
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Itu sebabnya tadi begitu masuk rumah Fajar menasihati adik-adik perempuannya untuk bersikap manis dan tidak rewel. Dia tahu Daddynya sedang tertekan ditinggal belahan jiwanya tanpa berita sejak tadi pagi.
“Dadd, habis ini aku keluar ya. Mau ke rumah teman. Kami mau diskusi,” Fajar minta izin pada Putra.
“Biasanya diskusi disini Mas, koq tumben sekarang pindah tempat.” tanya Putra.
“Teman-teman ingin suasana berbeda Dadd,” Fajar memberi alibi yang masuk akal.
“Baiklah. Jaga tata krama dirumah orang ya,” nasihat Putra pada anak sulungnya itu.
“I will Dadd,” janji Fajar dan meneruskan makan malam yang kali ini dengan situasi senyap. Setelah makan malam Putra keluar rumah menggunakan jacket dan membawa ransel kuliah seakan benar hendak belajar.
***
“Pakde sudah bilang Mommy mu untuk sabar dan menyelidiki dulu. Tapi Mommymu sepertinya sulit menerima. Luka lamanya sangat membekas. Jadi Pakde dan Bude menemui jalan buntu.”
“Menurutmu gimana Mas?” Ilham meminta pendapat anak muda didepannya ini. Anak muda yang menjadi terpaksa cepat dewasa karena keadaan.
Tadi Ririen sudah menceritakan semua pada Fajar dan memperlihatkan foto-foto yang dia terima.
__ADS_1
“Kalau soal perselingkuhan Mommy memang sudah terlanjur luka. Tak akan bisa disembuhkan. Karena dia bukan satu kali dikhianati, tapi berkali-kali. Tapi aku yakin seyakin-yakinnya, Daddy enggak bakal selingkuh. Karena Daddy tak bisa hidup tanpa Mommy. Membayangkan ditinggal Mommy saja Daddy pernah depresi,” sahut Fajar pelan.
“Bagaimana kalau kita temui Daddymu? Lalu kita ceritakan semuanya agar kita bisa dapat solusi terbaik. Pakde takut bukan hanya Mommy mu yang stress. Daddy mu juga stress berpisah dengan Mommymu saat ini.” Ilham bertanya pada Fajar.
Ilham baru tahu Putra pernah depresi membayangkan akan ditinggal Ririen. Terlebih saat ini, Ririen sudah meninggalkannya tanpa berita.
“Kalau begitu kita kerumah aja Pakde. Kalau kita pergi berdua Mommy curiga. Aku akan bilang pamit pulang aja. Aku tunggu Pakde dirumah,” sahut Fajar.
“Jagain adek-adek ya Mas,” pinta Ririen saat Fajar pamit pulang.
“Mommy kapan pulang?” tanya Fajar sambil mengecup pipi ibundanya tercinta.
“Mommy minta waktu untuk mendinginkan otak dan hati Mommy dulu. Mommy enggak ingin adik-adikmu mendengar orang tuanya berantem,” sahut Ririen pelan.
“Daddy tidak sama dengan lelaki itu. Sepanjang yang Mas ingat, enggak pernah Mas lihat Mommy berantem dengan Daddy. Padahal saat Daddy dan Mommy menikah, Mas sudah lebih besar daripada saat Mommy dengan lelaki itu.”
Ririen tertegun mendengar kata-kata penuh kepedihan dari anak sulungnya. Fajar mengatakan bahwa sejak kecil dia sudah mendengar dan melihat pertengkaran dengan Ricky.
Fajar juga mengatakan malah tak pernah melihat pertengkaran Ririen dan Putra. Ririen menyesal pernah memberi pengalaman buruk pada anak-anaknya.
***
Fajar masuk kamarnya, saat memasuki rumah, dia melihat Putra masih di gazebo, ruang terbuka keluarganya untuk menerima tamu. Karena rumah mereka memang dirancang tanpa ruang tamu yang tergabung dengan rumah. Ruang tamu mereka dihubungkan dengan selasar bernaungan saja agar bila hujan tuan rumah bisa ke ruang tamu dengan aman.
Tadi dia hanya menyapa daddynya dan minta izin langsung masuk kamar karena lelah dan masih banyak tugas. Dia tak ingin salah ucap. Biar pakde Ilham saja yang membantu permasalahan kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Assalamu’alaykum,” sapa Ilham saat tiba di gazebo rumah adik angkatnya itu. Dia melihat malam-malam adiknya tumben berada di luar rumahnya.
“Eh … wa’alaykum salam Mas … eh Bang,” sahut Putra. Dia sampai salah sebut karena tidak konsentrasi. Bahkan dia tak menyadari kehadiran tamu di gazebonya.
“Mbok, bikinkan tiga gelas kopi dan bawa ke gazebo dengan kuenya sekalian ya,” pinta Fajar saat mendengar ada mobil masuk ke halaman parkirnya yang besar. Karena halaman parkir juga untuk konsumen nursery jadi harus cukup memuat beberapa mobil tamu diluar mobil milik keluarga.
Fajar bersiap keluar bila kopi sudah diantar kedepan.
“Apa khabarmu?” tanya Ilham. Dia melihat pandangan Putra sudah kosong. Sudah tak ada lagi keceriaan ditatap mata lelaki tampan didepannya ini.
Putra tak menjawab, sepertinya Putra hanya melamun. Bahkan sampai simbok menaruh kopi dan Fajar ikut duduk di gazebo Putra hanya memandang ponselnya yang tak juga terhubung dengan ponsel istrinya.
“Kalau kamu melihat pria ini sebegitu putus asa, seakan dunianya berhenti berputar. Apa kamu yakin dia bisa selingkuh?” bisik Ilham pada Fajar.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL INFIDELITY BEFORE MARRIAGE YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta