WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
FACTORY OUTLET


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Pagi ini semua bangun dengan kondisi fresh. Putra menyiapkan sussu untuk kelima anaknya. Karena sedang berada diluar rumah maka sussu yang dia sediakan adalah sussu kotak kemasan. Hanya dia hangatkan agar anak-anak tidak minum sussu dingin. Ririen menyiapkan roti lapis aneka selai dan Putra memasukkan roti-roti itu di kotak bekal.


Tadi Ririen sudah membuat kwetiauw goreng seafood untuk sarapan mereka pagi ini. Tanpa diminta Fajri memperhatikan baju ganti ketiga adik perempuannya. Fajar yang memasukkan ke mobil. Kedua jagoan Putra memang sudah sadar akan tugas membantu kekasih hati mereka. Putra dan kedua jagoan sering menyebut Ririen dengan IBU RATU. Karena Ririen adalah ratu dihati mereka.


“Dadd, air putih di mobil kurang, jadi nanti harus beli lagi,” Fajar mengingatkan tentang air mineral kemasan yang memang selalu ada di mobil.


“Iya Mas, nanti kita beli sekalian tissue basah,” Putra juga ingat tissue basah habis.


“Hari ini kita akan ke tengah kota Bandung ya. Kita akan melihat factory outlet. Mas dan Abang silakan kalian beli pakaian, tas dan sepatu untuk kuliah dan sekolah kalian. Lalu siang kita ke kebun strawberry sekalian makan siang. Habis itu langsung pulang agar nanti malam kita bisa bebakaran,” Ririen menjelaskan planning mereka kali ini.


“Mas, kamu jangan malas belanja. Ingat mulai sekarang sejak hari Senin sampai hari Jumat kamu sudah tak berseragam,” Putra mengingatkan jagoannya. Karena Putra tahu Fajar sulit dipaksa untuk beli pakaian.


Saat remaja lain keranjingan belanja, anak-anaknya bahkan disuruh pun malas untuk memilih. Entah mengapa, itu menurun dari dirinya. Sejak kecil Putra pun malas beli pakaian. Padahal dia bukan anak tak mampu.


“Nah bener tuh kata Daddy,” Ririen pun menimpali kata-kata Putra. Ririen sering bingung. Kalau dipikir-pikir Fajar dan Fajri ‘kan bukan anak biologis Putra, tapi banyak sifat dan sikap mereka yang sama persis dengan Putra.


“Daddy dekat Mas nanti saat di FO, biar bisa kasih masukkan,” Fajar meminta Putra mendampinginya.


“Suruh belanja koq minta didampingi. Kayak mau ujian aja, takut,” Ririen malah menggoda Fajar.


Mereka pun mulai berangkat. “Mommy, apa semua pohon milikku sudah sampai ke rumah?” tanya Alesha. Dia ingat saat di Flona Lapangan Banteng memiliki tanaman pemakan serangga.


“Belum Mbak, Mommy sengaja minta dikirim saat kita sudah sampai rumah. Jadi Mommy sudah istirahat baru tanaman itu sampai kerumah. Jadi Mommy bisa langsung ngopeni mereka. Selain itu Mommy juga harus beli pot dan media dulu agar saat mereka datang kita bisa langsung repotting,” jawab Ririen. Dia tahu Alesha sudah tak sabar untuk repotting.

__ADS_1


“Dadd, ada mie ayam ceker,” Ririen melihat mie ayam ceker kesukaannya.


“Ha ha ha … hari ini menu kita bukan itu Mom,” Putra tahu istrinya hanya memberitahu bukan minta mampir untuk makan. Karena mereka baru saja selesai sarapan sebelum berangkat.


Sesuai permintaan Putra mendampingi Fajar dan Fajri. Sementara Ririen mengawal tiga anak gadisnya. Mereka makan ice cream duren dan uli bakar di dekat FO yang dijelajahi ketiga jagoan Purwanagara.


“Dadd, disebelah ada toko alat musik,” Fajri melaporkan apa yang dia lihat.


“Kita lihat setelah kita selesai beli banyak baju untuk kalian. Selama belum selesai beli baju, kita enggak akan ke toko jenis lain ya Bang. Bisa bahaya kalau baginda ratu marah,”  Putra tidak menolak permintaan Fajri.


Walau tadi Fajri hanya memberi tahu. Tapi Putra tau, itu adalah permintaan jagoan kecilnya.


“Oke Dadd,” dengan senang hati Fajri menjawab sang hero.


Fajar terdiam melihat Putra yang mengacak-acak puncak kepala adiknya. ‘Adakah pria yang disebut sebagai ayah biologisku pernah memikirkan kami?’


“Ini bagus lho Mas, kamu bisa mix dengan kaos di bagian dalamnya,” Putra memberi masukan sebuah kemeja kotak-kotak pada Fajar.


“Ada beberapa dosen yang tidak membolehkan kita masuk kelasnya dengan mengenakan kaos dan celana jeans. Itu kata beberapa teman Daddy saat kuliah di Indonesia dulu. Entah sekarang. Kalau di kampus Daddy tentu tak ada larangan,” Putra memberitahu apa yang dia pernah dengar. Tapi dia tak tahu kondisi sekarang di Indonesia. Apa masih ada dosen yang menerapkan hal itu untuk di kelasnya.


Fajar membeli beberapa warna celana bahan sebagai antisipasi. Karena mayoritas celana yang dia miliki dari bahan jeans. Tadinya celana kain hanya celana seragam sekolah saja. Tapi tetap dia juga beli celana jeans. Karena dia memang suka. Sama seperti daddynya yang kekantor pun dengan celana jeans.


Akhirnya hunting baju dan ransel serta sepatu selesai. Sekarang mereka menuju toko alat musik yang tadi Fajri lihat. Fajri sangat senang masuk ke surga dunia miliknya. Dia mengamati semua alat yang ada disana. Dia juga melihat banyak buku musik, buku sejarah tokoh musik, majalah musik serta asesoris berbentuk alat musik.


‘Sepertinya aku harus membuat sebuah ruangan kedap suara di rumah untuk Fajri berlatih rutin tanpa perlu ke studio,’ Putra  langsung tercetus ingin membuat ruang khusus bagi Fajri. Dibiarkannya Fajri bertanya semua hal pada penjaga toko disana.


“Dadd, gitar itu bagus, tapi aku juga pengen biola,” Fajri mengemukakan keinginannya. Bukan soal uang, karena walau Putra tak membelikannya, dia bisa bayar dengan uang tabungannya sendiri. Dia bertanya karena ingin pendapat Putra.


“Menurut Daddy, gitarmu di rumah memang masih yang pertama Daddy beli dulu. Masih gitar khusus anak-anak.  Kalau menurutmu kamu sudah lebih sreg dengan gitar normal ya beli aja gitarnya,” Putra menjeda kalimatnya.

__ADS_1


Sang penjaga toko melihat Putra sama sekali tidak menolak keinginan anaknya tanpa melihat harga gitar yang diinginkan lelaki kecil itu. Padahal gitar yang Fajri inginkan adalah jenis yang termahal di toko.


“Trus kalau soal biola, ya beli aja. Kamu ‘kan belum punya,” jawab Putra selanjutnya. “Semua terserah Abang.”


‘Ya ampuuuuuuuuuuuun. Si Bapak enteng amat menyetujui semua permintaan anak kecil ini. Biasanya kalau yang masuk anak kecil aku malas. Karena orang tuanya pasti mengarahkan jenis termurah,’ penjaga toko makin kagum pada anak dan bapak yang dia layani kali ini.


“Enci, bisa kirim ke Jogja dengan asuransi?” Putra bertanya pada sang pemilik toko.


“Bisa Pak,” sang enci tentu sudah biasa mengirim alat musik ke luar daerah. Bahkan luar pulau pun dia layani dengan baik.


“Abang mau apa lagi?” tanya Putra pada Fajri. Putra ingin membeli seperangkat alat musik angklung bila ruang musik kedap suaranya sudah jadi. Kalau sekarang dia bingung mau diletakkan dimana satu set angklung itu.


Fajri memilih banyak buku musik. Majalah musik dalam bahasa inggris dan juga beberapa asesoris. “Ini aja Dadd.”


“Alat musiknya?”


‘Ya ampuuuuuuuuuun, bahkan si Bapak masih menawarkan mau apa lagi. Benar-benar bapak idaman,’ si pegawai membuat nota semua buku yang Fajri pilih.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  THE BLESSING OF PICKPOCKETING  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2