WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
SEMUA KARENA INSTINK


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Ya koq kamu bisa? ‘Kan belum pengalaman?” tanya Ririen. Perempuan itu tentu serius tak habis pikir mengapa para lelaki bisa datang ke lokalisasi, making love bayar lalu pulang.


“Ha ha ha, kamu pertama making love gimana coba? Apa udah mahir? ‘Kan enggak, semua karena instink aja kan. Stop pembahasan itu ah, juniorku bangun nih,” Putra menunjuk juniornya dengan pandangan mata.


“Kamu bobo sana, aku pulang ya, udah mau pagi,” kata Putra, tapi tetap berbaring.


“Kamu bobo di kamar anak-anak aja ya, biar besok pagi mereka bangun ada Daddy nya di kamar mereka. Malam ini jangan pulang, kamu juga belum tidur ‘kan sejak kemaren?” tebak Ririen.


“Ok, aku tidur dengan mereka,” jawab Putra tanpa membahas tebakan Ririen kalau dirinya belum tidur sejak kemarin.


“Di kamar tamu ada kasur besar, aku ambilkan sprey, kamu pakai kasur itu aja di lantai ya? Bangun dulu dong aku ambilkan sprey nya.”


“Malas, udah nyaman di pangkuanmu,” kata Putra manja.


“Katanya nyuruh aku tidur, gimana sih?” rajuk Ririen.


Putra bangkit dan dia sempatkan mencuri kecupan di bibir Ririen, lalu dia mengangkat kasur dari kamar depan. Setelah kasur terpasang sprey dengan rapi di lantai, Putra memindahkan Fajar dan Fajri dari kasurnya masing-masing ke kasur di bawah, nanti dia akan tidur diantara kedua anaknya itu.


“Good night my princess,” Putra memeluk erat wanita pujaannya, dan dia ******* bibir Ririen dalam-dalam, sekarang Ririen membalasnya, dan memeluk erat Putra saat mereka berciuman.


“Udah ah, aku mau bobo,” Ririen melepaskan pelukan mereka untuk menyudahi aktivitas yang mulai nakal.


***


Fajri bangun dan kaget ada daddynya dipelukannya, dia juga melihat kakaknya ada di bagian kaki daddynya. Dia langsung menciumi Putra, menggusel-gusel pipi Putra. “Daddy banun, banuuuun,” rengeknya.


Putra yang masih ngantuk malas bangun, tapi Fajri sudah duduk didadanya sambil mengguncang lengannya. “Ya sayang Daddy sudah melek nih, tapi Daddy enggak  bisa bangun, kaki Daddy dipeluk kakak Fajar. Sini kita bobo lagi, Fajri Daddy peluk ya,” bujuknya, sebenarnya dia ingin kembali merem.


Namun rencana Putra gagal total, karena selain Fajri, saat ini Ririen sudah masuk menggendong Alesha dan meletakkannya di sebelah Putra lalu dia keluar kamar.


Putra menciumi Fajri dan Alesha bergantian, walau masih ngantuk, tapi dengan kehadiran dua krucil itu tentu saja rasa kantuk hilang. Karena Fajri tertawa kegelian maka Fajar bangun. Terlihat binar bahagia di matanya karena dia tahu semalam tidur bersama daddynya.


“Waktunya mandi, ayo kakak-kakak cepat bangun, besok mulai sekolah, enggak boleh terlambat ya. Dad, besok kakak Fajar masuk SD lho,” lapor Ririen.

__ADS_1


“Wah anak Daddy sudah tambah pinter ya, besok Daddy antar di hari pertama ya. Sekarang kalian mandi dulu. Mereka ber lima keluar kamar berbarengan. Alesha digendongan Putra sementara Ririen menggendong Fajri, sambil membukakan baju putra keduanya itu.


Sehabis memandikan Fajri, Ririen mengambil Alesha untuk dia mandikan, sedang Putra di minta memakaikan baju Fajri. “Dad, kamu mau pulang jam berapa?” tanya Ririen saat mereka sedang sarapan.


“Ngusir?” tanya Putra bercanda.


“Aku mau keluar rumah, enggak enak kalau kamu masih di rumah. Atau kamu jaga anak-anak deh ya biar aku agak bebas,” jawab Ririen.


“Mau kemana? Daddy enggak boleh antar?” tanya Putra.


“Isi kulkas ‘kan kosong ditinggal 1 bulan full, lagi pula pembalutku habis, enggak bisa nunda,” jelas Ririen, memberitahu dia mau ke mana.


“Ya sudah Daddy temani, pakai mobilmu aja ya, sekalian ambil coklat dan baju ganti Daddy buat besok pagi antar kakak Fajar hari pertama masuk SD,” usul Putra. Semalam kan dia kesini naik motor.


“Kata mama kamu tiap hari beli coklat ya?” Ririen memastikan cerita mama Rini.


“He he, mau beli martabak bisa basi karena yang doyan martabak ada di sini, ya beli coklat aja. Enggak tiap hari, pas ke warung beli rokok aja,” Putra membenarkan tapi juga sambil menggoda.


“Padahal Mommynya yang biang coklat, malah hanya anaknya yang dibeliin coklat,” gerutu Ririen.


“Ih, enggak ada manis-manisnya. Jauh beda lah ama permen coklat,” sahut Ririen walau sedikit tersipu. Dia ingat ciuman panas mereka semalam.


“Mommynya dibelikan pabrik coklatnya aja mau?” seperti biasa Putra menggoda sambil memainkan alisnya.


***


“Ayo Dad, jangan kesiangan, Mommy sudah enggak punya persediaan pembalut lagi,” rengek Ririen. “Mbak, ade ora ta gowo, aku keluar beli isi kulkas karo pembalut sik ya, Fajar karo Fajri  kayaknya mau ikut,” Ririe memberi tahu pengasuh Alesha, bahwa bayi itu  tak di bawanya.


Putra sangat senang mendengar kemanjaan Ririen padanya. Juga sangat senang karena Ririen sudah mengganti panggilan mereka. Semalam adalah hari istimewa, Putra akan membuatnya menjadi tanggal bersejarah. Dia langsung mengambil ponselnya.


 “Mommy sama Daddy mau pergi, kak Fajar dan kak Fajri tinggal di rumah ya,” goda Putra.


“No Daddy, aku ikut,” sela Fajar sambil berlari memeluk erat pinggang Putra.


“Atu juda itut,” rengek Fajri minta digendong Putra.


Ririen mencubit perut Putra, menghukumnya karena sudah menggoda anak-anak. “Ampun Mom, sakiiiit,” keluh Putra yang merasakan cubitan Ririen memang sangat sakit karena di putar jepitannya.

__ADS_1


“Belanja dulu atau ke rumah mama dulu?” tanya Putra saat mereka baru keluar rumah.


“Belanja dulu ya, jadi Mommy bisa langsung ganti pembalut, baru ke rumahmu,” pinta Ririen.


“Inget enggak pas kita camping dulu, Mommy minta antar Daddy beli pembalut?” tanya Putra.


“Inget, tapi ‘kan waktu itu bukan buat Mommy, buat cadangan peserta camping yang tiba-tiba berhalangan, waktu itu ‘kan yang harusnya bawa pembalut tu si Lian, dia seksi perlengkapan, tapi dia lupa, pas mau kamu antar Lian, enggak boleh ama Herman ‘kan, jadi kepaksa Mommy yang ambil alih karena Mommy sekalian pengen jajan coklat,” cerita Ririen.


“Waktu itu kamu enggak punya rasa suka ‘kan ke Mommy?” tanya Ririen ingin tahu.


“Boro-boro,” seru Putra cepat.


“Ih, enggak usah nyolot gitu deh,” sungut Ririen.


“He he, jangan marah dong, ‘kan emang saat itu belum cinta, masak mau membohongi diri sendiri?” bujuk Putra.


“Tau, tapi enggak perlu nyolot ngomongnya,” sungut Ririen lagi.


“Jangan kesinggung dong, enggak maksud nyolot koq, cuma memberi penekanan saat itu enggak punya rasa apa pun selain rasa hormat,” Putra mengambil tangan Ririen untuk di kecupnya.


“Jangan marah ya … ya … ya?” goda Putra dengan alisnya.


“Ya udah, sekarang balik seperti dulu aja. Enggak usah punya rasa suka. Balik ke rasa hormat aja,” balas Ririen dengan nada masih kesal.


\==============================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER   YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2