WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
MULAI SIBUK KERJA SETELAH CUTI


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Ini yang Ririen bilang dia tidak bisa di antar jemput kalau kerja, karena emang dia selalu banyak di lapangan. Dari jauh kulihat wajah Ririen sangat serius.


Oh my God, mengapa dia makin manis bila sedang serius seperti itu? Ekspresi seperti itu tak pernah kulihat ketika Ririen masih mengajar, tentu saat mengajar dia tidak perlu memikirkan target penjualan dan strategi pemasaran yang sangat menantang jiwa kepemimpinannya. Dulu Ririen hanya tinggal menjabarkan ilmu yang ada dalam panduan kurikulum saja.


Klienku datang, aku konsentrasi penuh dengan pekerjaanku, aku sudah memesankan makanan untuk para tamu. Selintas kulihat di meja Ririen sejak tadi belum ada makanan, baru ada juice yang Ririen pesan dan aneka minuman lainnya. Aku juga melihat mereka sudah menutup buku masing- masing dan baru hendak memesan makanan. Rupanya mereka makan setelah selesai pembahasan. Tidak seperti diriku yang makan sambil membahas topik yang dibicarakan.


Saat hendak pulang kulihat dua laki-laki mendatangi meja Ririen dan mereka terlihat menggoda Ririen karena kulihat Ririen tersipu dan memukul lengan salah satu diantara yang baru hadir. Dan aku ingat, lelaki tersebut adalah kakak kandung Teteh Wiwied kakak iparku.


Mengapa aku merasakan panas di dadaku? Apa aku cemburu? Aku memang sangat tidak suka melihat Ririen bisa bahagia dan membalas canda orang yang menggodanya, sedang pada diriku Ririen tidak pernah manja apalagi tertawa renyah membalas candaan yang aku lontarkan. Dihadapanku Ririen selalu memasang wajah datar. Apa itu benteng yang sengaja dia bangun agar aku tak bisa mendekatinya?


END PUTRA POV


***


Hari Selasa, hari kedua Ririen bekerja sehabis cuti melahirkan. Kemarin dia full di kantor membaca data pencapaian penjualan para marketingnya selama dia tinggal cuti tiga bulan lamanya, banyak penurunan, tapi masih tetap digaris pencapaian minimal.


‘Not bad lah,’ pikirnya, dia harus kembali memberi motivasi pada para TM nya, sekalian membahas target di pameran pekan raya bulan depan. Hari ini pukul 10.00 dia dan mbak Tuti akan berkumpul dengan lima jagoannya di RM Bahagia, tempat kumpul favorite mereka.


“Bu, seperti biasa kami minum dulu ya, sehabis ngobrol nanti kami pesan makannya,” beritahu Tuti pada pemilik rumah makan.


“Iya mbak Tuti, santai aja, itu bu Dewi sudah masuk kerja?” tanya pemilik rumah makan.


“Baru mulai kemaren, tapi tau sendiri lah bu Dewi mah enggak mau santai. Dia pasti langsung tancap gas. Saya juice mangga dan juice alpokat es sedikit aja ya, nanti bapak-bapaknya biar langsung pesan sendiri-sendiri saat mereka datang,” Tuti menyampaikan pesanannya dan langsung menghampiri bu Dewi di pojok.

__ADS_1


Satu persatu para ‘Team Manager ( TM )’ datang, mereka langsung memesan minum sebelum duduk di meja yang sudah ada bu Dewi. Saat semua sudah hadir, tanpa buang waktu Dewi langsung membuka meeting hari itu, pembahasan pertama mengulas kinerja dan pencapaian selama dia tinggal cuti, lalu lanjut dengan pengenalan selintas program baru dari perusahaan dan poin terpenting dibahas terakhir yaitu target pameran PRJ ( Pekan Raya Jakarta ) dan strategi mencapainya.


Tidak terasa sudah 2,5 jam mereka membahas kerjaan, selesai semuanya baru mereka mulai memesan makan siang. Saat sedang makan siang terlihat mas Agus dan mas Harry datang ke meja mereka.


“Wah asyik nih yang ibunya mulai aktiv, enggak ngajak-ngajak makan,” goda mas Harry, manager keuangan kantor pusat.


“Kebalik lah Mas, harusnya kita nih yang dibayarin ama Mas Harry,” goda Ririen, memang hanya dia yang berani memanggil para manager dengan sebutan mas bukan pak.


“Iya Pak, traktir kita ya,” pinta Tuti.


“Lho Wi kamu koq makin sexyy aja sih? Kalau enggak inget yang di rumah aku mau deh jadi pacarmu,” goda mas Agus manager produksi pada Dewi yang memang masih sedikit gemuk sehabis melahirkan. Semua dikantor tahu Dewi sudah cerai saat sedang awal kehamilan dulu.


Dewi memukul lengan mas Agus “Awas aku yang lapor mbak Tini lho Mas, kalau Mas tu godain aku,” balas Ririen. Mereka memang akrab. Dan Dewi pun mengenal dekat istri Agust.


“Ha ha ha, sepertinya mbak mu bakal ngebolehin kalau selingkuhanku ‘tu kamu,” goda mas Agus lagi.


“Kami pisah meja ya, sambil nunggu pak Imron, mau bahas pengadaan barang buat pameran nanti,” sahut mas Harry menolak ajakan untuk bergabung.


“Wi, kalau bisa nanti kamu pindah ke meja kita ya, biar kamu juga ikut ngebahas persiapan kantor pusat.” Pinta mas August. Kalau Harry masih tak bisa menyebut Dewi tanpa awalan Mbak, dia tak sedekat itu dengan Dewi seperti Agus dan istrinya.


“Wah kayaknya itu diluar kapasitasku deh Mas, enggak usah lah, aku mah ikut kebijakan pusat aja,” tolak Dewi, karena tidak enak akan ada pak Imron sebagai MM ( Manager Marketing ) perusahaan yang akan ikut membahas persiapan itu.


Saat itulah tak sengaja Dewi  melihat ‘anak kecil’  yang juga sedang makan siang di sana dengan kliennya. Wah sejak kapan dia di sini, Ririen melihat piring makan Putra sudah kosong, dari tadi satu lokasi tapi dia baru tau keberadaan ‘anak kecil’ itu.


Ririen melihat Putra beranjak meninggalkan rumah makan dengan kliennya, dia juga baru saja hendak pulang, tapi pak Imron menahannya. “Mbak Dewi bisa enggak ikut ngobrol bareng mas Agus dan mas Harry?” tanyanya.


“Maaf Pak, saya manut aja, yang akan dibahas ‘kan masalah pengadaan barang, enggak ada hubungannya dengan penjualan saya, lalu apa peran saya disitu, saya lebih baik pulang saja Pak, tadi juga saya sudah bilang ke mas Agus dan mas Harry,” tolak Ririen.

__ADS_1


“Baiklah,” sahut pak Imron tak bisa memaksa.


“Tut, kamu mau ikut sampai mana? Saya enggak balik kantor ya, mau belanja bulanan,” Ririen memberitahu asistennya.


“Saya turun dipojokan seberang kantor aja Mbak, Mbak Dewi lewat Matraman kan?” tanya Tuti.


“Tadinya sih niat lewat Ahmad Yani, ya wis saya lewat Matraman aja biar kamu tinggal nyebrang ke kantor. Jangan lupa modul buat pelatihan besok disiapkan. Saya besok taruh sebagai pembicara terakhir aja, biar TM bertugas dengan maksimal,” Ririen mengingatkan Tuti jadwal besok.


***


‘Ternyata anak kecil itu bisa elegan juga ya saat berhadapan dengan konsumennya, tapi kenapa juga aku jadi kebayang-bayang ama dia?’ pikir Ririen yang berupaya menepis bayangan Putra yang disebutnya anak kecil, dari pikirannya. Dia selalu terbayang dengan sosok itu saat menghadapi kliennya tadi. Dia ingat dipertemuan terakhir Putra tak mau lagi makan malam di rumahnya.


\======================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER  YOK!


 



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2