
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Bagaimana kalau kita bicara sambil makan malam Pak?” tawar Putra sopan ketika dia telah berhadapan dengan kedua orang tua Ricky. Sekarang masih jam tujuh malam, tentu dua orang paruh baya didepannya belum makan malam.
“Iya, boleh juga,” jawab pak Fuad menerima tawaran lelaki muda itu. Putra membawa keduanya ke rumah makan gudeg di daerah Wijilan yang fenomenal.
“Sebenarnya, maksud kedatangan kami adalah mengenai hak Alesha,” pak Fuad membuka niat kedatangan mereka.
Putra sengaja tak mau menyela. Dan Ririen malas untuk bereaksi karena tak ingin bicara soal harta.
“Kemarin Shintia, menebus hak anaknya. Sehingga Papa mau berikan hak Alesha padamu Rien,” lanjut pak Fuad.
Dan kali ini Ririen tak mau menolaknya lagi. Karena ujung-ujungnya nanti dia akan kalah berdebat dengan Putra dan pak Fuad.
“Jadi Papa mau minta, besok kita ke bank untuk pemindah bukuan. Karena untuk nominal besar, tentu rekening Papa tidak bisa transfer seperti pada umumnya,” pak Fuad meminta mereka mau berangkat ke bank bersama.
“Bagaimana bila besok Bapak janjian saja dengan suami saya. Nanti dia akan menjemput Bapak dan berangkat bareng ke bank yang mau Bapak tuju. Rekening yang digunakan biar rekening suami saya saja. Besok saya tidak bisa karena harus ke sekolah Fajar untuk mengurus nilai akselerasinya. Dia akan ujian SMA di usia belum enam belas tahun.” Ririen memberitahu kesibukannya besok.
Sedang lusa dia harus mengurus nilai Fajri. Dia menyebut mantan mertuanya dengan sebutan BAPAK, bukan PAPA.
“Apa mengurus nilai itu seharian? Jam buka bank ‘kan bisa sampai jam 15.00 untuk menerima awal pelayanan, dan akan berhenti transaksi jam 17.00. Apa itu bukan alasanmu untuk menghindari kami?” tanya mantan mama mertuanya yang baru kali ini ikut bersuara. Ririen tak bisa beralasan lagi.
“Baiklah Bu, Pak. Besok saya akan mengabari bila akan meluncur menjemput Bapak dan Ibu di hotel. Saya akan menemani Ririen mengurus nilai-nilai Fajar terlebih dahulu,” Putra lagi-lagi bertindak sebagai penengah.
“Jadi Fajar akan ujian SMA?” tanya pak Fuad.
“Iya Pak. Mereka semua sekolah, ekstra kurikuler dan berkegiatan yang menghasilkan income tanpa pemaksaan. Kami hanya memotivasi dan mengharuskan kejujuran dan mendapat yang terbaik tapi kami menekankan berbuat yang terbaik disetiap langkah yang mereka buat.”
“Tentu beda mengharuskan mendapat nilai terbaik dengan mengharuskan melakukan yang terbaik. Hanya orang tua yang peduli terhadap perkembangan jiwa anak, yang tahu hal itu. Dan kami mewajibkan hari Sabtu dan Minggu semua harus kumpul di rumah,” jelas Putra.
__ADS_1
“Kalau boleh tahu, dari mana income mereka?” tanya pak Fuad penasaran.
“Fajar melatih karate, memberi les private dan menjuarai aneka lomba sains dan karate. Sedang Fajri selain menjuarai berbagai lomba, dia sering manggung profesional dengan bayaran sangat tinggi. Sehingga tabungan Fajri sekarang sudah bisa bila akan digunakan untuk membeli sebuah rumah mewah dan mobil sport,” kali ini Ririen yang menjawab dengan bangga.
Pasangan Mahendra terpaku mendengar kenyataan itu. Mereka yakin, Ricky tak akan bisa membimbing anak-anaknya seperti yang Ririen dan suaminya lakukan.
***
“Kenapa Aba menebus warisan anak kita?” tanya Ricky. Dia tak percaya kalau mertuanya langsung deal malam kemarin. Padahal sepertinya hanya sedang ngobrol santai.
Artinya jauh hari sebelumnya ayah mertuanya tentu telah mempersiapkan dana untuk itu. Karena uang 2 M tentu bukan jumlah yang sedikit bagi mertuanya itu.
“Untuk jaga-jaga, kalau kamu nendang aku, anak ini sudah aman. Karena warisan itu untuk anakku, bukan untuk papa nya,” jawab Shintia santai.
“Kamu kalau ngomong selalu ngaco, siapa yang mau nendang kamu?” sengit Ricky mendengar perkataan istrinya.
“Kalau kamu enggak nendang aku, mungkin aku yang nendang pria miskin tukang selingkuh seperti kamu. Tadi aku sudah bertemu dengan Dessy, office girl yang sedang kamu gebet.”
“Aku hanya berharap dia tidak terkena penyakit kelamin yang mungkin bisa kamu tulari,” jelas Shintia tenang.
Siang tadi Shintia memang sengaja datang ke kantor lamanya, tempat dia bertemu Ricky dulu. Dia meminta temannya di bagian HRD memanggil Dessy untuk bicara.
Belajar dari Ririen, Shintia kali ini tidak marah atau ngamuk seperti yang dia lakukan pada selingkuhan Ricky sebelumnya. Dia hanya bercerita kalau dia adalah istri ke empat Ricky.
Dan dia adalah teman tidur Ricky entah yang ke berapa puluh. Hanya itu saja. Tanpa caci maki apalagi jambak-jambakan rambut.
Dessy kaget, karena setelah Shintia pulang banyak temannya yang mengejeknya. Selama ini Dessy tak percaya ketika diperingati rekan seniornya. Dia menuduh mereka iri padanya. Karyawan baru langsung disukai oleh Ricky.
‘Pantas siang tadi Dessy tidak bisa aku temui di pantry kantor seperti biasa. Rupanya dia mulai menghindariku. Si-al! Aku belum berhasil mendapat perawannya. Dia baru berhasil aku raba saja,’ keluh Ricky dalam hatinya.
Tak ada sedikit pun rasa menyesal atau takut penyelewengannya karena sudah diketahui istrinya. Ricky akan mencari mangsa baru bila Dessy memang mundur dari dekapannya.
__ADS_1
Sementara Dira sedang sibuk belanja berbagai kebutuhannya. Hanya sedikit yang dia belanjakan untuk anaknya. Dia benar-benar memuaskan nafsu belanjanya tanpa berpikir barang yang dia beli bermanfaat atau tidak.
Dira tak berpikir membeli rumah dan membuka usaha bagi kelangsungan hidupnya nanti. Dia pikir uang 1 M bisa untuk dia bertahan selama hidupnya. Benar-benar tanpa perhitungan matang sama sekali.
Padahal saat memberikan uang warisan itu, pak Fuad sudah mengatakan dia tak bisa menerima Dira menumpang hidup lagi padanya. Juga tak mau membiayai hidup Dira dan anak perempuannya.
***
Satu bulan sudah usia anak Ricky dan Shintia. Hari ini Shintia meminta Ricky menanda tangani permohonan cerainya. Shintia sudah bulat tak ingin merajut tali kebahagiaan dengan Ricky.
Shintia sudah membeli membeli rumah di BTN. Type 21 tapi dua buah rumah yang berdempetan. Dia renovasi menjadi salon dan rumah tinggal untuknya dan Riani bayi kecilnya. Walau terletak berdempetan, dia sengaja tidak membuat salonnya menyatu dengan rumah. Tak ada pintu penghubung. Salon benar-benar satu bangunan tersendiri. Sehingga pertumbuhan Riani nantinya tidak terganggu dengan tamu salon.
Shintia tak jadi membeli ruko seperti rencana awalnya dulu.
Bila Shintia ingin ke salon dia harus melalui pintu depan. Rekening Air dan listrik salon juga terpisah dari rekening air dan listrik rumah yang akan Shintia gunakan sebagai tempat tinggal.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1