WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
AYAH TERBAIK


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


Fajar ingat beberapa tahun lalu Putra sampai memperkarakan seorang perempuan yang ingin merusak rumah tangga kedua orang tuanya. Itu karena cinta daddynya yang teramat besar pada Ririen. 


“Ya, kami merasakan cinta tulus semua keluarga Purwanagara. Enggak ada satu pun yang membedakan apalagi mengatakan kami bukan anak Daddy. I love you so much Dadd” Fajri mengakui cintanya pada sosok laki-laki pujaannya itu.


“Ok, mari kita pulang sebelum ibunda Ratu menghubungi kita dan mengancam mengunci rumah agar kita enggak bisa masuk. Dan ingat, lulus itu bersyukur, bukan pesta-pesta dan hura-hura, karena langkah kita masih panjang” tutup Putra mengakhiri pembicaraan mereka.


“Dadd, beli martabak telur dulu untuk ibunda ratu biar dapat tiket masuk rumah” goda Fajar yang disambut tawa oleh Fajri dan Putra. Mereka memang kompak seperti three musketeers.


*** 


“Daddy,” rengek Alesha saat Putra baru saja masuk ke rumah. Tadi dia sudah izin pada Ririen ingin bercerita dengan Fajar dan Fajri dan istrinya sudah memberi izin. Mengapa dia pulang disambut tangisan bidadari kecilnya?

__ADS_1


“Kenapa? Princess udah gede lho, masa masih nangis aja?” Alesha memang sudah SMP.


“Hidungku mampet dan aku enggak bisa napas,” jawab Alesha. 


‘Ya ampun, hidung mampet aja mesti daddy yang turun tangan,’ Fajri bingung sendiri. Tapi dia ingat ketika dia sakit perut ketika SD pun cuma Putra yang bisa menghilangkan rasa sebah diperutnya karena dia tak mau diurusi Ririen.


Fajri tahu bukan mommynya tak mau mengurus Alesha, tapi Alesha yang tak mau diurus Ririen. 


“Daddy ganti baju dulu, baru nanti bantuin kamu biar bisa napas ya?” begitulah Putra. Demi anaknya apa pun akan dia lakukan.


*** 


“Hisap uapnya dalam-dalam dan jangan protes panas,” begitulah Putra. Dia ikut berada dalam selimut agar putrinya merasa ada yang mengerti dirinya. Bukan hanya menyuruh saja. 


Setelah itu Putra meminta Ririen menggosok punggung dan dada Alesha. Biar pada kedua anak kandungnya sekalai pun Putra tak mau memegang tubuh mereka saat mereka sudah diatas lima tahun. Dan anak-anaknya juga sudah diberitahu tak boleh ada lelaki yang memegang bagian tubuh mereka walau kakak atau ayahnya sekali pun. 

__ADS_1


“Sekarang bobo ya, ini bawa inhalernya,” Putra mengantar putrinya ke kamar tidur. 


‘Dia ayah terbaik untuk kami,’ Fajar hanya menilah dari jauh tentang perilaku daddynya. 


Sehabis cuci tangan Ririen menikmati martabak telur yang tadi ketiga jagoannya bawakan. Dia memang paling suka martabak telor. 


“Nangis dari jam berapa?” tanya Putra diruang tengah. 


“Enggak lama Daddy berangkat. Kalau Mommy telepon paling Daddy belum sampai tujuan. Jadi ya Mommy biarin aja. Udah Mommy bikinin wedang ronde. Udah mendingan. Nangis lagi kan pas mobilmu masuk. Langsung deh cari perhatian pacarnya,” jelas Ririen.


“Ha ha ha, susah kalau pangeran kebanyak selir,” goda Fajri.


“Itulah Daddy mu. Mommy mah harus sabar ngadepin tiga selir daddymu itu,” memang itu bahasa becanda mereka. Ririen adalah ibunda ratu dan ketiga gadis adalah selir dari sang raja atau kadang disebut pangeran. Suka-suka mereka aja. 


Putra memeluk lembut pundak istrinya. Perempuan yang dia kasihi dengan segenap jiwanya. 

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2