WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
KAMU BUTUH BAHUKU ‘TUK BERSANDAR


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Putra sedih mendengar anak-anak mencari dan menanyakan dirinya. Baginya anak-anak adalah bintang di hatinya. Putra maju ke depan Ririen dan berdiri dengan lututnya sehingga tingginya sama dengan Ririen yang sedang duduk di kursi.


Dipegangnya wajah Ririen. “Coba kamu lihat mataku, siapa yang ingin ninggalin kamu? Siapa yang ingin membuat kamu terutama anak-anak terluka? Siapa yang ingin lepas darimu? Bukannya kamu tadi bilang ‘beliin ice cream buat anak-anakku?’ Mengapa sekarang kamu menyebut mereka hanya anak-anakmu? Mereka anak-anak kita Mom, jangan bilang aku yang ingin berpisah, tapi kamu yang ingin memisahkan aku dan anak-anak. Jangan kamu putar balik kondisinya!”


Ada nada getir dalam kata-kata yang keluar dari mulut lelaki muda itu. Dia tak mau dibilang dialah yang ingin berpisah.


“Jangan selalu berburuk sangka pada ketulusanku, aku enggak datang kemaren itu lagi bener-bener sibuk, dan karena kita sedang ada masalah aku enggak mau kita selesaikan by phone. Sebelum liat Alesha di rumah sakit tadi, niatnya aku mau pulang, mandi dan tidur sebentar lalu sore memang mau ke sini. Tapi kita udah keburu ketemu di rumah sakit tadi.”


“Dan Daddy juga kecewa, Alesha sakit, Mommy enggak kasih tau Daddy. Biarkan Daddy selalu melindungi kalian, biarkan Daddy mengambil alih bebanmu. Kamu butuh bahuku untuk bersandar,” Putra mengecup kening Ririen lama. Diangkatnya wajah Ririen.


“Jangan pisahkan aku dan anak-anak” pintanya, lalu dia duduk disebelah Ririen dan memeluknya erat.


Lama mereka diam dengan pikirannya masing-masing. Putra masih memeluk Ririen. “Sudah malam, Daddy pulang dulu ya, Daddy super cape enggak tidur semalaman. Mommy juga semalam kurang tidur karena jaga Alesha kan, sekarang Mommy rehat ya,” Putra bangkit menuju pintu depan.


Di pagar kembali Putra mencium kening Ririen lalu membisikan, ”I love you Mom’, istirahat ya dan jangan pernah berpikir Daddy akan melepaskan diri dari kalian!”


***


Hari ini Ririen akan mengambil raport Fajar dan Fajri. Sebelum berangkat ke sekolah dia meminta kedua asisten rumah tangga menyiapkan baju dan buku serta mainan Fajar dan Fajri. Selain pakaian Alesha serta perlengkapannya tentunya.


Mereka akan menginap lama di Cempaka Putih, rumah orang tua Ririen. Ini biasa Ririen lakukan karena dia akan sibuk di PRJ ( Pekan Raya Jakarta ). Dari Kemayoran ke Cempaka Putih pasti lebih dekat dari pada Kemayoran ke Cilangkap.


“Mbak,  nanti saya enggak bisa lama-lama nunggu ya, jadi saya pulang dari sekolah langsung sudah siap ya, jangan lupa cabut selang gas dan matikan lampu yang enggak perlu. Kunci semua kamar biar bang Tuin lewat pintu samping aja buat keluar masuk kasih makan binatang di kandang serta nyiram semua tanaman.” Perintah Ririen saat akan berangkat ke sekolah anak-anaknya.


“Jangan lupa koper-koper saya ya,” lanjut Ririen. Semalam dia sudah packing pakaian kerja serta tas dan sepatu miliknya.


***


Ririen tidak lama di rumah ibunya, dia hanya ngedrop anak-anak lalu pamit. Hari ini jadwal mendisplay stand pameran, walau bukan dia yang kerja, tapi dia tak ingin ‘lay out stand’ tidak sesuai dengan keinginannya. Sampai pukul 20.00  dia masih di arena PRJ saat teleponnya berbunyi.

__ADS_1


“Ya Put, ada apa?” tanya Ririen dia menutup satu telinga yang tidak digunakan untuk telepon agar jelas mendengar.


Hari ini sepulang bekerja Putra tak ingin anak-anak menantinya. Dia menyempatkan datang tapi sejak tadi tak ada yang membuka pintu rumah.


“Kamu di mana Mom? Koq rame ‘background’-mu? Anak-anak di mana? Dari tadi Daddy ketok-ketok pintu rumah enggak ada yang jawab,” sahut Putra panik.


“Aku di PRJ lagi atur ‘lay out’  dan ngeliatin barang masuk. Anak-anak di rumah eyangnya” jawab Ririen santai.


“Dan kamu enggak kasih tau aku dulu?” tanya Putra sedikit kesal. “Kamu bener-bener enggak nganggap aku ya Mom?” Putra diambang batas kesabaran, ditutupnya sambungan teleponnya, dia tidak ingin lebih marah ke Ririen. Dia takut akan membuat kesalahan fatal bila mengumbar emosinya.


Ririen tidak peduli dan kembali memperhatikan pekerjaan para tukang. Jam sepuluh malam dia baru pulang ke rumah ibunya. Dia memang bertekad akan mulai menjauh dari lelaki itu.


***


Hari ini Ririen tidak berangkat ke kantor, dia mempersiapkan data untuk nanti malam di PRJ. Dia tidak tahu Putra mencarinya di kantor. Ya, Putra ingin meluruskan kekesalannya semalam agar tidak berlarut-larut. “Bu Dewi hari ini tidak ke kantor Pak, dia langsung ke PRJ nanti sore,” jawab Atin yang kebetulan menerima Putra di kantor.


“Biasanya jam berapa beliau ada di sana?” tanya Putra dengan sabar.


“Ibu sih biasanya jam lima sore sudah standby di lokasi, tapi kalau hari ini mungkin lebih cepat, karena hari ini finishing penataan lokasi,” jawab Atin sopan.


Putra kembali ke kantornya dan focus kerja hingga maghrib, dia mandi di kantornya, habis maghrib dia menuju PRJ, percuma dia datang sejak sore di PRJ, pasti Ririen sedang sibuk tidak bisa di ganggu.


Pukul 19.30 Putra baru masuk ke lokasi, masih banyak truk yang sedang menurunkan barang, dia bergegas ke hall A, lokasi stand perusahaan Ririen, dari kejauhan di lihatnya Ririen sedang duduk dengan menselonjorkan kakinya yang hari ini menggunakan sneakers, bukan pantofel ber hak tinggi seperti kebiasaannya sehari-hari.


Di sekitarnya ada beberapa laki-laki yang sepertinya para manager di perusahaan Ririen bekerja, karena terlihat mereka bolak balik menunjuk sesuatu untuk dikerjakan para pekerja.


Tanpa ragu Putra menghampiri Ririen, ditepuknya bahu wanita pujaannya tersebut. Ririen menoleh dan memberikan senyum manisnya. Ririen tidak ingin orang melihatnya tidak baik terhadap orang yang menegurnya.


“Eh, kapan datang,” sapa Ririen gugup.


“Baru aja,” jawab Putra sambil menyerahkan air jeruk yang dia bawa. Putra tadi meminta office boy di kantornya membikinkan air jeruk dingin untuk dia bawa.


“Makasih,” Ririen menerima botol itu dengan suka cita.

__ADS_1


“Pak kenalkan teman saya,” Ririen memperkenalkan pak Imron serta semua yang ada di sana pada Putra.


“Imron”


“Putra.”


“Harry.”


“Putra.”


“Tulus.”


“Putra.”


“Udin.”


“Putra.”


Putra dan mas Agus hanya berjabat tangan, karena mereka sangat kenal. Mas Agus adalah kakak kandung istri A’ Hilman kakak sulung Putra.


Di kantor Ririen ada tiga orang bernama Tulus. Yang pertama team manager cabang Jakarta Barat yaitu Tulus Silalahi. Yang kedua manager Kreatifitas produksi yaitu Tulus Silaban. Dan satunya branch manager Jawa Tengah di Semarang bernama Tulus Mulyono.


\========================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2