
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Ma, aku enggak tau kalau yang hadir banyak, aku cuma bikin sedikit ayam panggangnya,” bisik Ririen pada bu Rini.
“Ini juga alhamdulillah kamu bawa tambahan, Mama juga enggak tau banyak begini yang datang, kirain cuma kakek doang, ‘tu Mama lagi masak nasi lagi,” bisik mamanya Putra.
“Ada mie sama telor dan sayuran enggak Ma? Biar aku bikin tambahan deh, atau Mama ada bahan apa?” tanya Ririen. Terbiasa memimpin, maka jiwa inisiatif Ririen memang cepat tersentuh.
“Kalian bisik-bisik apa?” tanya Putra pada dua wanita yang dicintainya itu
“Cek di kulkas, kayaknya ada bahan capcay atau mie,” kata bu Rini sambil mengatur ayam panggang di piring saji. Dia malah tidak menjawab pertanyaan anak lelakinya.
“Bantuin aku masak yok, gerak cepat,” ajak Ririen pada Putra , sebagai anak pramuka tentu saja Putra sangat mahir memasak. Terlebih dia lama kost saat kuliah di London dulu, sehingga terbiasa masak untuk dirinya sendiri.
Ririen memasak capcay berbarengan dengan bihun goreng, ternyata mie nya tidak ada, yang ada bihun. Tidak pakai lama kedua jenis masakan siap terhidang. Nuna yang baru masuk ke dapur kaget kakaknya sedang duet masak dengan calon istrinya.
“Maaf telat, ada yang bisa dibantu?” tanya Nuna jadi serba salah. Sejak tadi dia hanya menggoda Inda sang keponakan. Dia sama sekali tak tahu soal kekurangan makanan untuk para tamu.
“Beresin dapur aja Nun, kasihan mama kalau harus beberes. Aku cuci tangan dulu ya. Dad minta tissue dong, mukaku kayaknya hancur lebur deh,” Ririen bicara pada Nuna dan Putra tanpa jeda.
Putra mengambilkan tissue dan dia yang membasuh lembut wajah Ririe, bu Rini yang baru masuk ke dapur lega melihat Putra sudah bahagia dengan perlakuan Ririen. Selain itu dia juga sangat bangga dalam waktu singkat Ririen bisa menyajikan dua jenis masakan.
“Tha, enggak cari yang muda’an aja,” bisik seorang bibinya ke Putra. Ririen yang duduk di sebelah Putra tentu saja mendengarnya. Dia hanya bisa meremas paha Putra di bawah meja, dan Putra mengambil tangan Ririen, menggengamnya erat dan menciumnya, tidak peduli dilihat yang hadir di meja makan.
Sehabis makan Ririen tidak ke dapur, dia duduk di teras, saat itu salah satu tamu mendekatinya untuk berbasa basi. Mereka berkenalan dan membahas perkerjaan.
__ADS_1
Ririen yang ditanya bidang apa yang digeluti kantornya menjawab kantornya menyediakan jasa pengadaan laboratorium bahasa.
Lalu si tamu tersebut tertarik dan mereka bicara cukup intens sampai akhirnya Putra tak sabar, dia langsung duduk di tangan kursi yang diduduki Ririen, memberitahu siapa pun yang melihatnya, bahwa wanita yang duduk di kursi adalah miliknya.
“A’ sama Teteh, disuruh masuk sama Kakek,” Nuna memberitahu Putra dan Ririen agar masuk ke ruang tengah.
Di ruang tengah tamu yang diajak kakek meminta waktu untuk bicara. Intinya dia hadir saat ini adalah untuk menyambung tali silaturahmi dan kalau bisa ingin menjodohkan anaknya dengan anak pak Galih.
“Saya datang dengan dua anak saya, tidak tau mana yang jodoh, si sulung sudah lulus di akademi bisnis di Singapore, kalau dia bisa berjodoh dengan si eneng ( maksudnya Nuna ) saya sangat bersyukur,” kata tamu kakek memperkenalkan anaknya yang sejak tadi mendekati Ririen.
“Tapi sebenernya saya lebih ingin agar si bungsu berjodoh dengan Putra,” lanjut orang itu tanpa ragu.
“Nah bagus itu, biar Putra ama yang muda, bukan orang yang lebih tua,” celetuk bibi Putra pelan, tapi semua bisa mendengar dengan jelas karena ruangan cukup senyap.
Ririen yang mendengar itu hanya bisa tertunduk, sementara Putra langsung memegang jemari Ririen yang langsung ditolak oleh Ririen. Namun tak mau kalah, Putra langsung memeluk bahu Ririen.
Kakek yang tahu Putra sudah memperlihatkan kemarahannya langsung menjawab “Pak Ibrahim, seperti yang sudah saya bilang sejak kemarin, masalah jodoh cucu saya, tidak akan pernah saya atau orang tuanya atur.”
Hilman yang tau tujuan pak Ibrahim langsung berdiri dan mengajak Wiwied untuk pulang. Sebelum pulang dia berbisik pada Nuna adik bungsunya. “Cari suami yang bener, jangan yang tukang nadah duit orang tua. Seberapa banyak harta orang tua, kalau enggak bisa ngelola ya ngeblangsak!”
Hilman tahu tujuan utama pak Ibrahim memang membidik Putra , untuk menopang bisnis keluarganya yang porak poranda. Dan walau belum ada Ririen di hati Putra sekali pun dia akan melarang Putra menjadi menantu pak Ibrahim.
Ririen dan Putra pulang paling belakang sesudah sedikit bersih-bersih. “Pakai mobil aja ya Mom, dingin kalau tengah malam naik motor,” usul Putra , dia tidak tega Ririen kedinginan karena tadi tidak pakai jacket.
“Enggak apa-apa koq pakai motor, aku kan bisa peluk Daddy biar anget,” balas Ririen manja.
“Jangan mulai deh, ada yang bangun nanti,” goda Putra cepat. Entah mengapa sejak mereka resmi ‘jadian’ bedil kecilnya cepat bangun bila tergoda sedikit saja oleh Ririen.
__ADS_1
“Kamu ‘tu sekarang me-sum ih,” Ririen menepuk lengan Putra dengan gemas. Akhirnya mereka pulang dengan mobil barunya Putra .
“Kamu kalau mau terima perjodohan dengan anak pak Ibrahim, aku enggak apa-apa lho Put, asal kamu bilang ke aku, putusin aku baru kamu jadian ama dia, aku enggak mau jadi penghalang atau penghambatmu,” tulus Ririen mengatakan hal itu pada Putra .
Seperti biasa Putra memegang jemari Ririen dan dikecupnya, tapi kali ini dia sedikit nakal, satu jari Ririen dia masukan ke mulutnya dan dikulumnya. Tentu saja Ririen risih dan berupaya menarik tangannya dari genggaman tangan Putra.
“Ih apa sih,” kata Ririen.
“Tau enggak Mom, semua bagian tubuhmu ‘tu seakan menyuruh aku memeluk dan menciuminya. Serius aku sekarang tersiksa dekat kamu karena pengen makan kamu,” Putra menjelaskan alasan tindakannya.
“Aku enggak bahas itu, aku bahas permintaan pak Ibrahim tadi,” balas Ririen.
“Aku enggak bahas itu karena enggak pengen tau, yang ada di otakku cuma kamu,kamu dan kamu, jadi enggak usah bahas yang lain. Yang aku mau malah kamu ‘tu enggak usah gampang akrab ama orang laki seperti ama anak pak Ibrahim tadi,” protes Putra.
“Kami hanya bahas pekerjaan, kali aja bisa jadi orderku ‘kan?” jelas Ririen.
“Dia ‘kan tau mau dijodohin ama Nuna, kenapa dia nyosor ke kamu, dan sejak makan pandangan matanya enggak pernah lepas dari kamu, bikin aku keqi aja,” sungut Putra.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta