
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Akhirnya Ririen berganti pakaian. Dia akan menenangkan hatinya di rumah batik milik Kasih. Dia berpesan pada drivernya untuk menjemput anak-anak. Dia mematikan ponselnya. Dia tak ingin berkomunikasi dengan Putra saat sedang emosi seperti sekarang.
“Hallo Dek, tumben datang enggak janjian lebih dulu,” Kasih memeluk dan mencium pipi Ririen yang dia anggap adik nya.
“Suntuk Mbak. Aku ra genah rasane,” tanpa basa basi Ririen lagsung membuka hati, kalau dia sedang suntuk.
“Ada apa? Selama ini kamu adem dan enggak pernah kayak gini ‘kan?” Kasih meletakkan bayinya yang baru berusia sebelas bulan. Bayi gembul laki-laki itu baru selesai menyusu padanya. Ini adalah anak kedua, putra pertamanya juga lelaki berusia tiga tahun.
“Ada apa?” ulang Kasih. Dia masih bingung melihat Ririen yang diam. Dia pernah tahu dulu Ririen sulit menerima cinta Putra karena trauma diselingkuhi berkali-kali oleh suaminya. Sebaliknya Putra juga trauma akan perselingkuhan.
Kasih pun tahu adik angkatnya ini mempunyai keluarga yang harmonis dengan Putra. Putra dan Ilham -suami Kasih- juga berhubungan sangat akrab. Dan rasa sayangnya Ilham pada Ririen juga tulus seperti sayang seorang abang pada adiknya. Kalau Putra menyakiti Ririen, Kasih tak tahu apa yang akan Ilham berikan pada Putra nanti.
“Semalam ada yang kirim foto-foto kebersamaan Putra dengannya di hotel Mbak. Padahal yang aku tahu, saat itu Putra dihotel untuk meeting. Tapi di foto itu Putra malah bertelanjang dadaa dalam kamar hotel.”
“Juga ada foto perempuan itu memberikan Putra air mineral. Aku enggak tahu apa nasib anak-anak nanti kalau kami berpisah. Apa aku harus mengalah demi anak-anak?” isak Ririen akhirnya pecah juga.
Kasih segera meminta suaminya pulang tanpa memberitahu ada alasan apa. Sementara Putra sedang bingung karena sejak tadi dia tak berhasil menghubungi Ririen. Dia tanya ke telepon rumah. Asisten rumah tangga bilang Ririen pergi sejak pagi dan anak-anak dijemput sopir.
__ADS_1
‘Kamu ada apa Mom? Enggak biasanya anak-anak kamu serahkan kesopir. Kalau harus dijemput sopir biasanya kamu konsultasi duku ke Daddy,’ Putra semakin bingung. Dia sedang di supermarket bahan bangunan milik keluarga Purwanagara.
***
“Ada apa Bu?” tanya Ilham saat tiba di rumah.
“Adikmu sedang ada masalah. Dia sejak tadi hanya menangis,” Kasih menerima pelukan dan cium dari Ilham saat suaminya tiba dirumah dengan was-was.
“Sekarang dia dimana?” tanya Ilham. Dia tahu yang Kasih sebut adiknya hanya Ririen. Karena memang hanya Ririen adiknya.
“Di gazebo belakang,” sahut Kasih pelan. Kasih dan Ilham memang sangat mengasihi Ririen.
“Ayah kebelakang dulu nemui dia, Ibu atur makan dulu aja ya. Ayah lapar nih,” Ilham ingin bicara berdua dengan Ririen. Memang Ririen lebih terbuka bercerita dengannya dibanding dengan Kasih.
“Kenapa? Koq kayak Leoni aja cengeng?” Ilham memeluk erat perempuan yang sedang sedih itu.
“Duduk biar kamu enggak pingsan. Abang enggak kuat kalau harus gendong kamu,” Ilham masih terus menggoda Ririen agar sedikit melupakan beban yang dia rasakan.
“Kita makan siang yok. Abang lapar,” ajak Ilham.
“Abang dan mbak Kasih makan aja sana. Aku enggak pengen makan,” sahut Ririen. Dia tak ingin makan apa pun.
“Kalau begitu, kamu cerita dulu. Biar Abang bisa makan. Kamu tahu Abang enggak bisa makan kalau masih kepikiran sesuatu hal,” Ilham memang seperti itu. Dan Ririen tahu soal sifat abang angkatnya ini.
__ADS_1
“Aku harus gimana Bang? Ada pesan dari perempuan yang bilang dia tidur ama Putra. Saat itu Putra memang pergi ke hotel karena undangan pergantian pengurus. Tapi ternyata aku terima foto Putra masuk ke kamar hotel. Dan ada juga foto Putra bertelanjang dadda. Kalau meeting ‘kan enggak bakal buka baju Bang.” Ririen mengawali ceritanya untuk Ilham.
“Belum lagi sepulang dari hotel Putra enggak kerja. Dia bilang mau tidur aja karena cape. Padahal kalau pun kami bertempur semalaman, sejak muda Putra enggak pernah jadi malas seperti kemarin,” Ririen menghapus air matanya.
“Abang bisa lihat foto-foto itu?” tanya Ilham. Dia bingung harus berpendapat apa.
“Sejak tadi aku matikan ponselku. Aku tak mau Putra menghubungiku,” jawab Ririen.
“Sini ponselmu, Abang keluarkan dulu kartunya. Baru kita nyalakan ponselmu itu.” Ilham berharap semua memory tersimpan di ponsel bukan dikartu.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta