
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Pagi ini keluarga Putra sarapan lebih cepat, sejak mandi tadi semua barang sudah dikeluarkan dari kamar masing-masing dan siap masuk ke mobil yang Putra sewa.
Bu Purbowati mulai terlihat sedih karena akan kembali berpisah dengan cucu-cucunya. “Eyang jangan sedih, liburan panjang nanti Mbak akan nginep sini lagi,” Alesha yang melihat wajah murung eyang putrinya langsung menghiburnya.
“Iya, Eyang enggak sedih koq,” balas Bu Purbowati sambil tersenyum.
“Bener ya, Atung nunggu kedatanganmu lho,” pak Kusumo Purbowisono membalas ucapan Alesha. Dia senang Alesha menyukai tanaman seperti Ririen dan dirinya.
“Iya beneeeer. Aku mau ke Flona lagi,” jawab Alesha. Rupanya bukan nginep di rumah eyang yang jadi fokusnya. Tapi lebih berat ke Flona tujuan kedatangannya nanti.
“Modus,” Fajar langsung mengmentari kata-kata adik perempuannya. Ririen dan Putra tersenyum mendengar kata-kata Alesha
“Aku pengen beli bibit lagi Mas,” Alesha tak mengerti kalau dia sudah diejek Fajar. Tujuannya hanya satu kembali membeli bibit.
“Besok di Bandung kita akan ke kebun kaktus di Lembang. Kamu bisa memilih banyak jenis di sana,” Putra memberi masukan pada Alesha tentang salah satu tempat yang akan mereka datangi di Bandung nanti.
“Asyiiiiiiiiiiik,” tentu saja Alesha sangat senang mendengar wacana yang daddynya sebutkan itu.
\*\*\*
Akhirnya mereka tiba di Bandung. PARIS VAN JAVA. Selepas makan siang, mereka baru menuju villa yang sudah dipesan Putra jauh-jauh hari. Rencana untuk ke Taman Impian Jaya Ancol Ririen batalkan karena anak-anak meminta mereka langsung ke Bndung saja.
“Kita istirahat dulu ya. Nanti sore baru kita jalan-jalan,” Ririen memberitahu pasukannya. Driver yang Putra sewa langsung pamit pulang. Dia akan datang lagi nanti menjelang kepulangan rombongan dan mengantar mereka ke bandara.
“Siap Mom,” Fajar dan Fajri membantu Putra memasukkan barang-barang mereka ke dalam villa. Ririen langsung masak nasi walau sedikit. Dia tadi bawa banyak bahan makanan frozen dan aneka saos. Udara dingin akan membuat anak-anaknya kelaparan. Kemarin Ririen dan ibu membuat rendang. Dia juga membawa telur asin.
“Kalian kalau mau makan lagi, ini nasi sedang Mommy masak. Ada rendang dan perkedel. Kalau mau tambah nugget atau sosis kalian goreng sendiri. Saos kesukaan kalian juga sudah siap.”
“Ada tempura kalau Alesha mau makan. Mas tolong gorengin Alesha ya?” Ririen memberitahu dua jagoannya. Sambil dia memasak nasi dengan rice cooker yang tersedia di villa. Dari rumah ibu dia membawa sedikit beras.
__ADS_1
“Iya Mom,” sahut Fajar, anak sulung Ririen ini juga mengeluarkan aneka cemilan dan diletakkan di meja. Adik-adiknya memang suka ngemil aneka snack.
“Daddy, kapan ke kebun kaktusnya?” tanya Alesha Dia tak sabar ingin melihat kaktus.
“Besok sayang. Kebunnya di Lembang, agak jauh dari sini. Malam ini kita ke Dago ya,” Putra menjawab sambil mengangkat Alesha dan menggelitiki perut gadis itu dengan dagunya.
“Geliiiiiiiii,” protes Alesha sambil tertawa senang. Ririen dan Fajar melihat kejadian itu dengan tatapan berbeda.
‘*Lelaki itu bukan ayah biologis kami, tetapi dia mencinta dengan segenap jiwa. Sedang ayah biologis kami saja. Setelah pertemuan itu sama sekali tak pernah punya niat say hello pada kami*,’ Fajar bersyukur, ibunya bertemu dan menikah dengan Putra.
‘*Yang aku anggap anak kecil, ternyata mempunyai cinta seluas samudra. Tak pernah kusangka aku akan berenang dalam kebahagian pada samudra cintanya*,’ pikir Ririen.
Ririen dan Putra sengaja tidur siang bersama Leona dan Leoni. “Daddy, aku mau bobo sini juga,” Alesha ikut naik di king bed yang ditiduri Putra dan Ririen.
“Sttt, kita pindah kesana yok, biar Mommy dan adik-adik enggak keganggu,” Putra mengangkat Alesha pindah ke bed tambahan di kamar itu. Dia baringkan Alesha dan dipeluknya erat agar tidur bersamanya.
Sore itu mereka mengitari kota Bandung. Putra memperlihatkan gedung sate dan bercerita mengapa disebut gedung sate. Sepanjang jalan semua dia ceritakan untuk pengetahuan anak-anaknya.
Ririen akan mengamati dengan saksama, kalau ada bijinya sengaja dia ambil lalu dimasukkan di plastik dengan ditulis deskripsinya dengan spidol permanen.
“Daddy, sepanjang jalan Abang lihat banyak sate kelinci. Apa enggak kasihan ama kelinci?” Fajri bereaksi dengan banyaknya warung sate kelinci.
“Kamu tahu ayam kate, ayam pelung, ayam bekisar, ayam bangkok dan ayam petelur serta ayam leghorn yang buat potong?” Putra bertanya balik pada jagoan kecilnya.
“Tahu,” jawab Fajri yakin.
“Apa beda ayam-ayam itu?” pancing Putra.
“Ayam kate dipelihara karena lucu, kadang disebut indah, terlebih kate jenis serama. Ayam pelung karena suaranya, ayam bangkok karena ketangguhannya berkelahi, ayam petelur karena diambil produksi telurnya dan ayam potong dipelihara untuk dipanen dagingnya,” tentu sekelas Fajri pertanyaan itu tak menjadi kesulitan untuk menjawabnya. Walau tak semua jenis ayam dia jabarkan, setidaknya dia tahu.
__ADS_1
“Kelinci pun sama. Ada kelinci pedaging dan kelinci hias. Yang dibuat sate adalah kelinci pedaging. Bukan kelinci yang kita pelihara di rumah,” jawab Putra. Dia harus memberi pembanding dulu untuk menjawab rasa keingin tahuan anaknya. Mereka memelihara kelinci jenis fuzzy lop dan holland lop. Kelinci dengan jenis telinga menjuntai dan bulu tebal.
“Cobain yok Dadd. Mas ingin tahu rasa sate kelinci,” Fajar jadi penasaran akan makanan yang belum pernah dia cicipi itu.
“Besok siang kita makan itu ya. Pagi kita ke Lembang, sarapan di villa aja. Lalu ke kebun kaktus VENITA, itu kebun kaktus terlengkap disana. Baru cari makan siang sate kelinci. Sesudah itu kita lanjut ke Maribaya,” Putra menyanggupi permintaan anak sulungnya.
Ini jenis kelinci FUZZY LOP dan HOLLAND LOP yang eyank dan Alesha punya
Ini jenis hias ya, bukan jenis pedaging

“Dadd, apa di villa kita bisa bakar jagung?” tanya Fajri. Anak-anak ini setiap minggu sudah bikin menu bebakaran di rumah mereka. Tapi kalau jagung manis bakar dimana pun mereka tak pernah bosan.
“Sepertinya bisa, besok sebelum berangkat ke Lembang Daddy akan minta disiapkan alat-alat bakar oleh penjaga villa. Di Lembang kita juga bisa beli jagung dan bahan yang mau kita bakar jadi enggak hanya jagung aja,” Putra selalu seperti ini bila menyangkut keinginan anak-anaknya. Bila menyangkut kreatifitas atau pengetahuan, apa pun pasti akan dia penuhi.
Malam ini Putra mengajak keluarganya makan malam di puncak Dago. Dari meja mereka, pemandangan kota Bandung diwaktu malam terlihat sangat cantik. Ririen dan anak-anak terpesona akan keindahan yang mereka lihat. Pemandangan ini mengingatkan Ririen saat dia hamil twins dan makan malam disini dengan Putra. Saat itu dia masih bekerja dan ada order di kota Bandung.
“Inget pas berdua ya?” bisik Putra sambil memberi ciuman di kening istri tercintanya. Ririen hanya tersenyum manis dan menjawab dengan anggukkan.
### Brondongnya ini memang selalu penuh cinta.
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL **THE BLESSING OF PICKPOCKETING** YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL \*\*THE BLESSING OF PICKPOCKETING \*\* ITU YA.

***Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa***
***YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***
__ADS_1
***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta***