
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Tak terasa sudah 2,5 tahun Ririen dan Putra menjadi penduduk Jogja. Usaha Putra berkembang pesat, sekarang dia membangun mini cluster, jadi dalam satu lokasi dia membangun 3 ~ 5 rumah saja, bukan komplek dengan banyak rumah.
Ternyata ide yang Ririen lontarkan ini sangat berkembang baik. Besok si kembar ulang tahun yang ke tiga. Kakek dan neneknya sudah datang sejak kemarin. Namun eyang kakung dan eyang utinya baru akan datang besok pagi. Kakek Putra yaitu Alamsyah Purwanagara, sudah meninggal tujuh bulan lalu sehingga ulang tahun kali ini tidak ada kakek uyut lagi.
Seperti biasa Ririen hanya membuat tumpeng nasi kuning tanpa tart. Kemarin mama mertua Ririen banyak membawakan ikan mas, di Jogja Ririen kesulitan mendapat ikan mas, ada tapi tidak semua pasar menjual.
Begitu pun oncom. Mama membawakan ikan mas berupa ikan yang dibekukan dan dimasukan di sterofoam sehingga ketika sampai di Sedayu ikan masih fresh. Separo sudah Ririen eksekusi tadi pagi menjadi pepes ikan mas kesukaan Putra, sedang yang separo kembali masuk freezer untuk diolah bila Putra menginginkannya.
Malam ini Putra sangat senang karena Ririen membuatkannya pepes ikan mas. Sedang mama senang karena Ririen membuatkannya buntil pare. Nuna dan suaminya yang baru datang pagi tadi juga senang karena kembali makan buntil pare masakan Ririen.
“Teteh Ririen rahasia masak buntilnya apa biar enggak pahit gini, waktu Una atau mama coba bikin kenapa masih ada pahitnya sih?” tanya Nuna penasaran.
“Ha ha ha, rahasianya masak penuh cinta aja Un, Mbak enggak tau apa yang bikin masakanmu beda ama masakan Mbak,” jawab Ririen.
Aluna sejak dulu tetap memanggil semua kakak iparnya dengan TETEH ( panggilan untuk kakak perempuan dalam suku Sunda ). Namun Ririen menyebut dirinya MBAK ( panggilan untuk kakak perempuan dalam suku Jawa ). Kepada mbak Wiwied pun Ririen memanggilnya mbak dan Nuna memanggilnya teteh. Suka-sukalah ya, yang penting saling menghormati.
“Ih Teteh mah pelit,” rajuk Nuna.
“Ya habis emang enggak ada rahasia, ‘tu tanya mama tadi Mbak masak berdua mama, pas kamu istirahat dan ngurusi anakmu,” jawab Ririen sambil menyendokkan nasi ke piring Putra. Aluna memang sudah menikah dan sudah punya anak laki-laki berusia enam bulan.
“Mas Fajar mau pakai lauk apa?” tanya Ririen.
“Abang sayurnya dibanyakin,” perintah Ririen karena Fajri sama persis daddynya sulit makan sayuran.
“Mbak cantik ayamnya nambah?” tanya Ririen pada Alesha.
Rini sang mama mertua memperhatikan menantunya ini. Dia sangat kagum akan ketelatenan Ririen memperhatikan satu persatu anaknya juga pasti suaminya.
Ririen makan ikan mas goreng dan sambal serta lalapan, dia special menggoreng ikan mas untuk dirinya yang tidak terlalu kering. “Mau cobain ikan mas goreng enggak Dadd?” tanyanya pada Putra.
__ADS_1
“Enggak Mom, cukup pepes aja,” jawab Putra.
“Tapi habis ini makan sopnya ya, Daddy belum makan sayuran kan?” bujuk Ririen.
“Ini kan ada kemanginya di pepes” jawab Putra tak mau kalah.
“Lihat Ma, Pa. Gimana Fajri enggak susah makan sayur kalau contohnya seperti itu,” Ririen melaporkan kelakuan Putra pada kedua orang tuanya. Yang hanya dibalas senyuman oleh mama mertunya.
“Sama ama Kakek tuh, susah makan sayurnya,” jawab mama yang membuat suaminya senyum masam karena memang dia tak terlalu suka sayuran.
“Owalah, rupanya nurun dari Papa,” jawab Ririen.
“Untung mas Tuko enggak sulit makan sayur, hanya enggak boleh telat tempe aja Teh” imbuh Nuna tentang suaminya.
“Una mah enggak seneng ama ‘perut jawa-nya’ mas Tuko, dia biar udah sarapan roti sepuluh tangkep atau bubur ayam lima mangkok kalau belum makan nasi dia bilang belum sarapan!” keluh Aluna.
Tentu saja semua yang ada di meja makan termasuk Tetuko terkekeh mendengar perumpamaan yang Aluna ungkapkan. Tetuko hanya mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. Karena terbiasa jadi anak bungsu, Aluna memang sangat manja.
“Kalau Daddy harus seperti itu ya bisa kalang kabut waktu tinggal di London selama empat tahun. Untungnya Tuko kuliah di Singapore, yang mudah ketemu nasi tiap saat,” seloroh Putra.
“Abang nambah ya sopnya” bujuk Ririen.
“Enough Mom” jawab Fajri. Ririen tidak memaksanya, dia akan melengkapi kebutuhan serat Fajri dengan juice buah.
“Papa nambah nasinya Pa?” Ririen menawarkan papa mertuanya untuk nambah makanannya.
“Boleh Rien, sedikit aja,” jawab pak Galih Purwanagara.
“Ko, aku enggak mau nawarin kamu lho ya, kamu malu yo rugi dewe,” goda Ririen pada Tetuko adik iparnya.
“Ha ha haa, dia nanti malah malu-maluin Teh” jawab Aluna.
“Kamu tu ya De, bukan mboloni bojo dewe,” protes Tetuko pada istrinya, dia berkata istrinya bukan membelanya dan menjadi sekutunya ( bolo ).
__ADS_1
”Aku nek isin yo rugi Mbak” jawab Tetuko pada Ririen, dia bilang kalau dia malu ya akan rugi sendiri.
Pak Galih Purwanagara. bahagia karena anak menantunya sangat akrab, dia membandingkan dengan anak mantu dari iparnya. Saudara istrinya, sering datang mengeluh pada Rini istrinya. Kalau para menantunya sering saling menjatuhkan.
Dalam keluarganya, sesama menantu perempuannya malah sangat akrab, tak ada persaingan mencari perhatian ibu mertuanya, semua selalu saling memperhatikan. Dia mensyukuri anugrah yang Allah berikan padanya dan istrinya pertamanya ini.
Sedang untuk istri ke dua sesungguhnya dia tak ada rasa cinta, dia hanya mengasihi istri ke dua karena terbiasa hidup bersama.
Galih Purwanagara pun sadar dia tak pernah ingin menduakan Rini, dan hanya dia dan istri ke duanya yang tau kalau sejak ‘menikah’ hampir 20 tahun dia tak pernah berhubungan badan dengan istri ke duanya itu. Sesungguhnya sejak lama dia mentalak istri keduanya. Tapi dia tak menceritakan pada siapa pun. Dia menjaga perasaan almarhum ayahnya. Sekarang Galih sudah berniat memberitahu Rini. Karena ayanya sudah meninggal lama.
FLASH BACK 25 TAHUN LALU
Alamsyah Purwanagara dan istrinya memanggil Galih putra sulungnya datang ke rumah. Ada hal penting yang ingin dia bicarakan pada Galih.
“Kenapa Yah?” tanya Galih muda. Lelaki itu mempunyai dua anak lelaki dan saat ini istrinya Rini Handarwati sedang hamil putra ketiga yang dia harap berjenis kelamin perempuan. Karena dua anak pertamanya semua lelaki.
“Ini berkaitan dengan kesehatan adikmu. Tadi Ayah dan Emak yang antar Hendra Purwanagara ke rumah sakit karena Hasbi rewel jadi Ina ( Misnahwati, istri Hendra atau adik ipar Galih ) enggak tega ninggalin Hasbi di rumah ama pembantu dan orang tuanya.
“Emang kenapa Enda ( Hendra )?” tanya Galih.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1