WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
MENGUNJUNGI SI KEMBAR


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


‘Andai saat kami SMA sudah ada HP tentu hubungan kami tidak akan putus di tengah jalan karena tak bisa leluasa berkomunikasi,’ pikir Doddy dengan penuh penyesalan. Sampai saat ini dia belum bisa melupakan cinta pertamanya itu.


Putra membeli tiket masuk keraton dan saat ini mereka mengikuti guide yang memandu mereka. Putra kadang menanyakan apakah Ririen ingin istirahat karena takut istrinya tidak kuat mengingat dia sedang hamil.


Tidak lama mereka berada didalam keraton, Putra segera keluar dan meminta tukang becak mengantarkan mereka ke daerah Wijilan, pusatnya gudeg Jogja. Dia tidak bertanya pada istrinya, karena Ririen pasti hanya akan diam.


“Pesan apa Pak, Bu?” tanya pramusaji di rumah gudeg yang mereka datangi.


“Saya nasi sedikit, gudeg dan kreceknya full, kepala ayam tambah ayam suir aja, sambel kreceknya jangan pakai tahu sama sekali,” pesan Ririen lalu dia mencari tempat duduk, memang pesanan dilakukan saat mereka masuk.  Karena memang gudeg dan lauknya memang pengaturannya di depan pintu, mungkin untuk menarik para pembeli.


“Saya nasi gudeg komplit aja,” pesan Putra lalu mengikuti Ririen. “Mommy mau minum apa?” tanya Putra lembut. Putra memang super sabar. Dia rela melakukan apa pun untuk mendapatkan Ririen. Dan sesudah mendapatkannya, tentu dia tak ingin melepaskannya.


“Lemon tea,” jawab Ririen.


“Mbak, minumnya lemon tea dua ya, yang satu ice nya sedikiiiit aja,” pinta Putra, dia tidak membolehkan Ririen banyak minum es. Lalu mereka makan dengan diam. “Mau nambah Mom? Atau mau bungkus buat jaga-jaga kalau sore kelaperan?” tanya Putra.


Ririen tercekat, Putra tetap saja selalu memperhatikannya. “Bungkus aja,” jawabnya singkat.


“Mbak, minta bungkus satu porsi komplit jangan pakai tahu ya, tambah krecek juga kepala ayam serta ati rempela selain paket komplit tadi,” pesan Putra.


Mereka kembali ke hotel untuk istirahat. Niatnya malam Putra hendak membawa Ririen ke alun-alun kidul. Kecuali Ririen ingin ke lokasi lain. Di becak Putra kembali membujuk Ririen untuk bicara, tapi Ririen masih dalam mode GTM ( Gerakan Tutup Mulut ).

__ADS_1


Sampai di kamar Ririen segera mandi, rupanya dia sudah tidak tahan gerah, mungkin karena kondisinya yang sedang hamil. Sehabis mandi dia berbaring dan mencoba tidur. Di biarkannya suaminya yang memeluknya dari belakang dan menciumi leher serta pelipisnya.


“Mom, Daddy harus gimana?” tanya Putra putus asa. Boro-boro dia berani marah atas kejadian pagi tadi saat melihat istrinya dicium pipinya oleh laki-laki lain. Kalau itu dia lakukan lalu Ririen tersulut emosinya ‘kan lebih parah.


“Besok kita pulang ya?” pinta Ririen tanpa berbalik badan.


“Tiket buat hari Minggu full Mom, Daddy sudah cek saat akan beli kemarin, adanya lusa siang, maka Daddy beli yang Senin siang,” Putra menjelaskan, dia membalikkan badan istrinya pelan agar bisa menatap matanya.


“Enggak bisakah Mommy memaafkan Daddy. Apa Mommy mau ketemu Jane biar dia menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi?”


Ririe langsung emosi begitu mendengar Putra ingin mempertemukannya dengan Jane “Cukup!  Kamu bicara apa pun tentang perempuan itu atau perempuan mana pun.  Saya enggak pernah mau dengar apa pun lagi dari kamu!” pekik Ririen.


Ririen langsung membalikkan tubuhnya dan menutup kepalanya dengan bantal, dia menangis di balik bantal dengan posisi badannya miring, karena walau perutnya masih rata tapi bila dibawa tidur telungkup tentu saja dia merasa sesak.


“Mom, maaf, bukan gitu maksud Daddy. Maaf ya cinta, Daddy hanya bingung harus gimana biar bisa dapat maafmu, jangan nangis dong. Daddy enggak pengen Mommy sedih,”  Putra mengambil bantal yang digunakan Ririen untuk menutup wajahnya, dia menciumi pipi, dahi dan hidung istrinya yang tidak memberi penolakan atau menanggapinya.


Putra terus melakukan serangan secara lembut. Bahkan juga tak mendapat perlawanan apa pun saat dia membuka semua pakaian Ririen, dia pegang wajah Ririen agar bisa melihat matanya, ditatapnya mata Ririen yang sejak tadi tidak mau memandangnya. Diciumnya sekali lagi bibir istrinya, dan dia melanjutkan kegiatan yang tertunda sesaat, dengan lembut dilakukan kunjungan pada kedua anak kembarnya.


“I love you Mom, more and more. Makasih atas izinmu cinta,” bisiknya lembut setelah dia selesai melakukan ritual menengok si kembar, dipeluknya tubuh istrinya untuk tertidur dalam dekapannya.


Jam lima sore Putra terbangun, dia segera mandi karena ingat belum salat Ashar dan waktu hampir habis. Dilihatnya wajah lelah istrinya yang sedang lelap tertidur. Sehabis dia melakukan ibadahnya dia membangunkan istrinya. “Mom, hampir maghrib lho, bangun dulu yok.”


Ririen beringsut, kembali memeluk gulingnya. “Bangun dulu cintaku,” bisik Putra.


Ririen akhirnya bangun dan bergegas mandi dan salat  saat berdoa sehabis salat Ririen menangis terisak dan dia tersengal karena sesak napas. Putra yang melihat Ririen tersengal segera mendekati dan memeluknya. Dia angkat istrinya dan dia baringkan ke kasur. Segera dia menghubungi resepsionis hotel dengan telepon kamar memintakan dipanggilkan dokter.

__ADS_1


Putra mencari minyak kayu putih yang biasa ada di tas Ririen. Istrinya selalu membawa minyak kayu putih sebagai prepare bila mencium bau yang tidak dia sukai selama kehamilannya.


“Jangan banyak pikiran ya Bu. Usia kehamilan seperti Ibu ini rawan. Tidak boleh cape, terlalu sedih, terlalu senang atau yang membuat emosi terpancing. Saya tidak memberi obat. Upayakan saja ibu selalu tenang. Banyak minum air hangat dan serat,” dokter jaga hotel yang datang kekamar mengerti mungkin Ririen terlalu lelah karena dari info yang dia dapat mereka ke Jogja karena Ririen bekerja.


Mendengar petunjuk dokter, Putra ingat tadi Ririen sangat marah ketika Putra menyebut ingin mempertemukan istrinya dengan Jane.


Sehabis salat Maghrib Putra membuka gudeg yang rencananya untuk makan sore.”Maem ini dulu ya, nanti kasihan dedenya kelaperan karena sore tadi Mommy enggak isi apa pun.”


Ririen yang memang sangat kelaparan memakan gudegnya pelan. Ririen tahu tadi Putra membeli paket komplit plus, artinya itu untuk mereka makan berdua. Karena itu dia menyuapi Putra dengan tangannya. Kali ini Ririen makan dengan tangan tanpa sendok. Tentu saja Putra sangat senang menerima suapan yang dilakukan Ririen, andai saja mereka sedang kondisi normal, tentu liburan mereka kali ini akan penuh kebahagiaan.


***


Hari ini Ririen bilang ingin ke pasar Beringharjo saat Putra bertanya ingin ke mana, semalam mereka pergi ke alun-alun kidul. Walau tanpa bicara, hanya makan dan menikmati suasana saja.


Di Beringharjo lantai dua Ririen membeli mainan aneka bentuk alat transportasi dari kayu, ada sepeda, becak, helikopter, mobil, lokomotif dan lain-lain. Dia beli tiap jenis dua buah dengan warna pernis yang berbeda, yaitu warna terang dan sedikit gelap.


\==============================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA :  DESY PUSPITA, DENGAN JUDUL NOVEL  HASRAT KAKAK TIRI  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2