WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
RA SAH DI GAGAS


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Nanti pulang pakai mobil Daddy aja ya, mobil Mommy biar dianter ama orang kantor,” Putra berupaya mengalihkan pembicaraan agar emosi Ririen mereda, dia tau Ririen sedang kesal dengan Zaskia lalu ditelepon seperti itu dari kantornya, makin marahlah dia.


“Kemarin Daddy banyak bawa pisang tanduk, talas dan pastinya alpokat lho Mom, ada di jok belakang.”


“Buat mama sudah di kasih?” tanya Ririen.


“Sudah. Semalam punya mama langsung Daddy turunin sekalian baju kotor,” jawab Putra.


‘Ini orang, malah sempet-sempetnya mikirin oleh-oleh buat mama.’


Sehabis makan siang mereka kembali ke kantor Putra, saat ini baru Ririen memperhatikan lay out ruang atas. Di atas tidak ada ruang tertutup sama sekali kecuali kamar mandi. Meja kerja Putra dengan dua kursi untuk tamunya lalu ada seperangkat sofa serta tentu saja meja gambar. Di lantai ini terdapat tiga meja berisi maket proyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaan Putra.


Sejak sebelum membangun kantor, Putra memang ingin kantornya tanpa ruang tertutup. Sehingga tak akan pernah ada kencan dalam ruangan kerja. Satu-satunya ruang tertutup adalah ruang bagian keuangan. Itu pun dibuat dengan kaca agar tetap bisa terlihat.


Yang unik di dinding bukan photo-photo bangunan seperti di lantai bawah melainkan penuh dengan photo Putra dengan anak-anak serta Ririen, ada yang di cetak hitam putih, ada yang menjadi lukisan ada yang dicetak berwarna.


“Ini photo kapan Dadd?” tanya Ririen takjub.


“Pas kemaren kita ke nikahan Sanih, Mommy lupa sebelum berangkat dan di gedung kita photo pakai kamera Daddy, ‘kan kita bikin juga photo sama anak-anak,” Putra menerangkan kapan photo itu diambil, juga banyak photo candid Ririen dan anak-anak.


Ririen mendekati Putra dan mencium pipinya sekilas “Aku semakin sadar, aku enggak pantas buatmu,” bisiknya.


Putra langsung memeluknya dan bertanya “Memang siapa yang ber hak menilai seperti itu. Pantas atau enggak itu bukan tergantung pandangan orang lain, tapi berkaitan dengan diri kita sendiri. Please jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku ya? Kau yang terbaik dan terpantas untukku,” rayu Putra.


“Aku tau akan banyak cobaan kita temui, tapi bila kamu tetap di sisiku, aku yakin kita berdua bisa menghadapinya. Angin berhembus tidak untuk menggoyang pepohonan, melainkan untuk menguji kekuatan akarnya,” lanjut Putra.

__ADS_1


Hari ini masih jam empat sore, Ririen dan Putra sudah sampai di rumah, membuat Fajar dan Fajri sangat senang. Sayang dua jagoan ini tidak bisa puas main dengan daddy nya karena sore ini Alesha sama sekali tidak mau turun dari gendongan daddynya, bahkan Putra sama sekali tak boleh duduk, Alesha akan merengek bila Putra duduk dan hanya memangkunya saja.


“Kak Fajar dan kak Fajri sama Mom aja ya, kita susun balok, biar sekali-kali dedenya puas main ama Daddy, dede lagi rewel, enggak mau turun dari gendongan Daddy,” ajak Ririen dan memberi pengertian pada kedua kakak lelaki tersebut.


“Coba siapa yang bisa bikin rumah bagus nanti Mommy kasih hadiah juice alpokat yang Daddy beliin buat kalian di Bogor kemarin.” pancing Ririen pada kedua putranya.


Akhirnya kedua jagoannya sibuk membuat bangunan sesuai usia mereka, dan Ririen membuatkan juice alpokat untuk semua penghuni rumah.


***


Saat akan tidur di dalam kamar Putra mengajak kedua jagoannya bicara sebagai sesama laki-laki. “Kalau Daddy tinggal di sini sama kalian terus, boleh enggak?” pancingnya.


“Boleh!” hampir bersamaan kedua jagoannya menjawab antusias.


“Kalau begitu Kakak harus bantu Daddy. Enggak boleh bikin Mommy sakit atau cape. Harus selalu nurut apa kata Mommy dan Daddy ya?” pinta Putra.


“Yes Daddy,” kata keduanya.


“Bisa” jawab keduanya tanpa ragu.


“Ya sudah sekarang kalian bobo, mulai besok bobo di kasur kalian sendiri lagi ya? Daddy bobo di rumah ini tapi enggak di kamar kalian. Nurut enggak?” pancing Putra, karena dia juga tidak ingin terus-terusan membohongi anak-anaknya.


“Jadi besok Kakak bobo di situ lagi?” tanya Fajar menunjuk kasurnya yang tidak dia tiduri karena saat ini mereka tidur dengan kasur besar di lantai.


“Ya, besok kakak Fajar dan kakak Fajri kembali ke kasurnya masing-masing ya?” jelas Putra.


“Yes Daddy.”


“Good boys!” Putra mengacak-acak puncak kepala Fajar lalu mengecup keningnya. Di tunggunya hingga kedua anaknya lelap baru dia keluar kamar. Tadi dia menunda makan karena ingin ngeloni kedua jagoannya lebih dulu. Namun sayang saat dia keluar Ririen tak ada di ruang keluarga mau pun di ruang makan.

__ADS_1


“Ibu sudah makan belum Mbak?” tanya Putra pada asisten rumah tangga.


“Belum Pak, Dede rewel, habis minum ASI tetap enggak mau bobo, jadi Ibu belum sempat makan,” sahut mbak Yuni. “Bapak mau makan duluan atau bareng Ibu?”


“Saya tunggu Ibu aja, Mbak Yuni dan Mbak Surti makan duluan aja lalu istirahat, saya lihat dede dulu, mungkin ada yang dia rasa enggak enak,” sahut Putra lalu segera ke kamar Ririen.


Didengarnya Ririen sedang bersenandung lirih dan suara Alesha yang merintih. “Sini Daddy gendong, kamu kenapa cantiknya Daddy?” tanya Putra pada Alesha.


Ditepuk-tepuknya perut Alesha, terdengar agak kembung. “Mom coba bikin parutan bawang merah kasih minyak telon, mungkin dia agak sebah ( kembung ) jadi rewel,”  Putra membawa Alesha keluar kamar.


“Mbak Bapak minta diparutke brambang ( bawang merah ) , taruh lepek ( piring kecil datar ) dan kasih ke Bapak ya, saya mau ke WC sik, sama cepake ( siapkan ) minyak telonnya, biar Bapak yang bikin sendiri,” kata Ririen sambil berlari ke toilet.


“Bapak open banget karo bocah-bocah yo Mbak, gemati ngrumati koyo anake dewe,” Yuni berbisik pada Surti yang lebih tua. Dia mengatakan Putra itu perhatian sekali terhadap anak-anak dan merawatnya dengan sangat teliti seperti pada anak kandungnya sendiri.


“Iyo de, wong-wong sing nang sekolahan ra sah di gagas, wong podo ra ngerti kahanane” ucap Surti membenarkan pendapat Yuni. Dia bilang orang-orang yang nyinyir di sekolah itu tak usah dihiraukan, mereka tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Surti selesai memarut bawang merah dan memberikannya pada Putra sekalian juga minyak telonnya.


“Gelarin alas plastik dan kainnya di karpet aja Mbak, biar saya urut dibawah aja, Ibu ke mana?” tanya Putra yang tidak melihat Ririen.


“Ibu di kamar mandi Pak,” jawab mbak Surti sambil melakukan yang diperintah Putra.


\=====================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2