
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Daddy enggak suka ‘kan aku makan banyak? Daddy enggak suka ‘kan aku makan tengah malam? Besok-besok Mommy beli makan pakai uang Mommy sendiri aja,” isak Ririen sangat sedih. Dia merasa terluka sebab suaminya tak suka dia makan tengah malam.
“Hei hei, siapa yang bilang Daddy enggak suka Mommy makan banyak? Daddy enggak ngelarang, dan jangan pernah bilang mau pakai uang Mommy sendiri seperti itu,” Putra memeluk istrinya dan menciumi pipi dan kening istrinya karena posisi Ririen berbaring miring memunggunginya. Putra merasa akhir-akhir ini Ririen sangat sensitive.
“Sekarang makan lagi yok, Daddy temani, Daddy enggak marah, Daddy cuma tanya aja. Ayok,” Putra membantu Ririen untuk kembali duduk agar bisa turun dari ranjang, dikecupnya bibir Ririen yang sedang cemberut, siapa sangka balasan Ririen malah hal yang terduga?
Ririen menyerang Putra, dia menginginkan peperangan dan dia yang memimpinnya. Tentu saja Putra tidak menolak agresi Ririen, dia sangat menerimanya. Sehabis berperang baru Ririen kembali memakan siomaynya dan siomay jatah Putra. Putra hanya minum suusu kopi saja.
“Mom, Daddy tanya jangan marah ya?” Putra hati-hati berbicara dengan Ririen karena dia tau Ririen sedang sangat sensitive sekali.
“Kenapa?” tanya Ririen ketus sambil terus memakan siomay milik Putra.
“Tu kan jawabnya gitu, bikin Daddy takut,” goda Putra.
“Ya cepet kalau mau tanya, yang bener ngomongnya,” paksa Ririen tak sabaran.
“Mommy enggak PMS ‘kan? Mommy enggak inget bulan ini belum kasih Daddy libur bulanan?” tanya Putra sangat hati-hati. Ngerti kan libur bulanan yang Putra maksudkan?
Ririen yang mendengar kalimat Putra tercekat, dan dia segera menghentikan makannya yang memang tinggal dua suap saja.
“Iya ya Dadd, Mommy sudah telat mens!” pekik Ririen tak sadar.
“Jangan terlalu berharap ya Mom, nanti kalau enggak positive Mommy kecewa, tapi kalau di lihat dari perubahan makanmu sepertinya sih harapan kita sudah terwujud,” Putra mencoba memberi nasihat pada Ririen. Dia tak ingin istrinya sedih bila memang belum hamil juga.
“Sekarang kita tidur lagi ya, besok pagi Mommy periksa pakai test pack, ada stock kan?” tanya Putra dengan sabarnya.
“Ada,” sahut Ririen bersemangat.
Selanjutnya Ririen tidur dalam dekapan suami tercintanya.
***
“Mas …, ” Ririen menangis begitu keluar kamar mandi pagi ini, tangannya menggenggam test pack tanpa mau dia buka.
__ADS_1
Putra memeluknya erat, dia tidak tahu mau bicara apa. Putra tidak sanggup melihat istrinya kembali kecewa, yang disebabkan ketidak mampuannya memberi benih yang subur. “Maafin Daddy belum bisa kasih kamu anak ya, kita sabar aja, pasti akan ada rejeki untuk kita,” bisik Putra sambil mengecup puncak kepala istrinya yang terus terisak.
“Stop dong nangisnya, nanti Daddy berobat deh biar benih Daddy subur,” janji Putra untuk istrinya. Dia sangat merasa bersalah karena Ririen sedih belum mempunyai anak darinya.
Ririen mengecup bibir Putra dan ********** lembut serta memindahkan test pack di tangannya ke dalam genggaman Putra. Dia lalu memeluk suaminya erat-erat, ”Mas lihat deh,” pintanya.
Putra melihat test pack di tangannya yang kebetulan terbalik, dia balik perlahan, dan tak percaya pada penglihatannya. Ada dua garis merah tegas di alat itu.
“Really?” tanyanya tidak percaya.
Ririen hanya bisa mengangguk-angguk sambil terisak tapi dengan tetap tersenyum. “Alhamdulillaaaaaah,” bisik Putra bahagia.
“Makasih ya Mom, kamu sabar menghadapi kekuranganku.” dia kecup pipi, mata, hidung kening dan terakhir bibir istrinya. Dia satukan kening mereka dan kembali dia katakan terima kasih.
Ririen kembali mencium Putra, yang tentu saja dibalas dengan penuh semangat oleh suaminya tersebut “Kita langsung periksa pagi ini ya?” pinta Putra.
Ririen hanya mengangguk, dia tahu ini pengalaman pertama bagi suaminya, jadi dia tidak ingin suaminya kecewa bila dia menundanya. Mereka berangkat sekalian mengantar anak-anak sekolah. Kali ini menggunakan mobil Putra dan Ririen sudah memberi tahu Tuti hari ini dia tidak hadir di kantor karena mau cek kesehatan.
Dari sekolah anak-anak mereka menuju RS Yadika, rumah sakit terdekat dengan rumah mereka saat ini. Putra mendaftarkan istrinya, dia tidak sabar ingin kepastian dari dokter kandungan.
“Kita langsung cek ya Bu, silakan berbaring,” pinta suster yang bertugas saat itu dan dokter mengoles gel ke perut Ririen, lalu dia memutar alat yang dipegangnya agar gel merata di alat tersebut.
‘*Bayi-bay*i?’ Pikir Ririen dan Putra bersamaan. Tapi mereka tak berani mengungkapkaan. Mereka masih diam menunggu keterangan dokter. Suster membersihkan bekas gel di perut Ririen dengan tissue,dan membantu Ririen turun dari tempat pemeriksaan.
“Ada keluhan Bu?” tanya dokter perempuan itu dengan ramah. Putra mana mau istrinya diperiksa oleh dokter lelaki untuk urusan dokter kandungan. Kalau dokter penyakit lain dia masih bisa menerima konsultasi dengan dokter lelaki.
“Enggak sih Dok, enggak mual seperti kakak-kakaknya, cuma selalu lapar aja,” jawab Ririen jujur.
“Makan yang cukup ya Bu, karena bayinya dua,” jawab dokter sambil tersenyum.
“Dua?”
“Kembar?”
Ririen dan Putra menjawab berbarengan.
“Iya Bu, Pak, bayinya ada dua, maka asupan Ibu juga harus terpenuhi, selain kenyang juga perhatikan nilai nutrisinya!” nasehat dokter.
__ADS_1
Ririen langsung berpikir, pasti suaminya akan super posesive dan cerewet. Sedang Putra langsung berpikir akan selalu menjaga Ririen 24 jam full. Ha ha ha, kalah paswalpres.
Mereka pulang langsung menuju ke Cempaka Putih untuk memberi tahu ibu dan ayah, walau ayah pasti masih di kantor, tapi kan memberitahu ibu secara langsung sudah mewakili.
Sorenya mereka langsung ke Ujung Aspal, sehabis pulang dulu menjemput anak-anak.
“Serius? Kalian akan mendapat anak kembar? Alhamdulillaaaaah,” seru mama Rini mendengar khabar dari mantunya tersebut.
***
“Ya Mas,” Ririen langsung menjawab ketika ponsel-nya berdering panggilan dari suaminya.
“Sudah ma’em belum?” tanya Putra saat jam 11.45 WIB, dia sedang di Bekasi tidak bisa menemani istrinya makan siang.
“Sejak kita sarapan bareng tadi lalu berangkat dari rumah, baru sekali tadi jam sepuluh he he,” jawab Ririen.
“Tapi aku makan snacknya bukan yang enggak ngenyangin koq, snack basah, kue lumpur dan kroket. Jadi nanti jam satu baru makan lagi, ni baru aja rampung kerjaanku,” Ririen menjawab rinci pertanyaan suaminya.
“Jangan telat ma’em ya Mom, kamue nggak sendirian lho. Daddy enggak bisa nemanin siang ini, masih di Cibarusah nih,” Putra memberitahu posisinya.
“Daddy juga jangan telat ma’em ya. I love you Daddynya twins,” Ririen langsung memutus sambungan teleponnya saat mendengar tukang asinan lewat depan kantornya. “Mas Ipin, belikan asinan sayur dua porsi dong,” perintah Ririen pada Saripin, office boy kantornya.
“Enggak pakai timun dan sawi asinnya yang banyak. Manis pedes tambah dua krupuk utuh ya,” Ririen memberikan uang pada sang office boy.
***
\=================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : THATYA0316, DENGAN JUDUL NOVEL JANDA BENGSRAT VS PERJAKA TUA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta