WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
I’M CRAZY BECAUSE YOU


__ADS_3

BAGAIMANA CUACA DIKOTAMU? HUJAN DAN DINGIN? PERLU SECANGKIR KOPI KAN?


AYO BERIKAN SECANGKIR KOPI UNTUK CERITA INGIN AGAR MAKIN HANGAT


SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


“Saya enggak tahu kapan kamu bercerai dan saya enggak  mau tahu Alesha anak siapa karena kamu baru saja melahirkan setelah kamu bercerai. Yang saya tahu saya ingin menjadi pendampingmu,” Putra bicara tanpa dipikir itu akan menyinggung Dewi atau tidak. Dia sudah menggunakan ‘kamu’ untuk pengganti kata bunda yang biasa dia ucapkan bagi Dewi.


“Mungkin kamu merasa ini aneh, enggak masuk akal, diluar logika, whatever you say, whatever you think! Mulai saat ini saya akan selalu ada disisi kamu, kamu suka atau enggak, kamu izinkan atau enggak. Kamu adalah masa depan saya!” Putra menatap Dewi dengan tatapan penuh damba.


“Two words for you : kamu gila!” kilah Ririen sambil menepis tangan Putra yang menggenggam tangannya. Dia tidak menyangka mantan siswanya yang anak kecil berani menyebutnya dengan kata ‘kamu.’


“Yes, you’re right, I’m crazy because you, I’m crazy for you!” jawab Putra santai. “Jadi lusa berangkat jam berapa?”


“Saya enggak akan berangkat sama kamu, saya enggak jadi berangkat aja,” kilah Ririen, dia akan berupaya menghindar dari obsesi tidak waras mantan muridnya ini. Bagaimana mungkin seorang pemuda mencintai mantan gurunya, yang lebih tua darinya dengan status janda beranak 3?


Ririen menyesal tadi mengatakan lusa akan berangkat kerja, dia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini. Lalu dia jadi ingat tatapan mata Irhan saat menyanyikan engkau bukan yang pertama tapi pasti yang terakhir siang tadi. Juga saat Irhan menyanyikan  L – O - V – E  tadi.


‘Oh ini tho arti tatapan mendambanya di panggung tadi.’


“Kak, sudah magrib, ayo siap-siap keluar kandang, jangan lupa langsung cuci tangan pakai sabun sebelum masuk rumah ya, Kakak Fajri juga cukup mainnya,” perintah Ririen pada 2 anak lelakinya, dia sendiri mulai memasang plastik pada kursi dan meja, serta membawa nampan untuk bersiap keluar.


Putra membantu Dewi, dia sengaja menunggu di pintu, dan mencuri ciuman dipipi Dewi saat perempuan itu melewatinya ketika hendak keluar kandang. Dewi memelototinya, dan bergegas keluar kandang.


Ririen segera mencuci tangannya, dan masuk ke kamarnya untuk melihat Lesha, dia langsung ganti baju, agar tak ada kotoran yang kena ke badan bayinya. Digantinya popok Lesha yang basah, juga pakaiannya, lalu disusuinya. Bayi usia sebulan memang belum banyak aktivitas, bila pakaiannya tidak basah dan dia kenyang, pasti tidak rewel. Kecuali saat sedang enggak enak badan.


Sehabis mengurusi Alesha, Ririen langsung keluar kamar untuk melihat Fajar dan Fajri yang sedang makan ditemani para pengasuhnya.


“Mbak Surti toto dahar ya,” pintanya pada salah satu asisten rumah tangganya, dilihatnya Putra sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.

__ADS_1


“Minta nomor HP mu,” pinta Putra yang sejak menyatakan perasaannya tadi sudah tidak manggil bunda lagi pada Dewi.


“Enggak punya,” jawab Ririen seadanya.


“Lha tadi yang terima telepon saat di mobil siapa?”  cetus Putra mengingatkan. Memang tadi adik sepupunya yang meminjam mobil menghubungi Ririen mengatakan akan mengembalikan mobilnya sehabis maghrib.


“Makan dulu yok, sudah di atur meja makannya,” ajak Ririen pada tamunya.


“Assalamu’alaykum Mbak, telat enggak aku?” seorang pemuda tampan masuk ruangan itu langsung memeluk dan mencium pipi Dewi dengan mesra dan sedikit gemas.


“Kamu ‘tu lho ya, enggak pernah bisa cium lembut, selalu aja gemes gitu,” Putra melihat Dewi menepuk lengan pemuda itu dengan lembut.  “Enggak  telat koq, ‘ni kami baru aja mau ke meja makan, ayo aku udah masakin buntil pare isi udang sesuai request mu kemarin.”


“Ayo Put, kenalkan ini adikku yang paling kolokan walau sebentar lagi dia mau ngelamar kekasihnya,” Dewi memperkenalkan kedua pria di hadapannya.


“Dendy.”


“Putra.”


Mereka berjabat tangan sambil menyebut nama masing-masing. Di meja makan terlihat pare yang dimasak menjadi buntil dengan cabe rawit utuh menjadi toppingnya, disiram santan kental, ada ayam dan tempe goreng juga selain sop dan kerupuk.


“Dapat semua yang kalian cari?” tanya Ririen pada Dendy. Adik kecilnya itu sedang mempersiapkan pernikahaan sehingga tadi habis belanja dengan calon istrinya.


“Lumayan Mbak, ada beberapa item belum dapat, tapi nanti bisalah kami beli dengan naik motorku aja, enggak perlu pakai mobil karena walau jumlahnya banyak, tapi bentuknya kecil-kecil koq, enggak seperti tadi, jumlah banyak sehingga bagasi dan jok belakang mobilmu penuh,” jawab Dendy dengan mulut penuh makanan.


“Pakai mobilku aja enggak apa-apa, aku toh belum masuk kerja, mobil belum efektif aku pakai,” Ririen mempersilakan adik sepupunya menggunakan mobilnya.


“Put, kamu enggak suka ya ama masakanku? Tadi aku masak keburu-buru sebelum berangkat reuni, karena ada request Dendy,” Ririen bertanya pada Putra.


“Udah cukup, ini pare enak banget, baru sekali nih ngerasain pare dibikin seperti ini, enggak pahit juga. Mama paling masak pare buat ditumis aja atau buat lalap. Rawit nya juga jozz, suka banget koq,” jawab Putra. Dia tidak bohong. Walau memang tak terlalu suka sayuran, tapi buntil pare masakan Dewi memang dia rasa sangat enak.


“Kerja di mana Bang?” Dendy bertanya pada Putra, dia merasa walau terlihat dewasa, laki-laki ini usianya di bawah Ririen. Mau tanya usia koq rasanya tidak etis.

__ADS_1


Dendy sepupu yang paling dekat dengan Ririen, dia tahu sakit yang Ririen rasakan menikah dengan laki-laki yang usianya 5 tahun lebih tua di atasnya tapi kelakuannya masih childish. Saat ini dia tidak ingin Ririen kembali terluka oleh anak kecil.


“Enggak kerja, luntang lantung aja,” senyum smirk Putra terlukis di bibirnya saat menjawab pertanyaan Dendy.


“Kirain sekantor ama mbak Ririen,” balas Dendy.


‘Ririen? Nama yang bagus, gue cuma tau namanya Arienka Dewi ,’ batin Putra.


“Enggak, mana bisa gue sekantor ama Ririen, gue cuma tamatan SMP doang,” kilah Putra.


“Jangan ngaco deh njawabnya,” Ririen menatap tajam pada Putra yang dibalas senyuman jahil.


“Dia lulusan London, bohong kalau enggak kerja, tapi Mbak juga belum tau dia kerja di mana,” Ririen menerangkan pada Dendy tentang Putra.


“Yok pindah ke ruang tengah biar mbaknya pada bisa ngeberesin meja dan pada makan juga.”.


“Mana nomor HP mu?” Putra memegang tangan Ririen saat mereka menuju ruang tengah. Dendy yang melihat sekilas pura-pura tidak mengetahuinya.


“Aku masukin di HP mu aja langsung, sini HP mu,” pinta Ririen. Irhan menyerahkan HPnya, lalu Ririen melakukan panggilan pada nomornya untuk nanti dia save. Percuma dia berkelit, pasti Putra tetap akan mendesaknya. Lebih baik dia beritahu nomor ponselnya.


\===================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE, BACA CERITA LAIN MILIK YANGKTIE YA. JUDULNYA BETWEEN QATAR AND JOGJA. TENTANG PERJUANGAN AUREL SETELAH RADITYA SUAMINYA MENINGGAL



============================================================= 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2