WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
MERIAM SAYA TAK BISA BANGUN MELIHAT TUBUHMU


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Pa, Ina mau  ngelahirin,” Rini memberitahu Galih. Dia sendiri baru saja mempunyai anak ketiga yang kembali berjenis kelamin lelaki. Galih memberi nama putra ketiganya Putra Pamungkas Purwanagara. Galih memakai nama pamungkas karena dia merasa cukup dengan tiga anak walau belum punya anak perempuan. Usia Putra saat ini sudah enam bulan.


“Kan ada orang tuanya. Apa urusannya ama Papa?” tanya Galih merasa tak bersalah.


“Kamu suaminya Pa,” dengan gemas Rini mengingatkan Galih.


“Diatas kertas dia jandanya Enda. Dan Papa bukan suaminya. Kami nikah hanya buat Enda tenang. Mama tahu itu,” Galih paling malas bila berdebat dengan Rini. Dia teramat mencintai istrinya.


“Paling enggak, ya lihatlah sana. Lalu kasih nama anakmu,” Rini tetap ngotot agar Galih mendatangi bidan dekat rumah Ina.


“Papa akan datang bersamamu. Atau enggak akan datang sama sekali,” jawab Galih.


***


Galih tak mau memberi nama pada anak kedua Ina yang berjenis kelamin perempuan. Akhirnya Ina memberi nama putrinya Nenden Kesuma Purwanagara.


Setelah kelahiran Nenden, Hasbi kembali sakit dan dia meninggal dunia saat Nenden berusia dua bulan. Sejak meninggalnya Hasbi maka cucu lelaki Alamsyah hanya tiga anak Galih saja.


“Kamu yang sabar ya?” malam itu Galih merasa harus memeluk Ina yang sangat sedih kehilangan putra sulungnya. Dan Ina sangat bahagia menerima pelukan suaminya. Galih menginap di rumah Ina karena kasihan melihat istrinya baru melahirkan dua bulan tapi kehilangan anak sulungnya.


***


‘Apa-apan dia dari kamar mandi dibelakang sana cuma pakai handuk begitu. Memang di rumah ini hanya ada ayahnya sebagai lelaki dewasa. Tapi dari sumur kesini kan lewat dapur, ruang makan, baru ke kamar,’ batin Galih melihat Ina yang dari kamar mandi hanya mengenakan selembar handuk saja.


Di rumah ini memang tak ada kamar mandi di dalam kamar. Terlebih saat itu. Saat Putra masih bayi.


“Kamu enggak sopan hanya pakai handuk dari sumur ke kamar. Kalau ada yang lihat kan enggak pantas,” Galih menegur istrinya untuk berlaku sopan.


“Kenapa? Enggak ada orang. Semua lagi pada persiapan tahlilan Hasbi,” jawab Ina santai. Dia langsung membuka handuknya sehingga tubuh polosnya berada didepan mata suaminya.

__ADS_1


Entah mengapa ju-niornya Galih tak bergerak sedikit pun melihat tubuh sexy Ina. Dia malah merasa kasihan pada almarhum adik kandungnya karena istrinya berkelakuan seperti ini.


Dalam bayangan Galih langsung terlintas wajah Rini dan Enda. Dia tak akan pernah menyentuh Ina. Dan memang si jagur sama sekali tak mau bangun dari tidur nyenyaknya.


“Percuma kamu berlaku tak sopan seperti itu. Bahkan meriam saya tak bisa bangun melihat tubuh telanjangmu itu. Dan dengan tak tahu malu Galih memperlihatkan jagur yang tidur nyenyak.


“Misnahwati binti Iwan Saputra.  Dengan kesadaran penuh, saya Galih Purwanagara menjatuhkan talak padamu saat ini juga. Sejak saat ini kamu perempuan bebas,” Galih langsung keluar dari kamar itu.


Tak ada yang tahu jatuhnya talak dari Galih. Sejak itu Galih datang sesekali siang untuk melihat Nenden. Tak pernah sekali pun dia menyentuh Ina, terlebih setelah dia menjatuhkan talak.


Ina sendiri sangat malu dan terhina karena ternyata Galih tak bisa dia dapatkan.


***


FLASH BACK OFF.


Sehabis makan malam perhatian Ririen beralih pada si kembar yang jam makan malamnya  sudah lebih dulu dari makan malam mereka yang dewasa. Si kembar sedang mencoret-coret buku mewarnai yang mereka miliki. “Lagi warnai apa cantik-cantiknya Daddy?” tanya Ririen pada kedua gadis kecilnya.


“Pesawat!” jawab Leona lugas.


Kedua gadis kecil ini sangat mudah dibedakan. Tidak seperti kembar lainnya. Walau wajah mereka sangat mirip, tapi rambut Leona gelombangnya lebih jelas dan type rambutnya. tebal seperti rambut Ririen. Sedang gelombang rambut Leoni agak lebih tak terlihat dan type rambutnya lembut walau lebat, setype dengan rambut Putra.


Kalau sudah bicara akan lebih mudah membedakan keduanya. Leona tegas dan lugas, dia tak mau kalah serta bersikap tangguh, sebaliknya Leoni lembut, sedikit cengeng dan tak pernah berani menantang orang.


“Wah bagus sekali bunga dan pesawatnya, sebentar lagi selesai ya, lalu kita ganti piyama dan siap-siap bobo,” perintah Ririen.


Sesuai sifatnya, Leoni cenderung manja dan kolokan pada Putra, sedang Leona lebih suka dengan mommynya.


Begitu pun terhadap kakak lelakinya. Leoni lebih kolokan pada Fajri yang mau memanjakannya dan tidak suka pada Fajar yang tegas. Sedang Leona  lebih suka kepada Fajar dari pada bermanja pada Fajri.


“Mommy adek Anjas nangis minta bola,” Alesha datang menghampiri Ririen dan mengadukan adik sepupunya yang merajuk minta bola basket.


“Kenapa enggak dikasih pinjam?” tanya Ririen sambil membereskan alat tulis si kembar.

__ADS_1


“Enggak boleh, kata Uncle bola Abang kotor, karena Adek Anjas jilat-jilat bola bukan ditendang,” jawab Alesha.


“Oh pantas enggak dikasih. Ya benar sayang, karena dede Anjas memang enggak boleh emutin bola Abang. Nanti malah dede Anjas sakit perut karena banyak kuman masuk perutnya,” jelas Ririen pada Alesha.


“Sekarang mbak Alesha juga siap-siap basuh badan dan ganti piyama ya.”


Tiga gadisnya siap tidur, Ririen membawanya ke ruang tengah untuk pamit pada nenek dan kakeknya. Ririen mengantar mereka ke kamar masing- masing dan mengecup kening mereka. Satu pengecualian yaitu Leoni, harus ditunggu hingga tidur baru bisa ditinggal.


***


“Abang dan Mas belum mau tidur?” tanya Ririen. Untuk dua jagoannya Ririe dan Putra sudah tidak membatasi jam tidurnya. Biasanya jam sembilan mereka akan tidur. Karena mereka sudah tau akibatnya bila terlambat tidur maka mereka sendiri yang rugi. Mereka bisa kesiangan dan badan jadi tidak fit untuk mengikuti kegiatan mereka yang padat dan membutuhkan stamina yang prima.


“Aku sebentar lagi Mom” jawab Fajar yang sedang berpikir untuk menyusun huruf untuk disusun menjadi kata, dia hobby memecahkan permainan puzzle. Diterimanya gelas juice yang disodorkan mommynya.


Sementara Fajri tidak menjawab, dia hanya sibuk mencoret-coret dibukunya. Ririen memberikan Fajri segelas juice sirsak langsung ditangannya karena anak itu tak menoleh kepadanya.


“Bu Nia, snack buat tamu di luar sudah diantar?” tanya Ririen.


Putra sedang menerima tamu di pendopo luar yang terpisah cukup jauh dengan rumah. Di pendopo sudah tersedia aneka bahan untuk membuat minum, juga tersedia gelas, cangkir dan dispenser panas dingin. Di meja juga ada beberapa toples kue kering. Kalau ada tamu baru diantarkan snack basah.


“Sampun Ndoro, sudah dibuatkan kopi dan teh juga” jawab bu Nia. Walau usianya lebih tua sejak awal Nia memanggil Ririen dengan sebutan Ndoro ataau Ndoro putri, begitu pun ke Putra dan anak-anaknya. Dilarang tetap tidak mau sehingga Ririen mengalah.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNCOMPLETED STORY   YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2