
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Mas, minggu depan aku ada meeting di Bali tiga hari,” lapor Ririen saat mereka sedang pillow talk malam ini.
“Hari apa sampai hari apa?” tanya Putra santai.
“Hari Senin sampai Rabu,” jelas Ririen.
“Tapi berangkatnya hari Minggu subuh atau hari Sabtu malam karena anak-anak kantor pengen main dulu sebelum pusing ama kerjaan.”
“Ya berangkat aja enggak apa-apa, nanti hari Rabu malam Daddy dan anak-anak nyusul ya. Sejak nikah ‘kan kita juga belum pernah honey moon. Kamu mau bawa mbak Yuni dan mbak Surti juga enggak?” Putra memberi wacana berlibur sehabis Ririen meeting.
“Bawa lah Mas, biar mereka juga tau Bali. Tapi yang jaga rumah ada enggak? Yang siram pohon dan kasih makan hewan, ‘kan di sini aku enggak tau siapa yang bisa di suruh,” keluh Ririen, tentu saja dia tidak akan sembarangan ninggalin rumah bila tak ada yang urus semua peliharaannya.
“Nanti Mas minta Yono buat urus, biar dia di kasih uang lembur dari kantor,” Putra memberi solusi office boy kantor akan menjaga rumah mereka saat mereka pergi nanti.
***
Ternyata Tutik tidak mendapat tiket untuk hari Minggu subuh, melainkan hari Sabtu malam, sehingga hari Sabtu sore ini Ririe mulai berkemas dan akan berangkat ke bandara diantar Putra dan dua jagoan mereka. “Kalian enggak boleh nakal selama Mommy kerja ya, jangan rewel dan makan yang benar. Dengar enggak Kak?” tanya Ririen pada kedua anaknya.
“Yes Mom, I will,” jawab Fajar.
“Yes Mom,” jawab Fajri
Tutik sudah lebih dulu sampai, di sana juga sudah ada pak Imron dan mas Harry. Sedang Mas Agus, pak Khoiri serta pak Wahyudi akan berangkat hari Senin pagi.
Sebenarnya meeting kantor pusat dan semua Branch Manager hanya hari Senin dan Selasa saja. Hari Rabu Ririen diminta untuk melatih Branch Manager cabang Bali yang baru berikut para TM nya. Itulah sebabnya Ririen membawa Tutik untuk membantunya mempersiapkan materi pelatihan. Karena bila hanya meeting para BM, sekretaris tidak diperlukan hadir.
Ririen mencium punggung dan telapak tangan Putra sebelum dia pamit, Putra mencium kening istrinya, mereka sering pisah, biasanya Putra yang keluar kota, bukan sebaliknya. Sehingga rasanya sangat berat untuk mereka.
__ADS_1
“Jangan telat maem ya Mom, kamu ‘tu kebiasaan kalau sudah serius kerja pasti aja lupa maem. Obat maag sudah di bawa ‘kan?” tanya Putra. Lelaki ini hafal kelakuan istrinya yang work alkoholic.
“Iya, kalau perlu Daddy telepon pas jam makan kalau takut aku telat makan,” goda Ririen. “Daddy jangan sampe enggak makan sayur ya,” gantian Ririen yang wanti-wanti suaminya karena kalau tidak dipaksa suaminya pasti malas makan sayur. Putra hanya terkekeh mendengar nasehat istrinya.
***
Pagi tadi semua rombongan resmi bubar, sekarang hanya tinggal Ririen dan Tuti di hotel ini. mereka bergegas ke kantor cabang Bali, karena pelatihan akan diadakan di sana, bukan di hotel. Tuti melaksanakan tugasnya dengan baik, akhirnya jam lima sore WITA selesai sudah kewajiban Ririen untuk memberi pelatihan dan motivasi bagi BM dan TM Bali yang baru.
“Kita masih sempat ngelayab malam ini ‘kan Tut?” tanya Ririen pada Tuti.
“Masih Mbak, pesawatku besok pagi jam enam. Gimana kalau kita minum es kelapa sambil liat sunset?” usul Tuti.
“Siyaaaaaaaaap,” jawab Ririen antusias, “Kita balik hotel ganti baju dulu ya, masa mau santai pakai baju kerja gini?”
Jam delapan malam Ririen dan Tuti sudah sampai hotel sehabis melihat sunset dan bersiap istirahat saat HP Ririen berbunyi. “Yes honey,” sapa Ririen.
“Kami sudah di lobby hotel, kita ambil berapa kamar dan bagaimana pengaturannya?” kata laki-laki yang yang dipanggil honey oleh Ririen. Siapa lagi bila bukan suaminya tercinta? Ya benar, yang menghubunginya kali ini adalah Putra.
“Kita enggak sekamar berdua?” tanya Putra menggoda Ririen.
“Ha ha ha haaa, di rumah kita sudah selalu berdua, karena sejak di Duren Sawit Alesha punya kamar sendiri, apa masih belum puas?” tanya Ririen sambil menuju ke lobby.
Empat hari Ririen dan keluarganya liburan di Bali, Fajri yang sangat tertarik dengan seni tentu saja sangat menyukai ukiran Bali, tari Barong, tari Kecak serta banyaknya patung dan lukisan.
Putra terus menerangkan semua yang ingin anaknya ketahui. Fajar lebih suka pada dunia teknik, saat ini dia ingin jadi dokter atau insinyur seperti ayahnya, sedang si kecil Alesha terlihat sangat menyukai alam seperti Ririen, semua tentang hewan dan tumbuhan pasti akan dia perhatikan dengan saksama dengan mata bulatnya walau dia masih berusia satu tahun lebih.
“Dad, mengapa air pasang?” tanya Fajar saat mereka berada di loasi wisata tanah Lot.
“Itu berkaitan dengan perputaran bumi pada porosnya, seperti terjadinya siang dan malam, nanti kalau Kakak kelas lima dan ikut kelas akselerasi Kakak akan dapat itu di pelajaran kelas enam. Ringkasnya itu terjadi karena efek grafitasi bumi juga,” Putra mencoba mencari kata simple untuk anak SD kelas satu yang pertanyaannya tidak sesuai dengan usianya.
“Dad, mengapa orang sini berdoa di Pura bukan di masjid seperti kita?” kali ini pertanyaan itu yang terlontar dari Fajar saat mengetahui fungsi Pura, ketika mereka sedang di Bedugul.
__ADS_1
“Kakak ingat opa Bram yang disebelah rumah kita? Dia berdoa di gereja setiap hari Minggu, kenapa Kak?” pancing Ririen saat melihat suaminya bingung menjawab pertanyaan putra sulung mereka.
“Karena opa Bram dan ama Rien beragama Kristen ‘kan Mom?” jawab Fajar.
“That’s right! Nah orang beragama Hindu berdoa di Pura, karena memang mereka berbeda dengan kita dan opa Bram,” sahut Ririen yang diberi kecupan ringan di pipinya oleh Putra.
“Thanks Mom” bisik Putra.
“Besok kita ke Pura Besakih ya, akan ada ngaben di sana esok siang.”
“Ngaben itu apa Dad?” kembali Fajar bertanya, dan Putra menerangkannya dengan hati-hati agar anaknya tidak salah info.
Ririen sangat bahagia dan bersyukur bersanding dengan Putra untuk membimbing Fajar dan Fajri yang sangat ingin tahu.
“Daddy, may I buy that big kite to take home?” pinta Fajar, dia sudah di masukkan ke kelas belajar bahasa inggris oleh Ririen, dan Putra yang memang lama kuliah di London tentu saja sangat senang anak-anak diberi pelajaran bahasa inggris sejak dini.
“It's not a matter of whether you can buy it or not son, but rather how we carry it on the plane. And where we will play it in Jakarta because big kites are more suitable when played on the beach” jawab Putra saat Fajar meminta dibelikan layang-layang besar yang di lihatnya banyak dinaikan di pantai siang tadi, mungkin Fajar baru ingat sekarang, saat mereka sedang santai menanti sunset.
\========================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : OCYBASOACI, DENGAN JUDUL NOVEL PELANGI TANPA WARNA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1