
HARI INI HARI SENIN LHO, AYO BERIKAN VOTE YANG KALIAN DAPAT GRATIS DARI NOVELTOON/MANGATOON KE NOVEL INI.
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Putra menyusul Ririen ke dapur, memeluknya dengan posesive dari belakang. Diletakkannya wajahnya di bahu Ririen, dan dikecup leher Ririen, membuat Ririen bereaksi segera menjauh, tapi sayang pelukan Putra tidak cukup kuat dilepaskan oleh Ririen.
Putra membalikkan tubuh Ririen agar berhadapan dengannya, ditatapnya mata Ririen lekat, dia mencari rasa rindu di sana, mencari rasa cinta untuknya. Didekatkannya wajahnya, dikecupnya bibir Ririen sebentar, lalu dia mencium kening Ririen lama sebelum dia memeluknya lagi.
”I really really miss you Mom, jangan menjauh lagi, Daddy enggak sanggup tersiksa lebih lama.” ucap Putra jujur.
“Aku bikin minum dulu ya, kamu tunggu di depan, kita bicara sampai tuntas” tukas Ririen. Di buatnya dua gelas teh sereh jahe dan dikeluarkannya kue lumpur yang dia bawa dari rumah ibunya sore tadi.
“Silakan bicara,” perintah Ririen, saat sudah selesai meletakkan kue dan minumannya.
“Dari tadi Daddy tanya, Mommy enggak jawab. Enggak kangen ke Daddy?” Putra menatap manik mata Ririen dalam-dalam, dia ingin mencari kebenaran di sana
“Perlu dijawab?” Tanya Ririen ogah-ogahan.
“Jadi hanya Daddy dan anak-anak aja yang punya rasa kangen, Mommy enggak?” desak Putra.
“Udah ah enggak usah dibahas hal itu,” tolak Ririen, dia tidak mau mengakui dia juga sangat merindukan attensi Putra yang selama ini dia terima. Bahkan dia merindu dengan sangat. Tapi dia enggak akan mengakui perasaannya di depan anak kecil ini.
“Waktu itu Mommy minta kita menjauh selama Mommy pameran, Mommy bilang biar kita tau bagaimana sebenarnya perasaan kita masing-masing, itu sebabnya Daddy ndesak Mommy ngejawab, karena jawaban Mommy bisa menjadi tolok ukur apa yang Mommy rasakan terhadap Daddy,” ucap Putra
__ADS_1
“Mommy tahu, selama pameran kemarin Daddy lima kali ke PRJ untuk melihat-lihat bahan bangunan, design rumah dan lain-lain yang berhubungan dengan kerjaan Daddy, dan Daddy berupaya enggak mendekati stand Mommy untuk melihat Mommy dari jauh, agar Daddy bisa benar-benar mengukur bagaimana perasaan ini buat Mommy dan anak-anak,” cerita Putra.
“Ya enggak akan cari aku lah, wong udah ada yang baru ‘kan?” cecar Ririen tanpa sadar kembali memperlihatkan kecemburuannya. Yanktie tanya, cemburu bukannya tanda cinta ya bu Dewi?
Putra memegang dua tangan Ririen, dikecupnya lembut, “Kamu salah duga Mom, yang kamu lihat itu klien Daddy, dia datang dengan suaminya, saat Mommy lewat suaminya sedang ke toilet. Mama juga nyalahin Daddy, kenapa saat itu Daddy enggak panggil kamu dan kenalin dia dengan kamu, saat itu Daddy lagi bingung aja, mau panggil kamu takut kamu marah karena saat itu kamu minta aku menjauh, enggak manggil ya begini, kamu salah paham dan nuduh Daddy mendua.”
“Daddy juga tau waktu di rumah kamu kaget papa punya istri dua dan kamu takut Daddy sama dengan papa ‘kan? Daddy enggak seperti itu, dan awal papa menikahi bibi juga bukan karena cinta, tapi soal pelimpahan tanggung jawab, walau akhirnya papa dan bibi saling cinta, tapi mama pun santai aja, karena papa menikah bukan karena selingkuh.”
“Harusnya apa-apa tu dikomunikasikan, enggak cari tau sendiri sehingga akhirnya sakit hati. Daddy enggak pernah secinta ini, Daddy sudah berupaya menekan ego, Daddy berupaya enggak bikin Mommy marah, karena Daddy sangat takut Mommy tolak lagi, lagi dan lagi.”
“Sekarang kamu bilang, Daddy harus berbuat apa biar Mommy percaya? Daddy harus gimana biar bikin Mommy tau kalau Daddy serius, apa ujian satu bulan kemaren belum cukup? Daddy harus mohon gimana lagi?” Tanya Putra putus asa.
“Mommy mau Daddy mencium kakimu dan memohon? Atau mau hal lain? Bilang Mom, jangan diem aja, jangan bikin Daddy stress,” pinta Putra sambil dia berlutut di depan Ririen yang duduk di kursi.
Ririen mengusap pipi Putra lembut, dia tidak tahu lagi harus bilang apa. Putra masih berlutut di depan Ririen, dia merasakan jemari Ririen di pipinya, dipegangnya tangan Ririen dan dikecupnya, matanya masih menatap mata Ririen yang sekarang terlihat ada genangan air mata yang belum jatuh.
“Cukup, jangan nangis lagi, kamu tau, kalau kamu nangis ‘tu Daddy merasa terluka. Jangan takut gelombang, kita akan menempuhnya berdua, Daddy enggak akan tinggalin kamu apa lagi ngeduain kamu. Buat dapetin kamu aja segini susahnya. Hapus traumamu, enggak semua laki-laki tu sama,” Putra berupaya menguatkan Ririen.
Putra ingat kata-kata mamanya bahwa Ririen takut menerima cinta Putra bukan hanya karena trauma dengan kelakuan mantan suaminya. Tapi ada hal lain. Dan dari Nuna dia tahu kalau Ririen takut Putra akan memiliki istri dua seperti papanya.
“Aku enggak janji akan menerimamu, tapi aku akan berupaya memberimu kesempatan. Namun bila satu kali aja kamu nyakitin aku, aku enggak akan pernah memaafkanmu,” akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Ririen.
Ririen sudah melihat kesungguhan dari sikap dan kata-kata Putra barusan. Anak kecil ini dia rasa memang serius mencintainya dengan tulus.
“Makasih ya Love kamu ‘dah kasih kesempatan, tapi kamu harus tau, pekerjaan kita sama-sama riskan terhadap kesalah pahaman, kita harus saling terbuka dan enggak boleh asal menduga. Aku takut kamu salah duga lalu langsung kasih vonis enggak memaafkan, aku enggak mau itu terjadi. Aku akan selalu setia,” janji Putra.
__ADS_1
“Promise?”
“Keep my promise.”
Lalu mereka mulai membuka diri. Ririen menceritakan awal kenal dengan playboy bernama Ricky, dia yang polos mau aja tergoda bahkan hampir menjadi korbannya. Dia menceritakan soal penggerebegkan yang dia lakukan di Karawang dan di Condet untuk memberitahu kalau Ririen tahu perselingkuhan yang dilakukan Ricky. Karena kalau tak langsung didatangi seperti itu Ricky bisa saja berkelit.
Ririen juga menceritakan Ricky tidak pernah memberinya attensi soal kehamilan, ASI bahkan attensi ke anak-anak.
Putra menceritakan cinta pertamanya pada Ayu yang dikhianati lalu membuatnya menjadi bad boy.
“Hanya ada satu perempuan yang pernah jadi masa laluku, yang lain hanya figuran.”
“Waktu pertama kali nakal, trus main perempuan ‘tu gimana? Koq laki-laki bisa sih main celup tanpa harus ada rasa suka?” tanya Ririen penasaran medengar Putra bisa berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain.
“Laki-laki kalau sudah nafsu ya orientasinya penuntasan, enggak mikir perasaan, yang penting ada lubang yang bisa menuntaskan ya udah, gitu aja,” jelas Putra.
Saat ini Putra berbaring dengan paha Ririen sebagai bantal, Ririen mengusap dagu Putra yang mulai kasar.
\========================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta