WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
L.O.V.E


__ADS_3

HUJAN TAK HENTI DI SEDAYU - JOGJAKARTA.


SEMOGA DIDAERAHMU HUJAN TAK MENIMBULKAN BENCANA ALAM LONGSOR ATAU BANJIR YA.


SELAMAT MEMBACA




Bukannya sadar sesuai keinginannya, sehabis dari toilet Putra malah mendatangi Dewi. “Bu, nyanyi ya buat kita-kita,” pinta Putra pada Dewi, permintaan spontanitas yang tercetus saat dia bernyanyi tadi.



“Wah saya tidak bisa nyanyi,” jawab Ririen menolak dengan halus. Suaranya memang biasa-biasa saja. Tak seperti Maya dan Putra. Dia tak percaya diri bila harus bernyanyi dimuka umum.



“Kita sering nyanyi saat camping ‘kan Bu, Ibu bisa koq,” bu Wati yang duduk di sebelahnya mengompori agar Dewi mau bernyanyi.



Putra memegang pergelangan tangan Dewi dengan lembut dan menariknya untuk ikut ke panggung. Spontan riuh tepuk tangan bergemuruh saat terlihat Putra berhasil menarik bu Dewi ke arah panggung.



“Saya tidak bisa nyanyi, dan saya tidak siap nyanyi, jadi saya minta beberapa nama yang saya panggil ikut naik ke atas panggung menemani saya menerima hukuman dari Putra ya,” akhirnya Ririen naik ke atas panggung dan berkata seperti itu saat disodori mick oleh Nanang. Dia hanya tak ingin merusak suasana gembira reuni para siswanya kali ini



“Saya enggak nge hukum lho Bu,” ralat Putra sambil menatapnya lembut.



“Lia, Sanih dan Lian, temani saya dan Maya di sini ya,” Ririen menggamit Maya agar berdiri di sisinya, sedang Putra sudah duduk kembali memegang gitarnya. Ketika ke 4 siswinya sudah berkumpul Ririen menanyakan mereka akan menyanyikan lagu apa?



“Kalau lagu oldies gimana?” tanya Lian.



“Lagu apa?” Maya penasaran.



“eL O Vi I,” sahut Lian.



“Kak Sigit, lagu el o vi i ya,” pinta Lian, maksudnya adalah lagu "L-O-V-E" dari  Nat King Cole.



‘Wah ‘ni lagu pas ama yang gue mau nih,’  batin Putra saat mendengar request dari Lian. “Ayo Kak Sigit, one two three,” Putra memulai memetik senar gitarnya untuk mengiringi 5 wanita cantik di depannya. Dan ada 1 yang istimewa dari ke 5 wanita itu.


__ADS_1


L is for the way you look at me


O is for the only one I see


V is very, very extraordinary


E is even more than anyone that you adore can



Putra terpaksa ikut bernyanyi karena bu Dewi menyodorkan mic yang dipegangnya ke depan mulutnya. Sambil bernyanyi Putra sangat meresapi arti syair yang dinyanyikannya, matanya tak lepas memandangi wajah cantik bu Dewi.



Love is all that I can give to you


Love is more than just a game for two


Two in love can make it


Take my heart and please don't break itLove was made for me and you



Selesai sudah urutan acara yang disiapkan selama empat bulan, saat beramah tamah Putra sengaja mendekati bu Dewi yang sedang heboh dikerubuti oleh gadis-gadis Kemdur, mereka bertanya alamat dan minta foto bareng.



“Ibu sekarang tinggal di mana?” Putra memberanikan diri bertanya “Kemarin kami sempat ke rumah Ibu yang di BTN tapi sudah ganti pemilik.”




“Main aja bareng-bareng, ‘tu anak-anak pada mau janjian main ke rumah,” Ririen menawarkan untuk bermain ke rumahnya, dulu ketika dia masih menjadi guru mereka anak-anak sering main di rumahnya sekedar ngobrol atau bertanya kesulitan pelajaran, bahkan ada yang curhat masalah percintaan atau masalah dengan orang tuanya.



“Bunda bawa kendaraan?” tanya Sanih, “Sanih anter aja nanti pulangnya, biar kalau pas mau main sudah ada 1 orang yang tau alamat bunda.” Seru Sanih. Siswa yang ketika SMA dulu paling kolokan pada Dewi. Bahkan mendapat surat cinta saja Dewi yang dimintai pendapat oleh Sanih.



“Enggak bawa, tadi kesini naik taksi, santai aja, Bunda gampang koq, deket banget dari sini ke rumah,” tolak Ririen, tak ingin merepotkan.



“Kalau begitu biar ama gue aja San, enggak apa-apa ya Bun saya yang antar, tapi saya cek kerjaan teman-teman dulu,” Putra mencoba merebut peluang yang ada di depan mata.



“Ye Bunda mah enggak boleh pulang buru-buru, dia mau kita ajak ngobrol dulu, jadi Kak Putra santai aja, Bunda enggak akan sendirian nungguin Kak Putra beberes,” Lia menarik Dewi dari dekat Putra dan mengajaknya duduk ditengah-tengah kelompoknya.



Putra tersenyum melihat polah Lia yang secara tidak langsung mendukungnya, dilihatnya di antara para wanita yang saat itu sedang mengelilingi Dewi, dia tetap merasa hanya Dewi yang bisa membuat jantungnya berdetak lebih kencang tak beraturan.


__ADS_1


Perasaan yang baru pertama kali ini dia rasakan. Bahkan saat awal mendekati Ayu saja dia tak pernah merasakan getar seperti saat ini.



‘*O\*\*h my God, bagaimana mungkin gue jatuh cinta ama bini orang?’ keluh Putra dalam hatinya. ‘Gue harus segera memadamkan bara ini, api ini enggak boleh bisa berkobar*.’



Selesai sudah semua kegiatan di gedung pertemuan reuni, semua anggota panitia toss bersama setelah itu mereka melakukan doa penutup, mereka akan berkumpul lagi satu minggu dari sekarang untuk evaluasi program serta pembubaran panitia.



Dewi sangat senang melihat kekompakan anak asuhnya, ya semua anak Kemdur memang sangat dekat dan saling menyayangi seperti saudara, dia bangga pernah menjadi pembina mereka, pernah menjadi ibu mereka.



 “Sejak kapan Bunda berhenti mengajar?” Putra membuka percakapan saat mereka baru saja duduk di mobil orang tuanya menuju Cilangkap.



“Dua tahun lalu, pas liburan sekolah lihat iklan ada lowongan marketing free lance alat pembelajaran bahasa Inggris, iseng aja ngedaftar. Bunda pikir lumayan lah ngisi liburan sekolah jadi sales. Eh ternyata kerjanya ‘tu menantang banget, rasanya sayang kalau hanya buat sambilan, jadi sebulan full Bunda fight dan hasilnya bagus. Pas mulai masuk tahun ajaran baru akhirnya langsung ngajuin pengunduran diri dari sekolah. 3 bulan langsung diangkat jadi pegawai tetap sebagai Team Manager, lanjut deh sampe sekarang,” jawab Ririen.



“Bunda denger kamu kuliah di Canada, kapan pulang?” tanya Ririen sekedar mengisi kekosongan percakapan.



“Saya ambil di London Bund, bukan Canada, baru pulang 9 bulan lalu, padahal udah selesai kuliah sih sejak satu tahun lalu,” jelas Putra.



“Koq pindah rumah sih Bund, sayang ‘kan rumah di BTN, kayaknya lingkungannya enak,” Putra balik bertanya.



“Rumah di BTN milik Bunda dan mantan suami, jadi harus dijual untuk kami bagi dua, Bunda enggak mau nanti dikira mau kuasain harta dia,” jelas Ririen tanpa malu. Tak ada yang perlu ditutupi. Toh memang kenyataannya dia sudah bercerai dengan Ricky.



‘*Ya ampun, bu Dewi bilang mantan suami? Artinya dia udah cerai? Apa sekarang sudah ada pengganti? Kenapa mereka bercerai*?’ Putra tidak berani menanyakan semua yang barusan terlintas di otaknya, tapi dia penasaran, gimana dong?



\*\*\*\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\= \*\*\*



***Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa***



***YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya***


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***


__ADS_1


***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta***


__ADS_2