
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Ricky dan Dira hanya diam sekembalinya ke hotel. Mereka tak bisa membantah semua ocehan sang papa. Mereka juga masih kaget dengan fakta kalau mama dan papanya sudah membagikan semua hartanya hanya pada para cucu.
Tapi mengapa dua anak Ririen mendapat masing masing satu sertifikat sedang tiga yang lain satu sertifikat dibagi tiga. Apa itu nanti dijual dulu baru dibagi? Karena tak mungkin tiga anak dengan tiga ibu berbeda bersama memiliki sebuah sertifikat.
“Ma, mengapa anakku dan anak Shintia nanti hanya satu sertifikat. Bersama anak Ririen pula,” karena penasaran Dira bertanya pada mamanya di kamar hotel.
“Karena jatah anak perempuan memang lebih kecil. Tapi sebenarnya bukan itu saja. Nilai jual sertifikat yang untuk kalian bertiga lebih besar. Dan sertifikat itu bisa di jual setelah mama dan papa meninggal.”
“Karena itu adalah sertifikat rumah tinggal kita. Jadi kalau Shintia nanti bercerai pun dia harus menunggu sampai rumah itu di jual baru mendapat warisan itu. Terkecuali, kamu atau Shintia sekarang membeli rumah itu dengan potongan harga sepertiganya, yaitu jatah kalian.jadi kamu atau Shinta hanya perlu membayar dua pertiga harga saja. Mama dan papa akan memberikan rumah itu dan kami akan tinggal di rumah kakek di kampung.” jawab sang mama.
“Mama yakin kalau diminta, Ririen mampu membayar rumah itu. Tapi dia tak akan mau. Suaminya sudah sangat banyak sertifikat tanahnya. Karena tadi mama bertanya pada pegawainya, ternyata suami Ririen adalah pemilik dua perusahaan. Bukan kere seperti kalian!”
Shintia yang saat itu sedang di kamar itu hanya bisa mendengarkan. Kalau sedang tak hamil, tentu sejak tiga bulan lalu dia minta cerai dari Ricky. Lelaki itu dia pergoki sedang kencan dengan penjaga counter pulsa yang jadi langganannya.
Dan sekarang Shintia tahu suaminya sedang mendekati office girl di kantornya. Pegawai baru tentu suka bila di dekati oleh Ricky, karena tak tahu sejarah jeleknya.
Shintia pun menyesal. Dulu dia juga pegawai baru bagian adminsistrasi yang terpesona pada Ricky.
Shintia akan meminta kedua orang tuanya untuk membayarkan rumah orang tua Ricky agar dia bisa tenang. Setelah dia bayarkan, rumah akan dia jual lagi dan dia bisa mengembalikan uang orang tuanya.
Shintia akan memakai uang warisannya untuk hidup berdua dengan anaknya. Dia tak mau terus terikat dengan Ricky dan akan selalu makan hati. Orang tuanya pasti akan mengupayakan mencari dana talangan guna membayar rumah orang tua Ricky dua pertiga harga.
__ADS_1
Shintia bersiap menyongsong kehidupannya yang lebih baik. Dia tak mau seperti Dira yang hidup hanyak dari orang tuanya. Dari suami pertama Luna sama sekali tak mendapat apa pun.
“Kalau boleh tahu, berapa harga rumah itu Ma?” tanya Shintia seperti sambil lalu.
“Kalau untuk orang luar, saat ini Papa memberi harga mati di angka 4 M. Mungkin Papa akan buka harga penawaran 4,8 M. tapi kalau untuk anak, harga matinya 3 M. jadi masing-masing anak saat ini mendapat 1 M. Semakin lama tentu harga akan semakin tinggi,” jawab mertuanya.
“Jadi, aku atau Dira bisa memiliki rumah itu hanya dengan membayar 2 M saja Ma?” Shintia memastikan harga yang harus dia bayar.
Shintia akan meminta kedua orang tuanya mencarikan dana talangan sebesar itu. Lalu dia akan jual dengan harga 4 M. Dia masih punya 2 M untuk modal hidupnya. Karena yang 2 M akan segera dia kembalikan pada orang tuanya.
Shintia yakin orang tuanya akan mudah mencari uang itu. Mereka bisa menggadaikan sertifikat toko sembako mereka seperti saat abangnya butuh modal usaha.
Orang tua Shintia memang bukan dari keluarga kaya, tapi juga tidak terlalu minus, sehingga selain sertifikat rumah, orang tuanya memiliki dua sertifikat lain. Satu sedang digadai abangnya yang sisa angsurannya tinggal empat bulan. Dia bisa pakai sertifikat satu ruko lainnya.
***
“Tia serius Ba’. Apa pun yang terjadi, Tia akan bercerai setelah anak ini lahir. Tia sudah enggak mau lagi bertahan. Sekarang dia lagi ngejar perawan baru di kantor,” jawab Shintia. Aba atau ayahnya hanya mengelus dad4 mengetahui putri bungsunya bernasib buruk, kakak Shintia nomor dua juga perempuan tapi meninggal saat melahirkan anak ke duanya.
Dan kakak sulungnya lelaki sudah memberinya dua cucu dan membuka usaha bengkel mobil maka butuh modal cukup besar. Saat ini kandungan Shintia sudah enam bulan, perkiraan akan lahir tiga bulan lagi dan jenis kelamin anaknya perempuan seperti anak Dira.
“Nanti sesudah dibayar, sertifikat rumah itu langsung Aba aja yang pegang dan Aba juga yang jualkan. Bagian Tia akan Tia pakai buat beli ruko. Lantai bawah akan Tia pakai untuk salon dan Tia tinggal di lantai atasnya,” jelas Shintia pada ayah dan ibunya. Dia sudah menjabarkan warisan milik anaknya. Kedua orang tua Shintia juga tahu perjalanan Shintia dan mertuanya menemui mantan istri pertama Ricky di Jogja.
“Kalau begitu, Aba akan urus pegadaian ruko dulu. Nanti begitu dananya turun kita langsung ke rumah pak Fuad. Aba akan datang dengan bang Revan untuk langsung membeli. Kamu enggak perlu cerita apa pun ke mertuamu. Apalagi ke suamimu. Anggap saja Aba beli buat Aba sendiri. Bukan untuk membantumu,” sang ayah langsung memutuskan akan membantu anak perempuannya itu.
“Tapi Ba, kalau bukan aku atau Luna yang beli, kan harganya 4 M?” dengan polos Shintia mengemukakan pendapatnya.
__ADS_1
“Iyaaaaaa … Aba tahu. Nanti kita bicaranya kamu menebus hak waris anakmu. Tapi pemilik berikutnya adalah Aba,” ibunya Shintia menjelaskan pada anak perempuannya itu.
“Terserahlah. Sekarang Tia pamit dulu,” Shintia tadi pamit ke rumah orang tuanya dengan alasan mengantar oleh-oleh dari Jogja.
***
Minggu depan Shintia akan mengadakan pengajian tujuh bulanan, sejak tiga hari lalu ibu kandung Shintia sibuk belanja. Dia sudah mangatakan pada besannya kalau acara tujuh bulanan semua dia yang tanggung.
Besannya hanya bagian mengundang ibu pengajian sekitar dan menyewa kursi serta tenda bila diperlukan. Dan Ricky sebagai ayah calon bayi sama sekali tak keluar uang apa pun.
“Saya mendengar dari Shintia, saat perjalanan ke Jogja kemarin, besan habis bagi-bagi warisan?” pak Burhan ayah Shintia mulai membuka kata.
Mereka sedang datang ke rumah pak Fuad karena istrinya ingin bicara untuk menentukan jumlah box yang mesti disiapkan serta jumlah anak yatim yang akan dapat sumbangan. Para bapak ngopi di teras, termasuk Ricky.
“Ah itu, iya saya dan istri membagikan waris pada para cucu termasuk calon anak Shintia nanti,” jawab pak Fuad.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNCOMPLETED STORY YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta