WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
DIKANDANG? EMANG GUE APAAN?


__ADS_3

SEKARANG HARI SENIN, SIAPA YANG BELUM PAKAI VOTENYA BISA KASIH KE NOVEL INI YA. VOTE KALAU TIDAK DIPAKAI JUGA AKAN HANGUS KOQ


SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


“Depan ke kiri, nah rumah cat cream itu,” Ririen mengarahkan Putra menuju ke rumahnya.


“Mamaaaaaaaaa,” sapa anak kecil berusia 4 tahun lebih berambut ikal, di ikuti teriakan “Mama uyaaang” dari lelaki lebih kecil lagi berusia 2 tahun.


“Assalamu’alaykum anak ganteng Mama, nakal enggak tadi? Nangis enggak?” tanya Ririen sambil berlutut menerima pelukan dua jagoannya.


“Masuk Put, kalian salam sama uncle Putra dulu,” perintahnya pada kedua anaknya.


“Ini Fajar ya Bun, dulu saya tinggal baru umur berapa bulan gitu ya,” Putra menerima salimnya jagoan kecilnya bu Dewi.


“Iya, ini Fajar dan adiknya Fajri, saat kamu lulus Fajar baru 8 bulan kayaknya, sekarang dia sudah TK, umurnya 4 tahun lebih mendekati 5 tahun, Fajri sudah Paud, umurnya 2 tahun hampir 3. Kebelakang aja yok, duduk di kandang,” ajak Ririen “Saya ganti baju dan ngurusin si baby dulu ya.”


‘Koq duduk di kandang sih? Emang gue apaan di kandangin?’ pikir Putra.


“Kak, ajak uncle ke kandang ya, Mama ganti baju dulu dan mimi in dede Lesha,” pinta Ririen pada anak sulungnya.


“Ayo uncle, ikut Kakak, kita kasih makan Upiek,” Fajar menarik tangan Putra tanpa ragu.


“Ta’, atu itut macuk tandang,” teriak Fajri sambil meraih mobilannya yang tadi dia mainkan.


“Bereskan dulu semua mainanmu, taruh tempatnya biar enggak dibuang Mama, dan enggak boleh kejar-kejar Upiek kalau ikut masuk kandang,” perintah Fajar pada adiknya. Putra mengamati anak seusia itu sudah bisa memimpin adiknya dan mempunyai tanggung jawab terhadap mainannya.

__ADS_1


Sampai di halaman belakang Putra terpesona akan kandang yang di sebut oleh bu Dewi tadi. Ternyata kandang adalah bangunan besar dari kawat yang sangat teduh karena didalamnya ada pohon mangga yang sedang berbuah kecil-kecil, di kawat juga banyak tergantung aneka anggrek serta tanaman gantung lainnya, di sana banyak burung kutilang, parkit, jalak, gelatik dan juga burung emprit yang biasa liar di sawah.


Ada kolam kecil di pojok, di bawah air terjun yang mengalir dari sudut dinding, ikannya pun ikan gepy, serta ikan kecil-kecil yang biasa di jual untuk anak-anak, ikan yang mudah hidup, ada beberapa ekor ayam kate serta kelinci fuzzylop serta hollandlop, bukan kelinci lokal.


Di pohon dilihatnya banyak diletakan sarang burung. Disatu sudutnya ada seekor ayam kate yang sedang mengerami dan seekor kelinci yang dipisah di kandang soliter dengan perut yang agak membuncit. Fajar membuka pintu kandang sambil menarik Putra masuk. Putra melihat 1 set kursi bambu yang ditutupi plastik setiap kursinya.


Tak lama Fajri datang minta dibukakan pintu kandang, rupanya dia sudah selesai membereskan mainannya.


“Kak bukain dong, Mama mau masuk nih,” pinta Ririen sambil membawa nampan berisi lemon tea dan risol goreng yang masih panas. Putra langsung membukakan pintu karena posisinya lebih dekat ke pintu.


“Makasih ya, bisa tolong bukain plastik mejanya?” pinta Ririen pada Putra.


Ririen meletakan nampan di meja, dia mengambil plastik dari tangan Putra dan melipatnya serta menyimpannya di kolong meja, lalu lanjut membuka plastik penutup kursi-kursi serta melipatnya.


“Kalau enggak ditutupi plastik suka ada kotoran ayam, atau burung,” Ririen menjelaskan mengapa dia menutupi meja dan kursi-kursi di sana sambil dia mencuci tangannya dengan sabun di kran yang tersedia di dalam kandang.


“Engga koq Bun, saya santai,” jawab Putra, dia mencoba menepis rasa yang belum pernah di alaminya ini. Dulu saat naksir Ayu tidak ada rasa berdebar seperti ini, dulu dia hanya merasa senang bila memandang wajah manis Ayu, tak disertai rasa ingin memiliki seperti saat ini.


Saat ini dia seakan ingin memiliki bu Dewi, dia ingin memeluknya dan ingin selalu melindunginya. Mengapa bisa dia merasa jatuh cinta pada pandangan pertama setelah 4 tahun tidak bertemu, padahal dulu satu tahun full dia ada di sisi bu Dewi tapi tak merasakan apa pun. Dulu dia sering mengantar bu Dewi ke beberapa kegiatan, bercanda di atas motor, tapi tanpa rasa cinta seperti saat ini.


Sebelum dia tahu status bu Dewi tadi, Putra, sempat galau karena jatuh cinta pada istri orang, tapi saat ini dia tidak ragu, dia akan memperjuangkan cintanya pada janda beranak 3 yang sangat ingin dia miliki. Dia yakin akan banyak yang menentangnya, karena selain status bu Dewi  janda beranak tiga, mantan gurunya ini juga lebih tua hampir enam tahun lebih dari dirinya.


“Tadi katanya mau urus baby Bun, koq enggak jadi?” tanya Putra, ketika melihat Dewi sedang memperhatikan Fajri yang sibuk memberi makan kelincinya.


“Sebelum saya pulang, si mbak baru kasih ASI dengan botol, jadi dia masih kenyang dan sedang tidur. Ini risol saya yang buat lho, cobain deh,” Ririen menawarkan risol yang terlihat menggoda selera menemani santai di sore hari ini.


Putra mencicipi risol sebagai penghormatan pada Dewi yang sudah menawarkan hasil karyanya, dia mengunyah pelan dan merasakan enaknya risol ayam buatan perempuan cantik di depannya. “Si kecil jagoan lagi atau perempuan Bun?” tanya Putra.

__ADS_1


“Perempuan, baru berumur 36 hari, namanya Alesha Putri.”


“Ya ampun, baru 36 hari lalu Bunda melahirkan? Koq udah keluar rumah sih Bun? Mana pergi sendirian pula. Trus masih cuti kerja ‘kan?” Putra ngeborong pertanyaan pada Ririen.


“Seminggu setelah ngelahirin juga udah bisa koq keluar rumah, tapi ya enggak jauh-jauh. Hari ini kalau enggak  karena acara reuni juga enggak keluar rumah. Cuti kerja masih 2 bulan lagi sih, tapi lusa mau ke kantor karena ada kerjaan yang enggak bisa dihandle Team Manager. Paling keluar setengah hari buat meeting dengan ketua yayasan Sangga Buana di Slipi,” Ririen menjelaskan kondisinya saat ini.


“Lusa mau berangkat jam berapa? Saya yang antar ya, saya akan temani sepanjang meeting. Jangan nolak apalagi ngebantah,” tetiba Putra langsung posesive dan menggengam tangan Ririen erat karena ketika Ririen bilang lusa dia akan kerja, Putra langsung pindah posisi duduk ke sebelah Ririen.


Ririen hanya bingung, ditatapnya tangannya yang berada dalam genggaman Putra, lalu di angkatnya arah pandangan mata, melihat manik mata Putra dengan tatapan penuh tanya.


“Please jangan melihat seperti itu, saya sendiri enggak tau apa yang saya rasakan saat pertama tadi liat kamu masuk ruangan reuni. Suatu rasa yang enggak  bisa saya jabarkan, lalu ditimpa rasa putus asa saat tahu itu kamu, karena saya merasa bersalah menyukai perempuan bersuami. Namun rasa bersalah itu sirna saat kamu menyebut tentang kata mantan suami.” Putra berhenti sejenak.


\===================================================


JANGAN LUPA BUKA JUDUL UNREQUITED LOVE KARYA YANKTIE TERBARU YAAA


MASUKKAN FAVORITE DAN KASIH SETANGKAI MAWAR ATAU SECANGKIR KOPI PENGHANGAT MALAM YANG DINGIN DIKALA HUJAN



==================================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2