
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Putra membiarkan Ririen turun di kantor cabang Jakarta Barat, dia melihat penghormatan yang Ririen terima dari para anak buahnya, tidak lama dia juga melihat calon konsumen yang akan bertemu dengan Ririen masuk ke kantor itu. Dia tidak mau mengganggu kerja Ririen, dia bersandar di pintu mobilnya dan menyalakan rokoknya.
Cukup lama Putra menunggu di luar, akhirnya dia duduk di bawah pohon, pak satpam memberinya kursi untuk duduk menunggu bu Dewi. Setelah hampir 2 jam dia melihat Ririen keluar mengantar tamunya hingga lobby kantor. Setelah itu dilihatnya seorang laki-laki menggenggam erat tangan kanan Ririen sambil terus menguncangnya pelan dan mengangguk-angguk.
Dilihatnya Ririen kembali masuk ke dalam kantor dan tak lama dia keluar lagi, rupanya dia mengambil tasnya. Lelaki tadi masih setia mendampinginya hingga area parkir, dan Putra melihat lelaki tersebut celingak celinguk seperti mencari sesuatu. Lalu pandangannya mengikuti telunjuk Ririen yang menunjuk ke arah mobilnya.
Ririen berjalan menuju mobil Putra ditemani lelaki tadi. “Put, kenalin dia Team Manager Jakarta Barat,” Ririen berkata pada Putra sambil menunjuk Tulus Silalahi. Pria Medan yang putih manis berkaca mata.
Putra mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Dia yakin usia Tulus dan dirinya sepantaran.
“Tulus.”
“Putra.”
“Terima kasih sudah bersedia mengantar bu Dewi untuk membantu saya,” Tulus Silalahi mengucapkan rasa terima kasihnya karena berkat bantuan negosiasi Dewi maka order besar bagi cabangnya bisa deal hari ini. “Dan maaf mengganggu masa cuti bu Dewi.”
“Hey, bilangnya ‘tu ke saya, bukan ke dia,” canda Ririen. “Kamu harus gantian kasih saya komisi ya he he he he.”
“Ibu bisa aja. Ngomong-ngomong Ibu mulai aktif kapan Bu? Sepi enggak ada Ibu, enggak ada tantangan target mingguan, enggak ada tantangan dapat reward,” kata Tulus dengan tulus. Ha ha bingung ya. Karena namanya emang tulus. Mau diapain dong?
“Cuti saya masih 2 bulan lagi, tapi mulai minggu besok saya akan bikin target mingguan via mbak Tuti, dan reward juga akan tetap saya berikan. Sekarang saya langsung pulang ya,” pamit Ririen. Payudaranya mulai bengkak karena stock ASInya penuh. Harus segera dikeluarkan agar dia tidak demam.
***
__ADS_1
Hari-hari selanjutnya Ririen hadapi dengan memantau kerja dengan menghubungi mbak Tuti lewat telepon. Dia pun kembali mengadakan program target mingguan bagi lima jagoannya di kantor. Dia selalu akan memberikan reward pada siapa yang berhasil mendapat pencapaian tertinggi.
Dan mbak Riesta atau mbak Riries mulai mengajari Ririen untuk menyimpan ASI menjadi ASIP. Dulu ketika dia mempunyai Fajar dan Fajri, keduanya tidak ditinggal kerja lama. Beda dengan Alesha nantinya. Jarak tempuh Cilangkap ke Matraman saja butuh satu jam. Belum lagi jam kerjanya adalah jam 9 pagi hingga jam 4 sore. ( waktu kerja staff tetap jam 8 pagi hingga jam 5 sore ).
“Mbak Tuti, berkasnya pak Benny, marketing dari Utara koq saja belum terima ya? Sepertinya rencana order dia banyak. Kenapa realisasinya sedikit?” tanya Ririen melihat data yang dia terima ada sedikit kejanggalan. Seharusnya data di order form atau permintaan barang tak pernah beda dengan data pengiriman.
Maksudnya Utara tentu Jakarta Utara. Cabang pak Theo Wenas yang saat dia hamil bermasalah karena kenakalan tenaga administrasinya.
“Iya Mbak. Saya sudah lapor ke pak Agus dan sedang kami telusuri. Sengaja belum lapor ke Mbak Dewi karena Mbak sedang cuti. Pak Agus bilang biar dia yang handle masalah yang sepertinya terulang kasus Fitri dulu,” sahut Tuti.
“Saya tunggu khabar lanjutannya ya Mbak,” Ririen memang teliti. Itu sebabnya Theo Wenas bisa kecolongan tapi dirinya tidak.
***
Sore ini Ririen sibuk mengupas rambutan, dia ingin membuat asinan rambutan. Rencananya anak-anak Kemdur besok mau main kerumah. Mumpung dia masih cuti, tidak sampai 1 bulan lagi dia sudah akan aktif ngantor lagi.
“Daddy … ” teriakan Fajri terdengar nyaring mengganggu konsentrasi Ririen.
“Assalamu’alaykum anak Daddy, sudah mandi ya sayank?” laki-laki itu mengangkat Fajri dan mencium keningnya. Fajri yang sejak berumur 1 tahun tidak pernah ketemu sosok ayahnya sangat mengidolakan laki-laki yang dipanggilnya daddy ini.
“Mommy di mana sayang?” tanya daddynya Fajri. Siapa sih orang ini?
“Mommy di dapul, tupas lambutan,” jawab Fajri sambil memeluk leher daddynya erat, dia tidak mau diturunkan dari gendongan. Fajri memang belum jelas bicaranya walau usianya sudah dua tahun lewat.
“Banyak banget rambutannya, mau di bikin apa?” lelaki yang datang ke dapur sambil menggendong Fajri, mendekati Ririen dan memberi kecupan di puncak kepala perempuan itu.
“Kak, turun dong, Kakak udah besar lho, malu sama dede Alesha,” goda Ririen sambil mengelitiki telapak kaki Fajri. Sang anak terkekeh pelan karena geli.
__ADS_1
“Nda mau tulun, dendong Daddy aja,” tolak Fajri, dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ‘ayahnya’.
“Mau bikin apa Mom, koq enggak dijawab sih kalau Daddy tanya?” lelaki ini memang harus mempunyai stock sabar tak terbatas bila menghadapi Ririen yang belum mau membuka hati pada siapa pun
“Buat bikin asinan, ‘kan besok anak-anak Kemdur mau ngumpul di sini,” jawab Ririen sambil meletakkan es lemon tea di meja dekat tamunya.
“Minum dulu.” Ririen memberikan satu gelas besar es lomon tea yang baru dia buat sendiri.
“Kakak mau turun, atau pangku Daddy aja. Daddy duduk ya. Mommy udah bikinin Daddy minum tuh,” daddynya Fajri bertanya pada bocah gembil yang membuat siapa pun akan jatuh hati.
Ririen sadar Fajri sangat merindukan figur ayah yang tidak pernah dia miliki sama sekali, anak diumur sebelum 1 tahun pasti tidak akan ingat wajah ayahnya, sejak usia 1 tahun kan Fajri sudah tak punya ayah. Dipandanginya anaknya yang sedang nyengir karena merasakan asemnya minuman yang disodorkan daddy nya.
Entah mengapa sejak satu bulan lalu lelaki ini membahasakan dirinya ‘daddy’ bagi Fajar dan Fajri. Sehingga sekarang Fajar pun mulai memanggilnya daddy. Kalau Fajar berbuat seperti itu maka plagiat pun akan berbuat sama. Ha ha ha ha, namanya plagiat kan? Jadi Fajri si plagiat juga memanggil pria ini dengan sebutan daddy.
“Mbak, ini cuci, lalu iris seperti biasa dan tiriskan ya, jangan lupa irisin cabenya dan peras jeruk nipisnya. Kita bikin malam ini aja jadi besok sudah meresap dan dingin. Saya mau liat Alesha dulu,” perintah Ririen pada asistennya, dia langsung mencuci tangannya agar bersih saat menggendong Alesha.
\=================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta