
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Sejak semalam Daddy di sini, habis urus tenaga bangunan yang jatuh dari atap, entah gimana tiga orang terluka, tapi dokter bilang yang dua orang besok boleh pulang, hanya satu yang masih agak lama karena lukanya cukup parah,” jelas Putra panjang lebar, dia tidak mau Ririen salah paham lalu menduga-duga.
Putra melihat Ririen sangat lelah dan ada kantung mata di wajahnya, dia yakin wanitanya ini kurang tidur semalam. Mereka sudah sampai di poli anak dan duduk bersisian menunggu dipanggil untuk diperiksa. Ditariknya wajah Ririen dengan tangan kanannya dan direbahkan ke bahu kanannya sementara tangan kirinya menggendong Alesha. Ririen tidak menolak, dia menyandarkan kepalanya di bahu Putra dan tangannya memeluk Alesha.
“Kenapa enggak ngabari kalau Dede sakit?” bisik Putra dengan lembut.
“Apa perlunya?” tanya Ririen mengangkat kepalanya dari bahu Putra dan memandang mata laki-laki itu.
“I’m her Daddy, don’t forget it!” bisiknya lagi sambil menatap tajam mata Ririen. Ririen menahan tangis. Lelaki ini marah karena tak dikabari saat putrinya sakit, sedang lelaki lain yang ayah biologis putrinya sama sekali tak pernah ingin tahu soal keberadaan anaknya.
***
“Atas nama bayi Alesha Putri,” panggil perawat.
“Mbak tunggu di sini aja ya,” pinta Ririen pada mbak Yuni, sementara Putra sudah masuk lebih dulu.
“Ada keluhan apa bayinya Pak?” tanya dokter paruh baya berkaca mata saat Putra baru saja duduk di kursi depan bu dokter.
“Bayi kami sejak kemarin panas Dok,” lapor Putra.
“Coba timbang dulu ya, biar suster yang bantu,” perintah dokter tersebut. Sehabis di timbang Alesha diletakkan di kasur pemeriksaan, tapi bayi itu agak sedikit terisak.
“Kenapa anak Daddy? Enggak suka ya ditaruh di situ, sebentar dilihat ama bu dokter dulu ya,” Putra memberikan jari telunjuknya untuk dipegang Alesha. Ririen tertawa melihat wajah Alesha yang mulutnya cemberut.
“Lihat mulutnya Dad,” katanya, dia tidak sadar itu pertama kalinya dia bilang ‘dad’ langsung pada Putra, biasanya dia menyebut daddy hanya untuk Fajar dan Fajri saja.
“He he he, lucu ngambeknya ya Mom?” Putra pun tertawa melihat mimik wajah Alesha.
__ADS_1
“Ya sudah, ayo kita kembali ke kursi yok,” ajak bu dokter setelah melakukan pemeriksaan pada Alesha. “Saya perkirakan ada bakteri yang masuk ke dalam tubuh Dede sehingga dia sedikit menggigil seperti yang Ibu bilang tadi.”
“Apa dia minum susu formula?” tanya dokter lagi.
“Enggak dok, dia full ASI, hanya selama saya kerja minumnya pakai botol,” jawab Ririen.
“Mungkin dari situ Bu, botolnya kurang bersih pensterilannya, nanti diminta pengasuhnya memperhatikan kebersihan botolnya ya Bu, selain masalah itu sepertinya enggak ada kekurangan pada Dede, berat badannya bagus sesuai usianya. Lanjutkan ASI exclusivenya hingga enam bulan ya, saya bangga terhadap ibu pekerja yang masih berkomitmen memberi ASI exclusive,” jelas dokter itu sambil tersenyum manis.
“Terima kasih Dok,” Ririen menerima resep yang diberikan dokter dan mengikuti Putra keluar ruangan pemeriksaan.
“Tunggu di café aja ya Mom, Mommy makan siang dulu, Daddy yang tebus obat Dede,” perintah Putra sambil menyerahkan Alesha pada Ririen. Namun Alesha menangis saat daddynya pergi. Rupanya bayi kecil itu merasa kangen pada sang ayah yang lama tak menggendongnya.
“Daddy ambil obat Dede dulu ya,” Putra pamit ke Alesha, tapi bayi tersebut tetap aja nangis ingin digendong daddy nya.
“Fine, Daddy gendong dan brenti nangisnya ya anak cantik,” Putra kembali mengambil Alesha untuk digendongnya dan mereka berjalan menuju café di samping rumah sakit tersebut.
‘Alesha saja bisa merasakan rindu dekapan Daddynya. Apalagi kedua kakaknya,’ batin Ririen melihat putrinya yang tak mau jauh dengan Putra.
“Mau makan apa Mbak pesan aja ya,” perintah Ririen, “Tapi ambilkan apron menyusui dulu, biar saya mimi’in Dede sambil nunggu pesanan.”
“Mommy makan apa?” tanya Putra yang sedang menulis pesanan.
“Gado-gado atau karedok tanpa lontong aja lah,” Ririen menyebut menu yang ingin di makannya.
“Pakai nasi ya, kamu nyusuin lho?” pinta Putra. Ririen hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Saat makanan datang Ririen meminta mbak Yuni makan lebih dulu, nanti bila sudah selesai bisa gantian dengan dia menggendong Alesha.
Putra yang memesan nasi rawon ditambah empal daging menyuapi Ririen. “Cobain deh Mom, dikit aja,” perintahnya, padahal tujuannya agar Ririen makan nasi serta protein hewani, karena yang Ririen pesan tadi hanya sayuran. Ririen lupa dia sedang menyusui, dia lupa harus kasih yang terbaik untuk Alesha.
Walau enggan Ririen menerima suapan Putra, selanjutnya dengan sendok yang sama Putra makan tanpa sungkan, setelah masuk beberapa suap ke mulutnya, Putra kembali menyodorkan sendok ke mulut Ririen. Kali ini Ririen menolaknya karena sebentar lagi dia akan makan gado-gadonya.
__ADS_1
“Mommy lupa kalau makan enggak buat sendirian? Mommy lupa kontrol kualitas ASI buat Alesha? Sekali lagi proteinnya, habis itu Mommy bisa makan gado-gadonya. Daddy tau kacang tanah juga protein, tapi Alesha butuh lebih dari yang Mommy konsumsi itu,” bujuk Putra.
Ririen tercekat mendengar kalimat Putra barusan. Laki-laki ini sebegitu perhatiannya pada bayi yang bukan anaknya, sedang dulu saat menyusui Fajar dan Fajri saja Ricky tidak pedulikan asupan gizinya sama sekali.
Bulir air mata terjatuh tanpa Ririen bisa bendung, dia sangat tersentuh terhadap attensi yang diberikan Putra.
“Sini Bu, biar saya gendong Dede Aleshanya,” pinta mbak Yuni yang sudah selesai makan.
“Jangan bawa keluar Mbak, panas dan banyak asap rokok, di sini aja kan area bebas rokok,” perintah Ririen pada mbak Yuni.
Putra memberinya tissue untuk menghapus air mata Ririen. Digenggamnya tangan kiri Ririen dengan erat.
“Jangan marah, Daddy sayang kalian, Daddy enggak ingin Alesha enggak dapat yang terbaik,” bujuknya.
“Aku enggak marah koq, ya wis aku makan dulu,” kata Ririen mulai menyuap gado-gadonya. Ternyata Putra menduga dia menangis karena dimarahi Putra, padahal Ririen menangis karena tersentuh attensi anak kecil itu.
***
“Mommy langsung pulang aja, biar Daddy yang tebus obat, nanti Daddy antar ke rumah. Mau titip apa lagi?” tanya Putra saat mengantarkan Ririen ke mobilnya. Alesha tidur sehabis mereka selesai makan tadi. Mungkin karena cukup kenyang sehabis minum ASI.
“Ice cream deh, yang coklat dan vanila aja, kayaknya ice cream anak-anakmu habis stocknya,” jawab Ririen pelan.
Putra bahagia mendengar Ririen menyebut ‘anak-anakmu’, dan dia juga tadi mendengar Ririen memanggilnya ‘dad’ saat di depan dokter, sungguh perkembangan yang luar biasa.
“Daddy ... kenapa Daddy lama enggak pulang?” tanya Fajar saat Putra baru saja masuk ke rumah. Kalimat polos yang menohok Putra dan Ririen secara bersamaan.
\===============================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta