WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
BANYAK KEJANGGALAN PADA KELAKUAN JANE


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“A’a enggak inget dan enggak tau kata-kata apa yang bikin Ririen sampe murka gini ke A’a” keluh Putra. Dia sungguh blank tak bisa mengingat atau mengira-ngira kalimat yang Jane ucapkan sehingga membuat Ririen marah besar.


Ririen tak pernah marah di depan anak-anak apalagi membanting pintu. Ririen belajar dari pengalamannya saat berumah tangga dengan Ricky dulu yang meninggalkan trauma pada Fajar.


“Mama bilang sih kamu tegas aja! Mau nolong orang tapi rumah tanggamu hancur atau pertahankan rumah tanggamu dan buang rasa ingin nolong. Walau dia lagi hamil dan di negeri asing,” dengan jelas bu Rini meminta Putra memberi sikap pada Jane.


“Kan tau dia di sini enggak punya siapa-siapa, ngapain nekat datang tanpa kasih tau kamu lebih dulu. Kecuali sebelum berangkat dia minta tolong duluan, jadi A’a bisa kasih prolog dulu ke Ririen. Kalau udah gini mah susah A’,” bu Rini bingung menghadapi masalah putranya saat ini.


“Udah tau Ririen punya trauma ama pengkhiatan, sekarang dia dapat persoalan seperti ini, ya susah, Mama atau Ibu enggak akan bisa nolong kalau sampe Ririen kembali terpuruk, dan yang bahaya itu ke kandungan Ririen. Kalau dia stress bisa keguguran. Dan kalau sampe Ririen keguguran, Mama enggak akan tinggal diem, liat aja tu perempuan yang main dateng minta tolong ke laki orang!” ucap bu Rini geram.


“Lagian ya A. Tu perempuan udah sampe sini baru cari A’a. Seandainya enggak ketemu, kan dia ngeblangssak. Jadi sekarang A’a enggak perlu pikirin dia ngeblangsak atau enggak. Bodo amat aja. Yang penting keluarga A’a aman,” Rini makin kesal pada perempuan yang berangkat kenegeri asing tanpa perhitungan sama sekali.


“Tadi A’a udah ultimatum Jane jangan telepon A’a lagi dan jangan dateng lagi ke kantor. A’a enggak tau kejadiannya bakal kayak gini. Dia tau nomor HP A’a dari teman di London, dia bilang lagi main ke Indonesia pengen ketemu, ya A’a kasih tau alamat kantor A’a, karena A’a enggak punya waktu buat ketemuan di luar.”


“A’a enggak tau kalau dia niatnya minta bantuin cari Charles,” Putra sangat menyesali kejadian kemarin dan dia juga takut bila sampai Ririen stress dan berakibat buruk pada kehamilannya.


“Temen A’a kan cuma kasih nomor ponsel A’a. Apa tu temen di London punya nomor telepon rumah A’a? Apa ada orang kantor yang kasih nomor telepon rumah A’a ke dia? Mama jadi curiga ni perempuan enggak bener sampe bisa tau nomor telepon rumah,” Rini makin geram.


“Dan coba A’a pikir, apa maksud dia nelepon ke rumah pas jam kerja kalau bukan pengen bikin ribut keluarga A’a?” kata-kata terakhir bu Rini membuka mata Putra kalau Jane memang punya niat sangat buruk untuk dirinya atau keluarganya.


Putra membenarkan kecurigaan mamanya. Setelah dia cek pegawai kantornya tak ada yang memberi nomor telepon rumah pada Jane. Bahkan mereka bilang, mereka tidak tahu nomor telepon rumah Putra.


Dan Putra makin curiga, Jane bilang ke Fajar nomor ponselnya tak bisa dihubungi. Padahal kemarin seharian dia mengamati terus ponselnya untuk melihat jawaban pesan yang dia kirim untuk Ririen. Artinya memang Jane mengada-ada. Putra segera ke kantornya, karena ada proyek yang sedang harus dia tangani. Satu kakinya di kantor tapi kaki lainnya ingin segera terbang ke Jogja.

__ADS_1


***


Jam lima sore, Ririen baru saja sampai di kamar hotel sehabis berjalan-jalan ke pasar Beringharjo. Dia banyak memborong baju batik ukuran Alesha dan beberapa kemeja batik untuk Fajar dan Fajri tentunya, tapi tidak sebanyak baju Alesha. Dress anak-anak memang sangat menggoda design dan warnanya. Sedang kalau untuk anak lelaki kan hanya bentuk kemeja saja.


“Hallo Mbak, Fajar dan Fajri mana?” tanya Ririen saat menghubungi nomor rumahnya.


“Mommy, I miss you, Mommy beneran ke Jogja?” tanya Fajar, dia tidak dipamiti oleh Ririen tadi pagi sehingga merasa kehilangan.


“Hallo gantengnya Mommy, iya sayang, Mommy kerja di Jogja, tiga hari aja koq, enggak lama. Kakak jangan nakal ya, kerjain PRnya dan jagain adek-adek. Ok ganteng?” Ririen menghibur putra sulungnya yang sedang kecewa padanya.


“Ok Mom,” jawab Fajar dengan patuh


“Mana Abang?” tanya Ririen stelah mereka mengobrol tentang aktivtas Fajar tadi.


“Mom,” sapa Fajri.


“Udah, ini lagi bikin pe el” jawab lelaki kecil itu.


“Pinter anak Mommy, jangan nakal ya, dan jangan ganggu dede Lesha biar Mbak enggak repot,” nasihat Ririen pada Fajri.


Fajri mengangguk-anggukan kepalanya. Putra yang baru pulang kerja menempelkan jarinya di mulutnya dan meminta gagang telpon.


“Koq enggak jawab Bang, Abang ngerti enggak kalau Mommy bilangin?” tanya Ririen dengan lembut, dia tidak tahu gagang telepon sudah pindah tangan.


“Hai Mom, I miss you,” sapa Putra pelan dan lembut.


Mendengar Putra yang menjawab teleponnya Ririen langsung mematikan sambungan teleponnya dan membuat mode getar pada HP nya agar suara deringnya tidak mengganggu Tuti yang tidur sekamar dengannya.

__ADS_1


Fajar melihat hal itu. Dia tahu ada sesuatu yang terjadi. Sejak sang mommy membanting pintu kamar, lelaki kecil itu tahu ada yang tidak beres antara daddy dan mommynya.


Putra sangat sedih mendapati Ririen sama sekali tidak ingin bicara dengan dirinya. Bahkan dia coba hubungi kembali nomor HP Ririen, sama sekali tidak diangkat.


Putra sangat hafal karakter istrinya yang sangat sulit memaafkan. Dia khawatir kesalah pahaman ini sangat melukai Ririen dan membuatnya tidak termaafkan. Dia sangat takut Ririen stress karena trauma yang perempuan itu pernah rasakan.


Di Jogja, Ririen yang mendengar suara suaminya jadi galau. Dia kangen, tapi sebel karena terluka, apalagi tahu kalau perempuan itu sampai ngejar Putra dengan menghubunginya ke nomor rumah dan meninggalkan pesan minta segera dihubungi. Istri mana yang terima bila suaminya mendapat pesan dari perempuan lain dan pesan itu disampaikan lewat anaknya?


Hari pertama Ririen bekerja di Jogja, dia konsentrasi full, yang penting perutnya kenyang, dia tidak pernah ngeluh. Ketua yayasan yang didatanginya sangat ramah dan manis sekali, seorang nona yang dipaksa memegang tanggung jawab oleh kakeknya, umurnya tiga tahun di atas Ririen tapi belum menikah, saat tau Ririen sedang hamil dua bulan anak ke empat dia sangat takjub karena Ririen seperti tidak terbebani dengan kehamilannya.


Hari itu di mulai dengan perkenalan lalu melihat ruangan yang dipersiapkan untuk menjadi ruang laboratorium bahasa, dilanjut dengan makan siang dengan menu tradisional Jogja yaitu gudeg. Sesudah itu baru membahas poin-poin MOU yang akan mereka tanda tangani besok. Sore jam tiga pertemuan sudah selesai. Ririen dan Tuti kembali jalan-jalan mencoba aneka kuliner di Jogja.


***


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA :  NITA P, DENGAN JUDUL NOVEL  SUAMIKU DAN SUAMIMU YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2