WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
YAKIN MELUK AJA, ENGGAK PAKE …


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Aku tau kamu bakal sukses dengan kariermu di Bali sana. Jadi please hentikan tangismu, aku enggak bisa lihat belahan jiwaku menangis seperti ini. Aku mundur karena itu yang kamu mau, buat apa aku fight sendirian bila kamu enggak mau berjuang malah ingin mundur? Rumah tangga itu enggak bisa dibangun oleh satu orang, harus dua orang yang menjadi team, kamu lebih tau itu ‘kan?” Putra mengecup puncak kepala Ririen, karena Ririen sedang menangis di dadanya.


Diangkatnya wajah Ririen, diusapnya airmata di wajah Ririen. “Stop please,” pintanya.


Dikecupnya bibir Ririen sebentar, lalu ditatap matanya, dipegangnya dua pipi Ririen dan sekarang dilumatnya bibir Ririen lembut tanpa izin, terus dan terus dia ******* bibir kekasihnya itu sampai Ririen menjauhkan wajahnya karena kehabisan nafas.


Ririen langsung memeluk Putra erat-erat.


‘Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan rasa nyaman yang aku miliki saat memeluknya? Sedang rasa ini tak pernah kumiliki saat bersama Ricky?’  pikir Ririen, tapi dia tidak kuat menerima cibiran sekelilingnya setiap hari.


‘Apa aku harus ikutin pendapat ibu dan mbak Riries aja? Cuwekin semua pendapat orang lain?’


Ririen diam. Menatap Putra dengan tajam. Pemuda yang baru saja memporak porandakan hati dan pikirannya. Siang hingga sore dia sudah yakin dia akan bertahan dengan lelaki ini. Tapi begitu dia melihat Putra, dia langsung melihat bayangan cibiran orang-orang padanya.


“Bobo sana, kamu terlalu lelah, Daddy enggak pulang, Daddy bobo di kamar anak-anak, tadi kasur sudah diatur di sana, bahkan Daddy membacakan cerita buat mereka di kamar sampai mereka tidur,” perintah Putra. Lelaki muda ini tahu, Ririen tak serius ingin pergi menjauh.


Putra membimbing Ririen untuk istirahat, karena dia tahu, keputusan yang Ririen katakan tadi bukan hasil pemikirian perempuan itu, melainkan hasil emosinya saja.


Putra memasuki kamar Ririen, dia melihat Alesha yang sedang di cek celananya oleh Ririen, diciumnya pipi gembul Alesha, bayi yang sejak berumur satu bulan sudah menjadi anaknya. “Jangan digituin, nanti dia bangun,” larang Ririen melihat kelakuan Putra yang menggusel-gusel pipi Alesha, baru saja ucapan itu berakhir Alesha sudah merengek bangun.


“Tuh ‘kan, jadi aku kan yang repot,” sungut Ririen sambil mengangkat Alesha dari box nya dan duduk di tepi ranjangnya, ditutupnya bagian dadanya dengan kain alas Alesha dan dia menyusui Alesha.


“Ha ha ha De’, jangan rakus gitu deh, Daddy enggak minta koq sekarang, nanti habis Dede baru jatah Daddy ya,” kekeh Putra mendengar suara cecapan mulut Alesha yang sedang menyusu.


Ririen langsung memukul pipi Putra dengan lembut, “Ngaco aja,” ujar Ririen, yang dibalas Putra dengan memberi kecupan di pipi Ririen.

__ADS_1


“Sana pindah kamar. Ni Alesha sudah selesai aku juga mau tidur,” usir Ririen sambil meletakkan Alesha kembali ke box nya, dia lupa biasanya kalau habis menyusui malam, Alesha dibiarkan tidur di sisinya.


Putra bukannya keluar malah memeluk Ririen dari belakang dan mencecap leher Ririen, memberinya tanda kepemilikan di sana. Di baliknya badan Ririen dan dilumatnya bibir Ririen dengan rakus, Ririen pun membalasnya tanpa ragu.


Ririen tidak sadar sekarang posisinya sudah berbaring di kasurnya, menerima serangan yang dilakukan Putra. Dibiarkannya Putra bermain di leher dan dadanya serta tentu saja di bibirnya. Tangan Putra mulai mengusap lembut pangkal pahanya. “Mas, aku juga pengen, tapi jangan sekarang ya,” pinta Ririen ditengah permainan mereka.


“Tapi aku enggak kuat Mom,” rengek Putra yang sudah sangat ingin menuntaskan hasratnya.


“Kita berdua pasti kuat, bukan cuma Mas yang kepengen, aku juga kepengen koq,” bujuk Ririen sambil membalas lumatan Putra, kadang dijambaknya rambut Putra saat Putra membuat tanda di dadanya. “Brenti dong Mas, jangan bikin aku enggak mau lagi ketemu kamu kalau kamu nekat nerusin.”


Putra mengambil jemari Ririen dan meletakkannya di pangkal pahanya yang siap tempur. Ririen mengusap lembut dari luar dan berucap, “Sabar ya, kamu seriuskan ama aku?” tanyanya


“Kalau serius kamu harus sabar, karena aku hanya mau making love dengan suamiku.” Ririen sedikit tercekat mengatakan itu. Dia tak ingin mereka melangkah diluar jalur agama.


Putra menghentikan serangannya, disusupkan wajahnya diceruk leher Ririen dan dipeluknya tubuh perempuan pujaan hatinya itu.


“Maafin Daddy ya, maafin,” katanya sambil terisak “Daddy enggak akan ngelakuinnya sebelum kita nikah, maafin Daddy, maafin Daddy ya,” rengeknya.


 “Daddy bobo sini ya, meluk aja enggak akan macam-macam,” pinta Putra.


“Yakin meluk aja, enggak pake nyium?” goda Ririen.


“Beneran meluk aja, tapi kalau khilaf nyium ya maafkan,” kekeh Putra, dia bisa langsung tertawa sehabis terisak mendengar godaan Ririen barusan.


Ririen minta Putra mematikan lampu dan dia juga membetulkan bantal yang tadi sudah jatuh ke tendang saat mereka bergumul. Ririen berbaring didada Putra.


“Tadi habis curhat ya ama ibu?” tanya Putra.


“Iya, ama mbak Riries juga,” Ririen mengakui perbuatannya tadi.

__ADS_1


“Apa pendapat mereka?” selidik Putra. Dia yakin kedua perempuan dewasa itu menasihati Ririen tak menggubris omongan orang sekitarnya.


“Mereka bilang aku harus bertahan dan cuekin aja omongan orang,” lapor Ririen.


“Trus kenapa tadi Mommy tetap kekeuh minta pisah? Daddy sudah hopeless Mom, Daddy enggak bisa bertahan kalau Mommy nyerah, tapi ‘kan Daddy juga enggak bisa paksain Mommy. Tau enggak sih, kalau enggak malu tadi Daddy nangis deh denger Mommy bilang putus,” keluh Putra.


“Halah malu apa, buktinya barusan juga nangis,” goda Ririen sambil memencet hidung Putra.


“Beda Mom nangis karena kalah dengan nangis nyesel, yang barusan ‘kan nangis nyesel karena Daddy salah!” Putra tentu saja mengelak tak mau kalah.


“Mommy enggak kuat diejek suka berondong dan matre serta mau morotin harta laki-laki Dadd. Tiap hari ada aja kata-kata itu Mommy dengar di sekolah!” lapor Ririen.


“Bibi yang ngejek?” tanya Putra ingin memastikan.


“Sekarang bukan bibi, tapi semua ibu-ibu yang menunggu di sekolah sana, mungkin mereka awalnya ngerumpi, lalu ‘kan menyebar ke semua yang nunggu di sana. Bahkan mbak Surti atau mbak Yuni juga sering dengar pas nunggu Fajar pulang, karena Fajri ‘kan pulang lebih dulu, jadi pas nunggu Fajar pasti ada aja yang ngomongin Mommy.” jelas Ririen pasrah.


“Berkali-kali si Mbak juga ngebales bahwa yang ngejar ‘tu Daddy, bukan Mommy, tapi mereka malah ikut diejek karena katanya enggak mungkin ada bujangan kaya yang ngejar janda  anak tiga yang usianya lebih tua kalau Mommy enggak pakai pelet. Daddy bisa rasain enggak apa yang membuat Mommy sakit hati tiap hari?” keluh Ririen sambil menatap Putra.


\================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL  BETWEEN QATAR AND JOGJA  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2