
BAGAIMANA KHABAR KALIAN SAAT INI?
SEMOGA SELALY HAPPY.
DICERITA AWAL MASIH SERING BOLAK BALIK KE MASA AWAL SAAT KEJADIAN MENYAKITKAN BAGI ARIENKA ATAU PUTRA YAA. JADI EMANG HARUS CERMAT AGAR ENGGAK BINGUNG
YANKTIE UCAPKAN SELAMAT MEMBACA
“Saat ini yang tahu aku hamil, ya baru semua yang ada disini, karena aku enggak mau kasih tahu siapa pun sebelum ada keputusan sidang, aku enggak mau kalau bayi ini menghambat perceraianku,” jelas Ririen tegar.
“Ayah enggak bisa bicara banyak. Yang Ayah minta sekarang kamu harus menatap masa depanmu dengan tabah dan kuat karena kamu single parent dengan tiga nyawa. Kami akan selalu mendukungmu,” Kusumo Purbowisono sang ayah hanya bisa mendoakan semoga kedepannya nasib putri bungsunya akan berubah baik.
***
Pagi ini mas Teguh, mas Bambang dan mas Lukman membawa beberapa orang anak buah mereka di kantor untuk membantu Ririen pindah rumah dari perumahan Kranggan Permai di daerah Bekasi ke daerah Cilangkap, Jakarta Timur.
Ririen sudah membeli rumah minimalis dengan tiga kamar di daerah Cilangkap Jakarta Timur, tak jauh dari rumahnya saat ini. Rumah lama di Kranggan walau atas namanya tapi dibeli saat dia baru menikah dengan Ricky.
Ririen tidak ingin mama mertuanya reseh. Dia akan tunjukkan pada mama mertua dan mantan suaminya, sebelum dia menjual rumah, dia sudah lebih dahulu beli rumah. Kemarin di pengadilan agama dia memberi tahu Ricky untuk mencari pembeli rumah lama mereka agar hasil penjualannya bisa dibagi dua.
FLASHBACK ON
“Rick, tolong cari pembeli rumah ya. Minggu depan rumah Kranggan sudah kosong koq, harga yang kamu tawarkan terserah, yang penting harga terendah sesuai yang sudah pernah kita bahas,” Ririen mengatakan itu di depan mama mertuanya dan tidak memanggil Ricky dengan sebutan Bang atau Papa lagi, tapi langsung menyebut namanya saja.“Kamu akan tinggal di mana?” tanya Ricky, mungkin dia berpikir mantan istrinya akan pindah ikut mertuanya di Cempaka Putih.
“Empat bulan lalu aku sudah membeli rumah di Cilangkap, cukup layaklah untuk aku dan anak-anak,” Ririen merendah, karena rumah yang dia beli lebih besar luas tanahnya dari rumah yang mereka miliki sebelumnya. Dia ingin mama mertuanya tahu, tanpa Ricky dia sanggup hidup layak.
__ADS_1
FLASH BACK OFF
Sudah empat hari Ririen beberes sedikit demi sedikit di rumah barunya, dia juga sudah lapor RT tentang kepindahannya dan menjadi penduduk di situ, rasa jenuh membebaninya saat ini.
Besar rumah ini memang hampir sama dengan rumah lamanya, 3 kamar tidur yaitu kamarnya, kamar Fajar bersama Fajri, serta satu kamar untuk tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur dan garasi.
Bedanya sekarang di sini ada kamar pembantu serta kebun belakang yang lumayan luas, Ririen berniat membuat sangkar hewan yang besar yang bisa dimasuki dirinya dan anak-anak, bermain bebas dengan peliharaan mereka yang dibiarkan agak liar karena tidak di kurung di sangkar kecil-kecil.
Di rumah lama, tak ada kamar untuk tamu. Karena kamar yang tersisa digunakan untuk para pengasuh anak-anaknya.
Ririen berimajinasi nanti di dalam kandang juga akan ada kursi santai untuk membaca sambil nge teh sore hari. Luas halaman depan juga 2 kali lipat dari luas halaman rumah lamanya, Ririen berniat menambah koleksi tabulampotnya.
‘Ngomong-ngomong tabulampot, koq jadi kepikiran hunting ke pameran Flona di lapangan banteng ya?’ Ririen ingat, saat ini sedang ada pameran Flona yang diadakan satu tahun sekali.
Ririen bergegas berganti pakaian, dia mengeluarkan kunci mobil dan meraih tas kecil. “Mbak ibu pergi sebentar yo, kalau anak-anak bangun langsung mandikan dan kasih cemilan sore serta susunya. Kalau tukang yang ibu pesan jadi datang, suruh ketemu besok sore ya. Kemaren sih bilangnya mau datang malam ini bukan sore, tapi takutnya dia datang sore kan enggak enak,” Ririen memberi perintah pada asisten rumah tangganya, karena malam nanti dia ada janji dengan tukang yang akan disuruh membuat kandang besar di kebun belakang.
***
Biasanya Ririen dan ayahnya janjian, tapi karena hari ini keinginannya mendadak untuk hunting, maka Ririen tidak menghubungi ayahnya.
Hari ini Ririen membeli bibit jeruk jari budha dan beberapa jenis sukulen variegata. Sebelum pulang dia sengaja membeli kerak telor, panganan khas Betawi yang sangat dia sukai. Sebelum maghrib dia sudah sampai di rumahnya kembali, tumben hari ini dia tidak kejebak macet.
***
“Sambil diminum kopinya Bang,” Ririen menawarkan tukang yang akan membuat kandang meminum kopi yang sudah di sediakan. Dia membaca data kebutuhan yang dibuat tukang, yang besok harus dia beli sebelum dia berangkat kantor.
“Ini kawat yang lebar 90 cm ‘kan Bang? Bener kebutuhannya segitu?” tanya Ririen memastikan.
__ADS_1
“Iya Bu, kalau kurang nanti gampang nambah, kalau bahannya kelebihan sayang Bu, sisanya enggak kepake buat apa?” jawab bang Tuin, tukang yang direkomendasikan mbak Riesta kakak sulungnya. Mbak Riesta memang tinggal dekat rumahnya. Mereka beda RT saja.
Mas Teguh, suami mbak Riesta yang memberitahu kalau ada rumah yang dijual. Maka Ririen langsung membelinya. Saat itu dia sudah mengajukan gugatan cerai pada Ricky.
Ririen bahagia membayangkan dia akan memelihara kelinci, ayam kate dan aneka burung berkicau yang akan meramaikan rumahnya.
***
Pagi ini Ririen merasa sangat pusing, tapi di kantor ada meeting dengan pemilik perusahaan. Kebetulan dia lah tuan rumah meeting kali ini. Karena pak Insa owner perusahaannya minta pertemuan diadakan di kantor cabang yang Ririen pimpin. Bukan di kantor pusat seperti biasa.
“Mbak Tuti, tolong minta mbak Atin buat bantu persiapan rapat ya, saya datang 1 jam sebelum meeting deh. Perut enggak mau kompromi nih,” Ririen mengabari Tuti tentang kondisinya saat ini.
Kehamilannya kali ini beda dengan kehamilan sebelumnya. Di dua kehamilan sebelumnya Ririen tidak mengalami morning sickness, tidak pakai acara ngerengek ngidam. Tapi di kehamilan ke tiga ini setiap pagi dia selalu tersiksa, dan dia juga sering ingin makan sesuatu yang biasanya dia tidak suka, walau bukan makanan yang sulit di dapat, tapi dia kepaksa nyari sampai dapat karena bila belum terpenuhi maka tidak akan makan apa pun.
Rasanya ini memang hamil terberat baginya, pas tidak punya suami, pas hamilnya rewel. Namun Ririen berupaya menikmati semuanya dengan tabah. Dia tidak ingin bayinya merasa tertekan.
“Siang Mbak Dewi, ini data yang akan di gunakan untuk rapat kali ini,” mbak Atin staff administrasi memberikan bundel yang sudah dia kerjakan.
“Makasih Mbak, gimana kehamilanmu?” tanya Ririen pada Atin yang kebetulan juga sedang hamil usia 14 minggu.
“Lumayan Mbak, udah enggak terlalu rewel,” mbak Atin menjawab sambil mengelus perutnya, dia sudah menggunakan baju hamil.
=================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta