WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
ARTI KEHIDUPAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA YAAAA, SEMOGA ENGGAK BOSAN DENGAN CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


‘Ah kenapa gue jadi enggak konsen gini, kenapa tu muka bikin gue pengennya ngeliatin dia terus? Wah gawat nih, tu ibu kan udah punya anak dan punya laki dan Yogi bilang waktu nikahan A’ Hilman dia lagi hamil 7, artinya dia baru aja ngelahirin, pantes aja gudang ASI-nya gede enggak kayak dulu waktu ngajar gue. Tapi serius ni mata ama ni otak enggak mau lepas dari muka dia dan mikirin dia, perempuan dewasa bini orang tapi gue naksir berat,’ batin Putra kembali berkecamuk.


Putra maju memberikan kata sambutan sebagai ketua panitia reuni, dia berupaya mengatur wajahnya agar melihat ke semua arah, tidak ke satu titik, berhenti di wajah manis bu Dewi.


‘Itu muka kenapa bikin gue mupeng sih. Perasaan waktu dia ngajar gue dulu. Gue enggak gini-gini banget. Gue sering mboncengin dia kemana pun. Biasa aja tuh,’ pikir Putra.


Satu persatu para guru maju bergantian untuk menerima souvenir dari panitia lalu di lanjut dengan foto saat dia menyerahkan souvenir tersebut. Putra tidak sabar menanti giliran bu Dewi maju, sayang sebagai guru yunior bu Dewi mendapat panggilan agak terakhir sehingga membuat Putra tak sabar.


‘Ah dia jalan ke panggung. Ya ampun ‘tu senyum kenapa ngalahin madu sih? Perasaan dulu gue sering liat dia senyum, perasaan dulu gue sering liat dia ketawa, tapi kenapa gue baru sadar sekarang kalau senyumnya dia bikin gue mabok?’ Putra memberikan senyum manis pula saat akan di foto dengan tangan berjabat tangan dan tangan kiri memegang souvenir.


Sehabis itu Putra sengaja meminta mereka foto berdampingan tidak sekedar berhadapan. Putra memegang souvenir dengan tangan kirinya, bu Dewi berdiri sebelah kanannya dengan tangan kanan memegang souvenir sehingga posisi mereka sangat rapat karena 1 souvenir di pegang berdua.


Dengan guru lain cukup satu atau dua pose. Dengan bu Dewi entah berapa pose yang dia minta buat pada seksi dokumentasi.


Acara demi acara berjalan dengan lancar, sekarang saat acara kesan dan pesan. Banyak siswa dan guru menyampaikan kesannya, Putra menunggu apakah wanita yang tiba-tiba memporak porandakan hatinya akan memberi kesan. Namun hingga waktu habis bu Dewi tidak maju.


Acara puncak adalah hiburan, tetiba Putra ingin menyanyikan lagu arti kehidupan milik mus mujiono ( cari di youtube ya ), dia meminta Maya dan Sigit menemaninya ke atas panggung. Di pegangnya gitarnya, Sigit bersiap di organ sedang Maya akan menemaninya bernyanyi.


“Lagu ini tiba-tiba ingin saya nyanyikan, entah mengapa, semoga aja terwujud,” Putra memberi prakata sebelum mulai memetik senar gitarnya sambil matanya menatap tajam pada bu Dewi.


Perlahan Putra memetik senar gitarnya


Engkau bukan yang pertama

__ADS_1


Tapi pasti yang terakhir


Di cintamu kutemui arti hidupku


Engkau bukan yang pertamaTapi pasti yang terakhir


Di cintamu kutemui arti hidupku 


Ririen tersenyum manis melihat anak didiknya, dia tidak punya perasaan lain, dia hanya berpikir anak asuhnya itu menampilkan karya seni. Just it, enggak ada pikiran lain. Walau jujur Ririen memang mengagumi permainan gitar dan suara Putra yang membawakan lagu dengan penuh penghayatan.


Ririen melihat rambut gondrong Putra yang sejak tadi terurai sebahu, saat ini sudah dikucir rapi, mungkin pemuda itu gerah karena sejak tadi bergerak tanpa henti. Namun Ririen berpendapat, diurai atau diikat tetap aja wajah Putra sangat macho. Dan dia sangat suka melihat penampilan Putra yang sekarang, beda dengan penampilannya ketika masih menjadi siswanya dulu.


‘Anak ini berubah semakin dewasa. Aku tahu dia memang berjiwa pemimpin sejak dulu. Aku berharap kedepannya dia bisa sukses. Sebagai guru ups mantan guru, tentu aku berharap semua anak didikku sukses dimasa depan mereka,’ batin Ririen. Dia memang selalu berharap yaang terbaik bagi semua kenalannya.


‘Ih dia ngebalas tatapan gue dengan senyum, aamiiin ya bu, semoga terwujud,’ batinPutra ketika melihat tatapan bu Dewi lekat melihatnya.


Kau menjelma seperti khayalan


Kau impian dalam kenyataan


Perjalanan yang penuh likunya


Kini t'lah tiba di sisimu selamanya


Putra mengakhiri lagunya dengan sangat terbawa perasaan. Dia memang berharap kalau bu Dewi akan segera dia miliki. Dia tak mau peduli bagaimana pun caranya.


Sepanjang menyanyikan lagu itu mata elang Putra terus memandangi Dewi, walau sesekali melihat pada Maya sebagai patner duetnya. Tepuk tangan riuh terdengar saat Putra menyudahi nyanyiannya.

__ADS_1


‘Entah mengapa, tatapannya membuatku sangat lemas. Aku belum pernah merasakan hal ini,’ batin Putra. Dia benar-benar merasakan sensasi rasa yang belum pernah satu kali pun dia rasakan pada perempuan mana pun.


‘Tapi dia istri orang. Papa dan kakek pasti akan marah besar bila aku merusak rumah tangga orang lain. Betapa pun aku ingin memiliki perempuan itu. Aku harus megubur rasa ini sebelum terlalu dalam menukainya,’ Putra menepis rasa yang hadir.


Sayangnya rasa sukanya tak bisa dibendung. Dia tetap ingin mendekat lagi dan lagi.


‘Apa yang harus aku lakukan? Apa aku terus berjuang untuk mendapatkannya? Atu ku biarkan saja dia bahagia dan melihatnya dari jauh tanpa pernah bisa memiliki?’ pikir Putra lebih lanjut.


‘Hei sadar! Sejak kapan Putra Pamungkas ingin memiliki perempuan? Mereka semua racun! Mereka semua pengkhianat! Sadar itu Putra!’ Putra berupaya mengingatkan dirinya sendiri tentang kebenciannya pada sosok mahluk yang disebutnya RACUN.


Sayangnya pikiran dan tingkah laku tidak berjalan seirama. Semua kalah dengan pesona bu Dewi yang menjadi sosok berbeda setelah empat tahun tak bersua.


Putra terus berupaya mengingatkan tentang kebenciannya pada perempuan. Dia mencoba membangun benteng seperti saat dia terluka. Tapi dimana pun dia cari, benteng itu sudah tak ada. Bahkan puingnya pun tak bersisa.


‘Koq bisa?’ batin Putra bingung. Luka yang dia rasakan selama hampir 5 tahun telah sirna hanya karena melihat sosok bu Dewi saja. Sosok sederhana yaang tak pernah menggunakan make up seperti perempuan pada umumnya. Dia hanya merias wajahnya natural saja.


‘Sepertinya aku harus membasuh wajahku agar aku bisa menepis rasa ini,’ Putra segera lari kebelakang untuk membautaanya ‘tersadar’ dari rasa mabuk tiba-tibanya kali ini. Ditoilet dia membasuh wajahnya dan sedikit membasahi rambut gondrongnya. Dia sungguh merasa janggal dengan perubahan mood yang dia rasakan kali ini.


Saat ini Maya dan Sigit kembali bernyanyi menghibur. Ada beberapa siswa juga ikut menyumbangkan suara. Suasana makin hangat. Tapi semua itu sudah tak bisa mengubah fokus pikiran Putra. Seakan poros bumi ada pada bu Dewi mantan gurunya itu.


\========================== ====================================================


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2