WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
DADDY'S SON, NOT THAT MAN


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Mom, Fajar minta ketemuan dengan opanya di rumah kita aja, dia enggak mau nyamperin ke hotel atau tempat lain,” Putra membuka pillow talk malam ini, sambil mengusap-usap puncak kepala Ririen.


“Alasannya apa Dadd? Aku koq enggak nyaman ya mereka datang ke rumah,” Ririen memberi argumen.


“Fajar enggak mau kemana pun, dia enggak nyaman kalau bertemu selain di rumah, kalau di rumah dia merasa nyaman. Bila dia merasa enggak enak dia akan pura-pura masuk kamar sebentar atau ngapain, kalau di tempat lain kan enggak bisa.”


“Dan Fajar enggak mau kalau enggak ada kita terutama Daddy. Begitu katanya, dia enggak yakin Mommy mau full nemani mereka.” Putra memberi tahu hasil diskusinya dengan Fajaar tadi pagi.


“Koq dia tau ya Mommy malas nemuin mereka?” Ririen heran akan pemikiran anaknya.


“Dia ‘kan bukan bocah empat belas tahun biasa Mom, dia udah dewasa, dia tau bagaimana sikap ayahnya ke ibunya, dia tau enggak pernah dapat nafkah apa pun dari Ricky sejak kalian pisah,” Putra mencoba menepis keheranan istrinya.


“Kalau gitu besok malam kita diskusiin dengan mereka lagi ya Dadd, ‘kan tadi baru pembicaraan antara Daddy dan anak-anak, belum dengan Mommy. Gimana?” Ririen meminta pendapat suaminya.


“Terserah Mommy aja. Daddy mau yang terbaik untuk kalian,” Putra memeluk istrinya erat.


“Thanks Dadd, makasih atas cintamu,” Ririen menengadahkan wajahnya, di kecupnya dagu Putra lalu dia menyembunyikan wajahnya didada suaminya. Dia sangat bersyukur menerima cinta anak kecil yang sekarang sedang erat memeluknya.


“Dadd, jangan lupa lusa kita ke rumah mbak Kasih, 7 harinya  eyang kakungnya,” Ririen mengingatkan Putra. Tak ada jawaban dari suaminya, dia mengangkat wajahnya, dilihatnya Putra sudah lelap tertidur.


***


“Mas, Bang kemarin Daddy sudah bilang kalau opa pengen ketemu kalian?” Ririen membuka diskusi mereka malam ini di ruang keluarga. Tiga putri mereka sudah masuk kamar untuk tidur karena sudah pukul 20.00 malam lebih.


“Udah Mom, dan Mas minta izin ketemuannya dirumah aja ya Mom?” pinta Fajar.


“Can you tell me your reason?” selidik Ririen, walau kemarin Putra sudah menjelaskannya tapi dia ingin mendengar langsung alasan Fajar.

__ADS_1


“Aku enggak pengen ketemu, tapi karena diminta ya apa boleh buat. Tapi Mas tau Mommy pasti enggak mau nemani sepanjang pertemuan. Maka Mas minta Daddy harus selalu ada disamping Mas.” Fajar mulai membuka pendapatnya.


“Kenapa Mas minta di rumah, karena Mas lebih nyaman di sini. Kalau opa enggak setuju dengan syarat Mas, opa enggak perlu temuin kami, karena selama ini kami bukan apa-apanya, yang kami tau kami anak Putra Pamungkas Purwanagara,”


“Apa pun alasannya kami anak Daddy. Enggak ada yang bisa nyangkal itu!” Fajar menjawab berapi-api. Ada luka di kata-katanya.


Fajar tahu Ricky ayah biologisnya, tapi dia lebih tau hati Putra-lah yang selalu ada buat mereka. Ricky enggak pernah sekali pun ingin melihat mereka, enggak pernah bangga dengan prestasi mereka.


Bahkan keluarga Mahendra, sejak tau keberadaan Alesha dikandungan tidak pernah sekali pun ingin tau tentang adik kecilnya itu. Padahal mereka tau darah Mahendra lah yang mengalir dalam tubuh Alesha. Itu membuat Fajar sangat membenci keluarga ayahnya.


“Kalau Abang gimana?” tanya Ririen hati-hati.


“Mom, Abang enggak kenal yang namanya Ricky dan opa, jadi Abang enggak peduli mereka mau datang atau enggak karena Abang enggak mau ketemu ama orang yang udah bikin Mommy sakit.”


“Kalau mereka datang dan Mommy enggak mau ketemu, Mommy enggak perlu nemuin mereka, Abang yang akan bilang depan mereka kalau kami enggak butuh bertemu dengan mereka,” balas Fajri sama sekali enggak ada filter. Anak seusianya berkata tanpa menyaring, yang dia rasakan ya itulah yang diungkapkannya.


“Enggak boleh begitu Bang, enggak sopan namanya. Apalagi kita tuan rumah, ya harus nemuin walau sebentar. Paling enggak mengucapkan selamat datang,” Putra berupaya meredam suasana diskusi agar lebih adem. Dia menyeruput teh jahe panas yang sudah disiapkan Ririen.


“Tapi syarat dari Mas harus dipenuhi Mom, pertemuan diadakan di sini dan Daddy nemani sepanjang pertemuan!” tegas Fajar.


“Ok, kalau gitu kalian bisa kasih waktu kapan? Sebaiknya hari Sabtu atau Minggu, kalau hari lain ‘kan kalian akan repot karena sampai rumah aja sudah jam lima sore, malam harus belajar,” Ririen mencoba meminta anak-anaknya tidak terganggu waktu belajar mereka.


“Anytime mereka mau kapan, selama Sabtu atau Minggu Mas belum ada jadwal sih,” Fajar menjelaskan jadwalnya kosong, karena memang sejak mereka kecil Putra tidak mau hari Sabtu atau Minggu anggota keluarga punya kegiatan sendiri diluar kegiatan bersama semua anggota keluarga.


“Gimana kalau sekarang aja kita kabari mereka, Mommy malas bicara sendiri. Mas yang bicara dengan ayahmu ya?” pinta Ririen.


“Ok” Fajar menjawab pendek.


Ririen langsung menghubungi Ricky, walau sudah malam dia tidak peduli, dari pada ditelepon siang-siang saat dia sedang tidak bersama anak dan suaminya.


“Selamat malam, maaf mengganggu,” sapa Ririen saat telepon sudah terhubung. Dia mengatur menggunakan speaker agar semua bisa mendengar pembicaraannya.

__ADS_1


“Enggak ganggu koq, ada jawaban dari permintaanku kemarin?” tanya Ricky. Ririen langsung memberikan HP pada Fajar.


“Malam, apa masalahnya enggak bisa dibicarakan by phone saja tanpa perlu tatap muka?” tanya Fajar ketus.


Ricky yang mendengar suara laki-laki menjawab pertanyaannya sedikit kesal, dia mengira suami Ririen yang menjawab teleponnya. “Anda siapa?”


“Saya anak bu Dewi dan pak Putra yang ingin ditemui oleh bapak Fuad Setyawan Mahendra,” jawab Fajar dingin.


Ricky tentu saja kaget mendengar yang menjawab adalah anak sulungnya. Dia tidak menyangka anak usia empat belas tahun bisa berkata seperti itu, mungkin ini yang Ririen bilang kemarin anaknya bukan bocah yang tak bisa diajak bicara karena pola didik mereka berbeda.


“Fajar, ini Papa Nak,” sapa Ricky.


“Jawab saja pertanyaan saya, apa tidak bisa dibicarakan by phone tanpa perlu tatap muka,” jawab Fajar datar. Putra membelai lengan Fajar, berupaya meredam emosi anak sulungnya.


“Opa pengen ketemu kalian, jadi enggak bisa hanya by phone,” jawab Ricky.


“Kenapa baru sekarang punya kesadaran ingin ketemu? Dari dulu kalian tutup mata dan tuutp hati buat kami. Jadi sebaiknya teruskan aja seperti itu. Anggap kami tidak pernah ada darah keturunan Mahendra,” sarkas Fajar menjawab kata-kata Ricky.


“Papa enggak tau, tapi ini permintaan opamu,” Ricky tanpa sadar menyatakan bahwa bukan dia yang ingin bertemu dengan anak-anaknya.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER   YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2