
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Ririen banyak membeli diapers baby born selain popok, sabun, shampo dan semua kebutuhan baby born mereka. Kamar mereka pun sudah dilengkapi dengan kebutuhan bayi dan pastinya ada ekstra bed untuk Putra.
Untungnya saat membangun rumah itu Putra sudah mempersiapkan kamar mereka super luas serta ada satu kamar di sebelah yang mempunyai pintu penghubung, yang saat ini digunakan sebagai kamar Alesha.
***
Saat ini sudah memasuki minggu mendebarkan, karena sudah satu minggu menjelang HPL ( Hari Perkiraan Lahir ). Ririen sudah sejak minggu lalu cuti, dan Putra lebih banyak kerja dari rumah, kalau tidak perlu dia tak akan keluar menemui kliennya. Ini adalah pengalaman pertamanya menghadapi hari kelahiran anak, sehingga wajar dia tak mau sampai melewati kejadian ini.
Pagi ini Ririen mulai merasakan kontraksi, dia berbisik pelan pada Putra “Birth time is coming soon Dadd!” dia tak ingin kedua jagoannya ikut panik. Mereka sudah selesai sarapan.
“Mbak tas melahirkan dan koper kecil masukin mobil Bapak. Jaga Alesha yang bener!” perintah Ririen pada kedua pembantunya. Dia pun menghubungi mertua dan ibunya.
Putra semakin nervous, dia menemani Ririen ditimbang serta diukur tensinya. Dia sangat tidak tega melihat Ririen meringis setiap kali kontraksi terasa.
Bu Rini dan pak Galih datang lebih dulu dari bu Purbo dan mbak Riries.
“Gimana A?” tanya bu Rini saat melihat Putra keluar ruang periksa.
“Mama bawa tissue basah? Peralatan Ririen dan tas dia di mobil,” Putra butuh tissue basah untuk menghapus keringat Ririen.
“Baru bukaan empat Ma, apa masih lama?” tanya Putra pada mamanya.
Bu Rini menyerahkan tissue pada Putra. “Masih cukup lama sih, kamu temani aja, karena sangat sakit dan melelahkan menunggu sampai pembukaan lengkap!”
“Ririen tu kalau sakit diem Ma, jadi A’a suka malah bingung ngadepinnya,” keluh Putra.
“A’a masuk lagi ya Ma, doain Ririne.” Pinta Putra pada mamanya.
Putra menghapus keringat Ririen di kening dan lehernya, “Sakit Mom?”
“Lumayan Dad, makin sakit,” jawab Ririen, tiap kontraksi dia akan meremas lengan Putra kuat-kuat sanbil menggigit bibirnya kuat-kuat.
Ini adalah proses kelahiran ke empat buat Ririen. Tapi dia baru merasakan ini adalah proses kelahiran pertama yang ditemani oleh suaminya sejak awal. Dulu Ricky selalu beralasan tak kuat melihat Ririen kesakitan. Dan bahkan saat melahirkan Alesha, Ririen sudah janda.
__ADS_1
“Jangan gigit bibir gitu, nanti sakit, nih gigit saputangan aja ya,” perintah Putra sambil memberikan saputangannya.
***
“Kita mulai ya Bu, jangan mengejan kalau tidak saya pandu, ini bukan anak pertama, jadi saya yakin Ibu masih ingat ‘kan proses kelahiran sebelumnya?” dokter memberi arahan untuk Ririen memulai proses persalinan kali ini.
Bedug maghrib, lahirlah putri kecil pertama mereka, dan tak lama disusul oleh kembarannya. Putra langsung meng adzani keduanya bergantian.
Putra memberi nama kedua putri kecilnya LEONA NASTITI PURWANAGARA dan LEONI PRAMESWARI PURWANAGARA
“Makasih ya Mom atas hadiahmu untukku. Makasih sudah mau nambah anak untuk kita, Daddy janji enggak akan pernah membedakan kelima anak kita,” tak henti diciuminya wajah Ririen. Tak berapa lama kedua bayi diantar pada Ririen untuk disusui, Putra melihat satu bayi yang berada dalam box dan membandingkannya dengan bayi yang sedang disusui oleh Ririen.
Rambut Leona lebih tebal dari Leoni dan pada jempol kaki kiri bagian telapaknya Leoni ada tanda lahir. Leona sudah selesai menyusu, sekarang gantian Leoni, dia menghisap lebih kuat dari kakaknya.
“HP Mommy mana Mas?” tanya Ririen yang sudah selesai menyusui kedua bayinya.
“Belum Daddy ambil, masih di mobil. Daddy ambil tas dulu ya, Mommy mau titip apa lagi?” tanya Putra sambil menciumi wajah istrinya, dia sangat sadar betapa sakit seorang perempuan saat melahirkan.
Sangat durhaka laki-laki yang menyakiti hati istrinya, karena demi melahirkan anak yang benihnya mereka titipkan di rahim istrinya, seorang perempuan rela mempertaruhkan nyawanya sendiri.
“Maem dulu ya, habis itu baru Mas ambilin HP nya. Mommy belum maem lho, sekarang ‘kan ada baby twins yang ikut maem. Sekarang Mommy pakai HP Daddy dulu buat hubungi orang yang ada di nomor Daddy ya?” bujuk Putra sambil mengambil makan untuk Ririen. “Aaaa Mom,” perintahnya menyuapi istrinya.
“Daddy juga dari tadi belum maem ‘kan?” Ririen memandang manik mata Putra penuh selidik.
“Ya udah kita maem bareng, tadi ibu bawain banyak koq maemnya,” Putra menyuapi Ririen dan dia juga makan untuk dirinya sendiri. Selesai makan Putra mengambil baju ganti dan tas Ririen juga membelikan Ririen juice alpokat sesuai pesanannya tadi.
Saat ini Ririen sendirian di ruang rawatnya, dia memandangi kedua bayinya, dia sangat tidak menyangka bisa punya bayi dari mantan muridnya sendiri. Dia menghubungi Ilham dari nomor Putra.
“Hallo Bro, tumben telpon Abang” sapa Ilham ketika menjawab telepon dari nomor Irhan.
“Abang ini Ririen!” balas Ririen.
“Kamu miskin pulsa ya, sampai pakai nomor suamimu?” goda Ilham.
“Iya, makanya Abang beliin pulsa dong,” balas Ririen tanpa malu.
“Ih enggak tau malu, minta nih ama Mbak mu, dia ada di sebelah Abang!” rupanya Ilham sedang bersama Kasih.
__ADS_1
“Hallo Rien,” sapa Kasih.
“Mbak, aku kangeeeeeen.” Ririen langsung manja ketika mendengar sapaan Kasih.
“Sama, Mbak juga kangen kamu!” jawab Kasih spontan.
“Ke sini dong Mbak kalau kangen, sambil bawain kado buat dua keponakanmu yang baru lahir,” balas Ririen.
“Kamu udah lahiran? Kapan?” Kasih sangat antusias mendengar berita bahagia itu.
“Baru aja Mbak, dua jam lalu,” mereka pun terus saja ngobrol. Putra yang melihatnya hanya tersenyum melihat Ririen bahagia berbincang dengan Kasih yang pastinya sesekali ditimpali dengan ocehan Ilham.
Putra ingat dia tidak punya nomor Kasih, jadi dia bisa menerka Ririen pasti tadi menghubungi Ilham.
***
“Mas enggak pulang liat anak-anak dulu?” tanya Ririen.
“Mama tadi langsung ke rumah diantar papa, baju mama dan papa Nuna yang antar, jadi anak-anak ditemani kakek dan nenek. Kamu enggak usah khawatir ya?” sekarang Putra makin suka menciumi istrinya.
“Siang dan tadi habis dede lahir Daddy juga sudah telepon Abang dan Kakak. Mereka senang dan pengen cepet liat adenya, tapi Daddy enggak izinin mereka dibawa kesini.”
“Ni juice nya, habiskan lalu bobo ya, kamu enggak boleh cape lho!” perintah Putra dengan penuh rasa cinta yang semakin dalam.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : NIA SUMANIA DENGAN JUDUL NOVEL NANDITHA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1