WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
ANDA ITU BUKAN AYAH KAMI!


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Bagus, disini sudah jelas kan anda itu bukan ayah kami!  Karena anda sama sekali tidak punya niat bertemu kami. Yang ingin bertemu kami adalah ayah anda. Saya tidak ingin bicara panjang lebar dengan anda, saya tentukan waktu bertemu hari Sabtu besok di rumah Daddy saya jam sepuluh pagi.”


“Tidak ada negosiasi waktu, dan kalau ayah anda tidak datang maka jangan pernah minta waktu lagi pada ibu saya. Sekarang anda siapkan alat tulis, saya akan sebutkan alamat rumah orang tua saya.”


Tanpa diskusi dengan mommy dan daddynya Fajar langsung memutuskan waktunya hari Sabtu besok, hanya tiga hari dari saat dia bicara dengan Ricky. Fajar  berharap opanya tidak bisa hadir maka dia juga menekankan tak ada pengaturan waktu lagi .


‘Benarkah usianya empat belas tahun? Bahkan dia bisa langsung memutuskan sesuatu dengan cepat. Benarkah bibit itu dari diriku? Aku merasa dia terlalu hebat untuk anak seumur Fajar putraku,’ batin Ricky sambil menulis alamat yang Fajar sebutkan.


***


Hari Sabtu yang ditetapkan telah tiba, terlihat sebuah mobil minibus memasuki halaman parkir rumah keluarga Putra. Pak satpam yang menerima tamu mempersilakan mereka duduk menunggu di ruang tamu yang tidak terhubung dengan rumah utama.


Ruang tamu keluarga ini dibuat Putra berbentuk joglo kayu berlantai granit sesuai pesanan istri tercintanya yang tidak ingin rumahnya bisa dilihat oleh sembarang orang.


Gini nih bayangan ruang tamu milik Ririen yang jauh dari rumah utama, karena Ririen tidak mau rumahnya jadi konsumsi publik.



Saat itu nyonya rumah sedang di kebun belakang dengan ketiga putri mereka yang hari ini berniat membuat sate sosis dan bakso. Dia sedang mengajarkan Leona dan Leoni menusukkan bakso berseling dengan sosis, keju serta paprika untuk nanti mereka bakar.


Sementara Alesha sedang menusuk udang, dia dan Putra paling suka udang bakar.


“Mom, tamunya udah datang tuh,” Fajri memberitahu Ririen dibelakang.


“Mommy tinggal ya, Mommy ada tamu, kalian jangan ganggu ke depan ya,” Ririen memperingatkan ke tiga putrinya. Dia meminta dua asisten rumah tangga mengawasi mereka dan satu asisten rumah tangga mengeluarkan minum serta snack bagi tamunya.


“Pak Nando, tolong cepak e bakarane yo, ben bocah-bocah anteng” perintah Ririen pada supirnya. Dia mencuci tangannya dan berjalan ke arah joglo, dia santai dengan jeans dan kaos yang kebetulan sewarna dengan Putra dan ke dua jagoannya.

__ADS_1


Keluarga Putra pakai kaos warna krem dengan motif gambar yang tidak sama dan celana jeans biru dongker. (cepak e bakarane yo, ben bocah-bocah anteng = siapkan bara untuk membakar, agar anak-anak tenang ).


“Apa kabar Pak? Selamat datang di gubuk kami,” sapa Ririen formal, dia memberi salam tanpa mencium tangan laki-laki yang pernah jadi mertuanya itu.


“Sehat Bu?” tanya Ririen pada mantan ibu mertuanya ambil bersalaman.


Di ruang tamu itu dia juga melihat temannya yang juga mantan adik iparnya yang sedang menggendong bayi berusia sekitar 6-7 bulan yang tertidur lelap dan seorang perempuan muda yang pucat dan sedang hamil.


Ririen menyalami Indira tanpa cipika cipiki. Juga perempuan hamil itu.


“Fajar dan Fajri mana Dadd?” tanya Ririen pada Putra


“Tadi Abang ‘kan yang panggil Mommy, kirain kesini bareng Mommy” jawab Putra sambil berdiri untuk memanggil kedua jagoannya.


Fajar dan Fajri masuk ruang tamu dalam pelukan di bahu oleh Putra. Semalam mereka sudah diultimatum oleh Putra harus bersikap sopan, harus cium tangan, karena bila mereka tidak sopan yang akan disorot adalah Ririen dan Putra yang dianggap tidak mendidik anak-anak dengan baik.


‘Ya ampun, mereka tinggi dan sangat tampan,’ Ricky melihat dua putranya yang berada dalam dekap hangat seorang lelaki yang menggantikan sosoknya sebagai ayah dua jagoannya itu.


Fajri yang lebih dulu menyalami semua yang hadir, dia mencium tangan opa, oma serta ayahnya. Tapi hal itu tidak dia lakukan pada tantenya dan seorang perempuan yang sedang hamil dan duduk disebelah ayahnya


“Mas, jangan gitu ah,” Ririen bicara pelan, tapi karena ruangan senyap maka semua bisa mendengar suara Ririen tersebut.


“Mas banyak kerjaan Mom, enggak punya waktu basa basi,” jawab Fajar ketus.


“Monggo diminum dulu, itu bayinya tidurkan saja di dalam,” Ririen menawarkan Dira agar menidurkan anaknya di kamar tamu.


“Ririen, Papa dengar kamu punya satu anak yang kamu sembunyikan sebelum bercerai?” pak Fuad Setyawan Mahendra bertanya penuh selidik pada Ririen.


“Saya baru tahu saya hamil satu minggu sebelum sidang keputusan cerai, untuk mencegah penundaan keputusan, saya tidak memberitahu siapa pun tentang kehamilan itu. Bahkan kepada keluarga saya sekali pun, mereka baru tahu satu minggu setelah saya bercerai,” jawab Ririen tanpa ragu.


“Tapi saya sangat tidak suka kata-kata anda yang menyebutkan saya menyembunyikan anak tersebut. Saat pembagian uang hasil jual rumah, anak anda yaitu ayah bayi dalam kandungan, dan juga istri anda juga anak perempuan anda mengetahui saya sedang hamil. Dan anda tahu apa pendapat mereka? Tanyakan pada mereka kalau mereka berani bilang disini apa yang mereka tuduhkan pada saya!” jawab Ririen dengan ketus.

__ADS_1


“Mom, sabaaaaar,” Putra berupaya meredam kemarahan istrinya.


“Dan lagi, kalau anak anda selalu melihat dua anaknya setelah perceraian sesuai dengan keputusan pengadilan, tentu dia akan tahu kehamilan saya sejak awal.”


“Tapi anak anda kan tidak peduli pada anak-anaknya. Jangankan memberi nafkah sesuai keputusan sidang. Melihat anak-anaknya saja tak pernah satu kali pun dia lakukan. Dia senang bisa cerai dengan saya karena menjadi bebas berpetualang sesuka hatinya tanpa ada istri yang mengekangnya!” Ririen tak peduli kata-katanya terlalu vulgar untuk kedua jagoannya.


Pak Fuad Setyawan Mahendra tertohok dengan jawaban mantan menantunya. Sementara Siska Mahendra dan kedua anaknya hanya tertunduk. Mereka ingat saat itu menuduh Ririen hamil dengan orang lain.


“Perempuan atau laki-laki?” tanya pak Fuad Setyawan Mahendra mencoba tenang dan tidak menjawab amarah Ririen.


“Perempuan.”


“Maksud Papa datang adalah untuk membahas hal yang prinsipil, oleh sebab itu Papa juga mewajibkan Adira dan Shintia istri baru Tommy ikut, karena dengan dua istrinya terdahulu Tommy enggak punya anak,” pak Fuad Setyawan Mahendra menceritakan bahwa Tommy sudah tiga kali menikah sesudah bercerai dengan Ririen.


“Semua perempuan yang dia tiduri tak akan pernah hamil. Karena semuanya pasti dia suruh suntik KB. Saya pernah bertemu dengan Mona dan dia ceritakan semua kelakuan anak anda pada setiap perempuan korban kebusukkannya,” sinis Ririen menceritakan fakta kelakuan Ricky.


Tentu saja Fuad, Siska, Indira dan Shintia kaget mendengar fakta ini. Shintia juga mengalami hal itu, tapi saat suntik terakhir dia minta yang hanya satu bulan, bukan tiga bulan seperti permintaan Ricky sehingga dia bisa hamil dan dinikahi oleh Ricky.


Ricky hanya bisa menatap tak percaya kalau Ririen membuka kedoknya didepan kedua orang tuanya.


***


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  CINTA KECILNYA MAZ   YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2