WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
MAS, ABANG, MBAK, KAKAK dan DEDE


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Jam tujuh pagi ibu Purbowati dan bapak Kusumo Purbowisono  tiba di Sedayu. Pesawat mereka sudah tiba di bandara pukul 05.20.  Sarapan pagi ini makin ramai. Tentu saja hal itu membuat Fajar dan Fajri jadi malas berangkat sekolah karena kedatangan eyang mereka.


“Mas sudah dikelas terakhir, enggak usah mbolos, nanti nilaimu turun,” tegur eyang kakungnya pada Fajar. Saat ini usia Fajar sepuluh tahun,dia ikut kelas akselerasi sehingga nanti belum genap umur sebelas tahun  dia sudah lulus SD.


“Eyang ‘kan nginep lama, jadi kita masih bisa ngobrol sepulang Mas sekolah.” lanjut pak Kusumo.


Putra melihat keengganan diwajah Fajar, tapi bila sudah ada satu orang berpendapat, maka dia tak akan merubahnya agar semua tidak tersinggung. Maka dia pun membiarkan Fajar tetap sekolah walau dengan wajah kecewa. Sebenarmya bila mertuanya belum mengemukakan pendapatnya, bisa saja dia memberi dispensasi pada Fajar. Namun kalau sekarang dia memberikan dispensasi itu, artinya dia menyinggung kewibawaan mertuanya.


Seperti biasa tugas mengantar sekolah dua jagoan adalah urusan Putra. Dia selalu mengantar mereka hingga depan pintu kelas masing-masing. Dikecupnya kening dan puncak kepala anak laki-lakinya saat mereka sudah mencium tangannya.


Sedang Alesha karena masuk lebih siang dan tidak searah dengan sekolah dua kakak laki-lakinya maka tugas Ririen yang mengantar sekalian bawa si kembar untuk sekedar duduk manis dalam mobil.


Para asisten rumah tangga langsung ngebut membersihkan rumah saat nyonya dan tiga  putri kecilnya keluar rumah. Ririen alergi debu, sehingga kalau ada yang bersih-bersih saat dia di rumah akan membuat hidungnya gatal serta bersin-bersin.


Pagi ini satu asisten rumah tangga sengaja Ririen bawa untuk menjaga dua gadis kembar di mobil karena Ririen ingin belanja buah di pasar tradisional sepulang mengantar Alesha.


Pak Kusumo memimpin doa makan malam kali ini. Dia tentu berharap agar si kembar selalu sehat dan dilindungi Allah Swt. Makan malam kali ini tetap meriah dan diliputi kebahagiaan serta syukur dari dua keluarga besar itu walau semua kakak-kakak Ririen dan kakak-kakak Putra bersamaan tak bisa hadir.


***


“Pak, manager marketing lantai granit meminta waktu bertemu,” lapor  Erick via telpon. Erick adalah sekretaris Putra di supermarket bangunan.


“Rabu jadwal saya kosong, kamu bisa kasih waktu hari itu, jam nya biar dia yang tentukan,” jawab Putra. Hari ini baru Kamis pagi, artinya masih satu minggu lagi baru kliennya bisa ketemu dengan bossnya.


***


“Mom, perutku sakit,” keluh Fajri sepulang sekolah hari ini.


“Sakitnya tu bagian mana dan seperti apa?” tanya Ririen kalem dan berupaya tidak panik.

__ADS_1


“Sini Mom, seperti diperas, kadang hilang kadang datang,” jelas Fajri dengan wajah meringis kesakitan.


“Abang ingat-ingat kemaren makan apa yang enggak biasa kamu makan. Atau kamu melakukan apa yang diluar kebiasaanmu,” perintah Ririen sambil meraba kening Fajri.


“Enggak makan sesuatu yang baru,” jawab Fajri setelah dia sibuk berpikir.


“Kemaren Abang pakai kaos olah raga basah sampai kering karena seragam sekolah Abang kotor jatuh di kamar mandi.” lanjutnya.


Ririen meraba kening Fajri keluar keringat dingin saat perutnya sakit melilit yang dia bilang seperti diperas. Dia tahu Andre masuk angin. “Mommy bikinkan baluran bawang, Abang tahan baunya agar cepat sembuh ya. Dan mommy juga akan bikinkan Abang air rebusan jahe agar Abang cepat pulih.”


Ririen membuat wedang ronde, dia membuat dengan bahan seadanya. Tak ada kolang kaling, hanya ada tepung ketan dan pacar cina.


Tepung ketan dibikin ronde dan pacar cina direbus sebagai pemanis tampilan air jahe. Dibalurnya perut dan telapak kaki Fajri dengan parutan bawang merah yang ditambahi minyak kayu putih.


Putra yang mencium bau bawang merah bercampur minyak kayu putih langsung bertanya siapa anaknya yang sakit.


“Siapa yang enggak enak badan Mom?” sapanya saat Ririen mencium tangannya ketika dia masuk rumah.


“Abang Dadd” jawab Ririen sambil memeluk suaminya.


“Masih panas Dadd” jawab Fajri mengjindar.


Putra mengecek minuman di gelas Fajri, lalu meniupnya dan menyodorkan agar diminum saat itu juga. “Ini sudah anget Bang, enak, langsung minum biar langsung sembuh,” bujuk Putra dengan lembut. Tak tampak lelah di wajahnya padahal dia baru saja pulang kerja.


Daddy adalah sosok pria sempurna di mata Fajri, pertama dia mengenal sosok ayah adalah daddynya. Jadi apa pun perintah Putra dia pasti akan menurutinya. Andai saat itu yang menyuruhnya Ririen, dia pasti akan ngeyel dan berdebat dulu bahwa minuman itu masih terlalu panas untuk dia minum.


“Sudah Dad,” tolak Fajri ketika baru menghabiskan setengah isi gelas.


“Habiskan Bang, kamu mau cepet sembuh ‘kan? Atau mau konsul ke dokter aja?” tanya Putra.


Fajri langsung menghabiskan minumannya dan menyerahkan gelas kosong pada daddynya karena dia paling malas bila harus ke dokter.


“Daddy mandi dulu ya, nanti Daddy pijat lalu kamu minum satu gelas wedang jahenya lagi,” Putra segera bangkit untuk mandi. Badannya sudah lengket sepulang ngecek lapangan siang tadi.

__ADS_1


Putra langsung masuk kamarnya dan mandi, dia memakai baju yang sudah disiapkan istrinya, sehabis mandi dia melihat dan menyapa semua anaknya satu persatu. Dia jawab semua pertanyaan anak-anaknya sebelum dia meminta pada asisten rumah tangga untuk diparutkan bawang merah serta minta disiapkan baby oil dan minyak kayu putih. Dia butuh baby oil agar saat mengurut badan Fajri tidak kesat dikulit.


“Daddy, Mommy bikin minum sambel,” Leoni mengadu pada Putra saat diberi wedang ronde oleh Ririen.


“Dede enggak suka?” tanya Putra.


“Sukanya bola-bolanya aja,” jawab Leoni.


“Itu pedas bukan karena Mommy bikin minum pakai cabe sayangku, itu pakai jahe biar perut Dede anget,” Putra mencoba menerangkan apa yang dibuat Ririen sore ini.


“Kakak suka wedang ronde,” cetus Leona.


“Cuma Dede aja yang enggak kuat pedesnya, mbak Lesha dan mas Fajar dari tadi malah nambah terus koq airnya,” jelas Leona lagi.


“Wah Kakak hebat ya, suka wedang ronde,” puji Putra. Entah sejak kapan dia tidak ingat, Leona menyebut dirinya KAKAK dan dia memanggil Leoni DEDE sehingga semua mengikuti sebutan yang Leona buat itu.


Lengkap sudah sebutan anak Putra, MAS, ABANG, MBAK, KAKAK dan DEDE.


Parutan bawang sudah siap, Putra mengalasi karpet dengan selimut agar karpet tidak bau bawang. Dia meminta Fajri melepas kaosnya dan mulai membalur perut Fajri.


Dengan telaten Putra mengurut punggung anaknya  membuat Fajri merasa nyaman hingga tertidur karena pijitannya.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNREQUITED LOVE  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2