
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Mbak Alesha kemana Mom? Daddy belum liat dia sejak Daddy pulang,” Putra merasa kehilangan putrinya.
“Dia lagi suka di dalam kandang Dad, dia lagi perhatiin anak kelinci yang baru lahir,” jawab Ririen.
“Ya udah Daddy ke kandang ya,” Putra pun menuju halaman belakang rumahnya untuk bermain dengan Alesha di dalam kandang.
***
Saat ini hari pertama Ririen masuk kantor, menjelang sore dia mulai merasa sedikit demam karena pabrik ASI nya bengkak. Memang sekarang produksi ASI nya sangat beda jauh dengan saat menyusui Fajar, Fajri dan Alesha. Karena asupan makan dan nutrisi penunjangnya sangat diperhatikan oleh Putra, maka ASI kali ini walau disedot dua bayi tetap saja sangat berlimpah. Ririen melakukan pumping di kamar mandi kantor untuk membuang sedikit ASI nya agar dia bisa mengurangi sedikit rasa sakit akibat bengkak yang dialaminya.
“Gimana hari pertama kerja tadi Mom?” tanya Putra sambil menciumi puncak kepala istrinya yang berbaring didadanya. Ririen memeluk dada suaminya yang memang terbiasa tidur tanpa baju. Dia sangat menyukai menciumi bau badan suaminya. “Standar lah, ngamuk, kasih motivasi dan ngecek data,” jawab Ririen santai.
Putra memencet hidung istrinya pelan “Koq pakai ngamuk?” tanyanya.
“Anak-anak kalau enggak dipantau, kerja semaunya Dad, enggak punya greget sendiri!” keluh Ririen.
“Enggak perlu ngamuk Mom, tinggalin orang seperti itu! Karena mereka berjiwa kuli! Kalau tidak diperintah tidak kerja! Tidak ada mandor tidak gerak. Lebih baik Mommy focus pada yang mau menjadi pemilik! Kalau pemilik ada yang nyuruh atau enggak ada yang nyuruh, dia pasti akan terus bekerja karena dia sadar tanpa kerja dia tak akan maju!” Putra memberi masukan pada istrinya agar tidak buang-buang energi.
***
Ririen makin bingung, pekerjaannya sedang sangat menyita perhatiannya, si kembar memang belum terlalu menyibukannya tapi dia kan juga wajib menyiapkan dirinya sendiri untuk memegang mereka, harus ada kebersamaan dengan bayi-bayi itu. Dia harus fresh ketika memegang mereka agar mereka merasa nyaman.
__ADS_1
Asisten rumah tangga sudah tambah satu orang, tapi tetap saja dia merasa makin tak punya quality time dengan anak-anaknya.
“Mas …,” Ririen ragu melanjutkan kalimatnya, saat ini mereka sedang memandangi si kembar yang baru saja tertidur setelah minum ASI.
“Kenapa cintaku?” Putra memeluk dan menciumi pipi serta kening istrinya. Dia tau selama ini istrinya sudah sangat keteteran tapi belum mau mengibarkan bendera putih. Dan dia tetap tak mau menekan Ririen, dia tau istrinya perempuan dengan kemauan yang kuat dan sangat gigih. Ririen tak mau ditekan, untuk itulah dia sengaja membiarkan Ririen mengatur semuanya sesuai kemauannya.
“Mas merasa aku abaikan enggak sejak ada baby twins?” tanya Ririen ragu.
“Aku enggak merasa kamu abaikan, hanya sekarang waktu kamu ‘kan semakin kecil porsinya karena tambah dua titik lagi dipembagian waktumu. Tambah satu titik saja ‘kan pelengkapnya banyak. Lebih-lebih kamu menambah dua titik.”
“Biasanya waktumu cukup untuk rumah, suami, tiga anak dan kantor. Sekarang nambah menjadi lima anak. Aku cuma minta kamu jaga staminamu, aku enggak mau kamu kelelahan. Nanti akibatnya semuanya akan terbengkalai,” Putra tetap bijaksana, dia sama sekali tidak menekan istrinya.
Dan sejak kelahiran si kembar Putra sendiri pun makin memberikan waktu lebih untuk ketiga kakak-kakak si kembar agar mereka tak merasa tersisih oleh kehadiran adik-adiknya. Dipeluknya istrinya dan diajak tidur agar bisa bangun saat si kembar ingin menyusu tengah malam nanti.
“Aku ibu yang egois ya Mas?” isak Ririen.
Dia tau emosi Ririen sehabis melahirkan belum stabil. “Mas cinta kamu, Mas enggak pernah nuntut kamu apa pun, asal kamu bahagia. Dan kamu enggak egois. Kamu sangat bertanggung jawab terhadap semua pilihanmu. Saat ini semua masih bisa kamu handle dengan baik. Nanti bila kamu sudah tidak sanggup, kamu tinggal tentukan skala prioritasmu ya?”
“Mulai besok kamu enggak perlu repot sediain sarapan. Kamu hanya perintah dan pantau aja. Kamu juga pantau bekal anak-anak, enggak perlu kamu yang buat. Seragam anak-anak juga jangan kamu yang siapin, kamu pantau aja apa yang kurang. PR anak-anak biar Daddy yang full handle, kecuali Daddy minta tolong pas Daddy enggak sempat.”
“Kamu enggak perlu merasa wajib dan tidak mau serahkan tugas-tugas yang tadi Daddy bilang ke orang lain. Itu Daddy tekankan biar kamu bisa berkurang stressnya. Daddy sayang Mommy, Daddy enggak mau Mommy terbebani,” bisik Putra sambil memeluk erat istrinya.
Saat Ririen tertidur Putra keluar dan memanggil ke tiga asisten rumah tangganya, serta membagi tugas-tugas yang biasa selalu tak mau dilimpahkan oleh Ririen. Mulai besok semua harus mulai berubah. Dia tak ingin Ririen merasa bersalah.
Tak lupa Putra menengok ketiga anaknya di kamarnya masing-masing. Mengusap kepala mereka dan mencium kening anaknya dengan penuh cinta, serta membisikkan dia mencintai mereka.
__ADS_1
Kadang saat Putra menciumnya Fajar atau Fajri belum tidur, mereka tahu tiap malam daddynya akan mendatangi kamar mereka dan menciumi mereka. Namun mereka pura-pura tidur.
Sesuai perintah Putra semalam, pagi ini tiga asisten rumah tangga mempersiapkan semua yang biasa nyonya mereka siapkan! Sarapan, baju seragam anak sekolah serta bekal sekolah, yang tidak dilakukan hanya kopi untuk tuan mereka yang tidak boleh dikerjakan oleh siapa pun bila nyonya ada di rumah.
Ririen langsung mengurusi baby twins, karena ketika dia terbangun dan hendak mengerjakan tugas rutinnya sebagai ibu rumah tangga, dia melihat sarapan sudah tersedia, begitu pun bekal sekolah anak-anak. Dia hanya membuatkan kopi untuk suaminya dan meletakkan di meja tengah di sebelah koran pagi. Saat masuk kamar anak-anak pun dia melihat pakaian seragam anak-anak sudah disiapkan.
Selesai mengurusi baby twins, Ririen meletakkan mereka di box nya dan membawa box ke ruang keluarga, dan dia lanjut pumping ASI untuk disimpan.
Ririen keluar kamar sesudah mandi dan berpakaian kerja, sejak tadi dia tak melihat Putra. Biasanya pagi-pagi Putra akan sibuk mempersiapkan dua jagoannya untuk berangkat sekolah, dia akan mengecek semua persiapan anak-anaknya dan menanyakan apa yang mereka butuhkan.
“Bapak kemana Mbak?” tanya Ririen pada salah satu asisten rumah tangganya yang melintas disebelahnya membawa baju kotor anak-anak sehabis mereka mandi.
“Di depan Bu, dengan mbak Alesha, dari pagi mbak Gita nangis karena ban sepedanya kempes,” jawab sang asisten tersebut.
“Morning Mom,” sapa Fajar yang sudah rapi dan sudah membawa tas sekolahnya keluar kamar menuju meja makan.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta