Jakarta Selatan dan jalan Neli Murni adalah cabang Jakarta Barat.
“Sepertinya enakan ke Enim, cabangnya pak Theo aja deh Mbak, karena saya lihat laporan mbak Fitri koq kayaknya ngawur,” usul Tuti, melaporkan kinerja administrasi kantor cabang Jakarta Utara.
Mereka keluar, meninggalkan mbak Atin untuk jaga kantor. “Mbak, kalau ada orang kantor yang tanya saya keluar kemana, bilang enggak tau ya, suruh langsung hubungi HP saya aja,” Ririen tidak ingin sidaknya bocor.
Di jalan Muara Enim Jakarta Utara, Ririen melihat kantor agak lengang, ruang administrasi kosong, pak Theo ada di ruangannya sedang brieffing dengan beberapa marketingnya. Theo yang melihat kehadiran Ririen kaget.
“Selamat siang bu Dewi, silakan Bu, biar para marketing saya bisa mengenal Ibu,” Theo mempersilakan Ririen untuk ikut membantunya.
“Selamat siang, apa khabar pak Theo Wenas? Selamat siang semua,” sapa Ririen pada anak buah Theo.
“Bisa beri motivasi untuk mereka Bu?” pinta Theo hormat, walau usia Theo jauh di atas Ririen, tapi kemampuan Ririen bukan tandingannya. Hanya dalam tempo 3 bulan Ririen sudah diangkat menjadi TM, lalu 5 bulan kemudian sudah menjadi BM, padahal Theo sudah 3 tahun menjadi TM, belum bisa naik jenjang.
“Wah saya datang kesini koq seperti ular cari penggebuk ya?” Ririen melontarkan canda agar tidak kaku.
“Sebenarnya saya enggak bisa apa-apa, jadi saya sekarang hanya sharing tentang motivasi aja ya, nanti bila ingin diskusi tehnik penjualan kita tentukan hari aja biar marketing dari semua cabang bisa sekalian hadir,” Ririen merendah pada para marketing yang hadir disana.
Lalu Ririen pun berbagi cerita dengan marketing yang ada. Dia tak pelit ilmu. Semua yang ditanya akan dia jawab sebisa mungkin.
Selesai sharing, Ririen menanyakan laporan cabang, dan menanyakan kemana Fitri yang sejak tadi tidak terlihat di kantor. Theo melaporkan akhir-akhir ini Fitri sering ke kantor produksi lalu dia membantu distribusi order, mengirimkan barang ke konsumen.
__ADS_1
“Mbak Tuti, laporan order Jakarta Utara bagus enggak?” tanya Ririen.
“Itu yang saya bingung, dari bagian produksi laporannya beda dengan laporan Fitri ke kita,” Tuti memperlihatkan data yang tadi dia minta ke Atin.
Theo kaget, karena bonus penjualan cabang dan bonus marketing semua lancar tidak ada yang mengeluh, artinya di cabang semua oke, mengapa ke pusat laporannya beda. Theo mengambil buku di meja Fitri dan mencocokkannya dengan data yang ada di Tuti.
“Coba buka file di computer Fitri aja pak Wenas, kita lihat mengapa ada beda antara yang di buku dengan yang dia laporkan ke pusat,” perintah Ririen pada Theo.
Tuti menyalakan computer dan mencari file di sana, namun tidak ada file apa pun, rupanya Fitri menyimpan datanya dalam disket, dan disketnya tak ada di kantor.
“Ok pak Wenas, saya pamit. Tolong nanti begitu Fitri datang minta semua data dan besok bawa ke meeting kita. Jangan sampai Fitri bisa merubah data, minta semua data kerja kantor di bawa,” Ririen geram akan kinerja tidak becus bawahannya.
“Iya Bu, akan segera saya minta, maaf saya tidak tahu kebohongan data yang terjadi ini. Saya janji Fitri enggak akan berkesempatan merubah data,” Theo Wenas sungguh sangat malu karena bisa kecolongan seperti ini.
“Saya juga sudah kordinasi dengaan bagian pengiriman dan produksi. Staff administrasi tidak diperkenankan mengantar barang karena kita punya banyak tenaga pengiriman. Jadi tolong tegur Fitri,” lanjut Ririen.
***
“Kuat sampai rumah enggak Mbak? Saya enggak bisa nyetir, mau nganter juga bingung,” Tuti mengkhawatirkan atasannya yang terlihat pucat.
“Bisa koq, saya tahan kalau sampai rumah, tapi kalau antar kamu ke kantor dulu kayaknya enggak bisa,” keluh Ririen.
“Ini jauh banget, apa bener Mbak kuat, enggak minta pak Wenas antar aja Mbak?” Tuti beneran khawatir.
“Saya ikut sampai rumah Mbak aja, nanti saya minta suami saya ngejemput di rumah Mbak deh, saya takut kalau Mbak pulang sendirian,” Tuti berkeras menemani Ririen untuk sampai ke rumahnya.
Sesampai di rumah Ririen minta mbak Riries untuk kerumahnya, kakak tertuanya itu seorang bidan di RS ISLAM Cempaka Putih. Tuti masih menemaninya sambil menunggu suaminya menjemput.
__ADS_1
Mbak Riries memeriksa Ririen dan memerintahkan Ririen bedrest minimal 3 hari karena kondisinya sangat drop. Dia juga langsung memasang infus karena Ririen tidak mau di bawa ke rumah sakit.
Sebagai seorang ibu mbak Riries mengerti, adiknya pasti bingung bila dia dirawat dirumah sakit, siapa yang akan mengawasi 2 balitanya, sedang adiknya itu sudah tidak punya suami.
“Tut, tolong kamu atur ulang jadwal meeting saya ya, hari Senin depan baru saya masuk kantor, karena 3 hari bed rest kan sampai hari Jum’at,” perintah Ririen. “Semoga saya enggak makin drop.”
“Baik Mbak, sekalian saya pamit, itu suami saya sudah datang,” pamit Tuti. Sekretarisnya ini memang paling mengerti kondisi Ririen.
Mbak Riries memberitahu 2 adiknya yang lain tentang kondisi Ririen saat ini sehingga mereka segera datang ke rumah Ririen. Ririen meminta ibu jangan dikabari karena akan membuatnya panik.
Tengah malam Ririen menangis, kehamilannya sekarang tanpa suami dan harus bed rest sungguh sangat menyakitkan. Dia menahan isaknya, tidak ingin mbak Riries terbangun, mbak Riries memang menginap di rumahnya karena memantau ketersediaan cairan infus.
Semua kejadian buruk masa lalu itu melintas dibenak Ririen datang tak beraturan. Kadang memori lama bercampur dengan memori terbaru. Semua berputar dalam benaknya dan itu semuanya menyakitkan.
Dan semua hal itu membuat dia tak ingin menjalin hubungan percintaan lagi dengan pria mana pun. Lebih-lebih dengan anak kecil mantan siswanya.
‘IMPOSSIBLE LOVE,’ pikir Ririen. Anak aneh. Baru bertemu koq bilang suka. Rasa trauma Ririen semakin menjadi. Dia tak ingin kembali terluka.
***
Sebelum masuk rumah, Putra mampir toko langganannya untuk membeli rokok 1 pack serta beberapa kaleng minuman soda serta beer. Beer minuman yang biasa dia teguk sejak tinggal di London.
Putra menyimpan minuman kaleng tersebut ke dalam kulkas, mamanya yang melihat Putra mengisi stock minumannya hanya bergumam lirih, dia sedih karena sejak Putra pulang ke Indonesia Putra memperlihatkan kebiasaan buruknya itu.
\===================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
__ADS_1
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta