
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Kayaknya harus ada penjelasan resmi nih!” tegur Wendy “Koq kayaknya ada yang kita enggak tau ya?”
“Mommy and Daddy lho!” kata Qiqy memperjelas apa yang dia dengar.
“Hehe maafin Daddy ya, sana sisiran lagi,” Putra bicara pada Fajri dengan lembut, tidak menanggapi permintaan teman-temannya. .
“Gue mandi dulu ya, keburu yang lain pada datang gue belum mandi,” kata Putra sambil menunjukan tas yang berisi baju ganti serta handuknya.
“Bundaaaaaa … ” seru Sanih, anak ini memang paling kolokan pada Ririen. “Bunda harus jelasin,” pinta Sanih.
“Jelasin apa? Kamu ada PR yang enggak ngerti?” goda Ririen mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Udah deh Bund, jangan menghindar lagi,” Yusdianty menimpali Sanih. Mereka sedang mengupas mangga, bangkoang, timun serta nanas.
“Kalian tanya Putra aja, Bunda enggak bisa nerangin apa pun karena Bunda enggak ngerti kalian tanya apa?” Ririen melempar persoalan itu pada biang kerok penyebab hiruk pikuk pagi menjelang siang saat ini.
“Tu orangnya udah selesai mandi.”
“Kak Putra sini, Kak Put harus disidang nih!” Wendy menarik tangan Putra dan mendudukkannya dekat mereka. “Bunda bilang kami suruh tanya kak Put”
“Kalian mau tanya apa?” Putra menatap Ririen yang sedang mengumpulkan sampah kulit buah.
“Ada hubungan apa Kak Putra dengan Bunda dan sejak kapan?” Lia mengawali sidang darurat versi Kemdur.
“Soal hubungan Kakak susah ngejawabnya, masalahnya Kakak ngebet tapi Bunda kalian nolak. Nah jadi soal dari kapannya belum bisa di jawab ‘kan?” sahut Putra dengan wajah tak berdosanya.
“Bund, kenapa?” tanya Fitri penasaran.
“Kenapa apanya?” jawab Ririen sambil melihat Putra dengan tanpa ekspresi.
“Kenapa nolak Putra lah, Bund,” cepat Sanih menimpali jawaban Ririen.
“Kalian tau lah jawabannya, mana ada anak kecil naksir gurunya?” kilah Ririen. Dilihatnya wajah Putra langsung kaku.
__ADS_1
“Honey please don’t talk like that, I’m not a kindergartner who loves the teacher. I’m an adult male who happened to be your student and we are only six years apart in age.” Putra putus asa menerangkan pendapatnya.
“But that difference and my status of having three children will make people harass me. And I’m not ready to face people’s ridicule. You know that but you don’t care!” Ririen sedikit terisak dan masuk ke dapur. Dia mencuci tangan lalu mengusap air matanya.
Putra mengejarnya ke dapur, memeluknya dari belakang, meletakkan wajahnya di bahu Ririen. “Honey, I care about you, don’t think I don’t care about other people’s views, but we don’t have to put that into our minds,” bisiknya lembut.
Sedang di halaman belakang para gadis diam terpaku. Mereka melihat live drama tadi dengan pemahaman yang mungkin berbeda-beda. Yang mereka tahu bunda mereka tak suka akan kelakuan Putra dan merasa tak nyaman dengan rasa sayang yang Putra berikan.
***
“Assalamu’alaykum,” sapa Eddy dan Prayogi yang baru saja datang. “Wa’alaykum salam,” sahut gadis-gadis Kemdur.
“Hallo Bund, pa khabar,” sapa Prayogi, dia langsung masuk dapur untuk menemui pemilik rumah.
“Hai, Yogi, baik … khabar Bunda baik,” jawab Ririen yang sudah mengeringkan air matanya dengan tissue di dapur.
“Fit, tolong tuangin minum buat Edy dan Yogi dong,” pinta Ririen pada Fitri.
“Kayaknya aku juga belum dikasih minum deh,” protes Putra.
“Kak Putra mah enggak perlu diambilin minum, tuan rumah mah ambil sendiri,” goda Yusdianty. Para gadis mulai bisa normal setelah melihat drama di dapur tadi.
“Ih Bunda, tau udah ada asinan ‘kan tadi enggak perlu bikin rujakan,” protes Qiqy.
“Lha kenapa Sanih langsung panik liat mangga muda di pohon?” sahut Ririen menjawab protesnya Qiqy.
“Dan sebelnya Qy, waktu gue minta beliin buah ke Putra, gue ceritain ada mangga muda di pohon, dan gue wanti-wanti jangan sampe enggak dateng. Tu orang udah jadi tuan rumah disini. Mokal enggak sih gue?” Sanih mencibir pada Putra.
“Maksud lo apaan San, Putra udah jadi tuan rumah di sini? Kayaknya ada beberapa episode yang gue enggak nyimak nih jadi gue ketinggalan cerita,” tanya Edy cengo.
“Gue mau minta tolong elo Doy, comblangi gue ama ceweq yang gue suka dong?” celetuk Putra.
“Jiah kebiasaan lo, gue lagi aja yang ketempuan, lo mau CLBK ama sepupu gue?” tanya Edy, mengingat dulu yang membantu Irhan mendekati Ayu adalah dirinya.
“Bukan, ‘ni ceweq galak, gue berkali-kali ditolak,” Putra menggoda Ririen dengan menatapnya.
“Tinggalin aja, cari yang lain kalau kamu udah enggak sanggup terima penolakannya,” Ririen memberi saran.
__ADS_1
“Bener banget Bun, setuju,” jawab Prayogi. Dia memang setuju dengan pendapat Ririen. Tapi dia salah bicara karena tak tahu pokok persoalan yang Putra bicarakan.
“Sayangnya enggak bisa, aku dah mentok ke ceweq ini,” jawab Putra.
“Sejak kapan lo ngomong pake aku?” tanya Edy. Pria kurus berkaca mata ini sadar akan perubahan yang Putra lakukan.
“Sejak gue ngedekitin Bunda kalian,” jawab Putra tanpa ragu, menerangkan posisinya yang mengejar cinta Ririen pada Edy dan Prayogi. Karena hanya mereka yang belum tau, semua anggota ceweq sudah tau sejak dia berdebat tadi.
Edy dan Yogi bertukar pandangan lalu melihat ke arah Ririen, dilanjut melihat ke arah Putra yang dijawab anggukan oleh sahabat mereka itu.
“Habiskan lho rujaknya,” Ririen berupaya mengalihkan topik pembicaraan.
“Daddy, ban sepedaku bocor,” Fajar melaporkan sepedanya yang kempes bannya.
“Nanti sore kita ke bengkel ya, sekarang Kakak bobo siang dulu, jangan lupa cuci kaki dan pipis dulu,” sahut Putra sambil mengusap kepala Fajar.
“Janji ya Dad, kita ke bengkel sore nanti,” rengek Fajar, dia belum puas akan jawaban daddynya.
“Keep my promise son,” Putra menjawab sambil mengangguk.
“What? Daddy?” Yogi beneran bingung. “Kayaknya lo baru ketemu Bunda pas reunian, baru dua bulan doang, tapi koq gue ngerasa cengok banget enggak tau apa-apa ya?”
“Ha ha ha, kita semua juga ngerasa gitu Kak,” Lia menyetujui pendapat Yogi.
“Enggak usah aneh, hari pertama ketemu, maksa nganter pulang, lalu sorenya langsung nembak koq,” Ririen membuka kelakuan Putra yang dirasanya luar biasa gi-la.
“Serius? Lo dulu udah naksir Bunda waktu kita masih sekolah?” tanya Edy.
“Boro-boro. Gue dulu sama ama kalian lah, enggak anggap lebih. Dulu gue suka ama Bunda sebagai guru doang, enggak punya rasa suka sebagai laki-laki ke perempuan. Nah pas liat pertama kali di ruang reuni itu gue merasa fall in love at first sight.” jelas Putra mengatakan kebenaran yang dia rasakan.
====================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta